SBY dalam Dilema Legitimasi
 
Herdi Sahrasad
14/04/2009 - 15:58
http://www.inilah. com/berita/ politik/2009/ 04/14/98754/ sby-dalam- 
dilema-legitimas i/
 
INILAH.COM, Jakarta - Bahkan, jika terpilih sebagai Presiden 2009-14 sekalipun, 
Susilo Bambang Yudhoyono bakal menghadapi dilema tersendiri. Legitimasinya 
dipertanyakan menyusul daftar pemilih tetap (DPT) yang amburadul. Bagaimana 
sikap SBY? 
 
Banyak pihak menilai, Pemilu 2009 adalah yang terburuk sepanjang Orde 
Reformasi. Penilaian itu tak hanya disuarakan analis, tapi juga para politisi 
(yang kalah atau dikalahkan). DPT amburadul, KPU yang tidak netral, hingga 
Baswaslu yang membiarkan pelanggaran.
 
Melihat buruknya sistem Pemilu, analis politik menilai Pemilihan Presiden 2009 
menghadapi problem legitimasi yang berat. Jika SBY terpilih kembali sebagai 
presiden, dia masih menghadapi krisis merosotnya kepercayaan publik (public 
trust) yang terus membayangi. 
 
Budiarto Shambazy, dosen FISIP UI dan jurnalis senior Kompas sangat khawatir 
dengan masalah legitimasi SBY jika terpilih kembali. Sebab, secara moral, SBY 
juga harus bertanggung jawab terhadap Pemilu yang buruk.
 
Dilema lainnya adalah jika kaum cendekiawan, tokoh agama dan masyarakat 
mendorong SBY untuk tidak mencalonkan diri lagi, dianggap tidaklah elok dan 
bijaksana. Namun jika membiarkan SBY maju lagi dan menang, dia hampir pasti 
menghadapi problem legitimasi yang terus membayangi pemerintahannya meskipun 
TNI dan Polri solid di belakangnya. 
 
Budi Shambazy mengingatkan persoalan yang sama juga terjadi di Thailand. 
Angkatan Bersenjata Thailand solid, namun krisis legitimasi telah mendorong 
perlawanan rakyat yang kecewa dan frustrasi dengan pemilu curang. Mereka 
kemudian nekat demo dan menimbulkan huru-hara yang menciptakan destabilisasi 
dalam negeri. 
 
"Di negeri kita, angka golput yang melonjak tajam, pemilu buruk dan penuh 
masalah, ditambah dengan perekonomian rakyat yang tak membaik, merupakan 
kombinasi faktor-faktor yang bisa membuat Indonesia mengalami krisis politik 
seperti Thailand," kata Budi.
 
Para analis memprediksi, jika dalam 6-12 bulan pertama pemerintahan kedua SBY 
ternyata perekonomian memburuk, hampir pasti ada ancaman instabilitas. 
Demokrasi Indonesia sangat mungkin mengalami krisis seperti Thailand. Berbagai 
gelombang protes dan huru-hara silih berganti menimbulkan destabilisasi.
 
Berkaca pada Pemilu 2004 yang berhasil baik dengan cara menggunakan DPT 
berdasarkan data Biro Pusat Statistik (BPS) yang relatif independen, dalam 
pilpres nanti sebaiknya pemerintah dan KPU menggunakan BPS kembali untuk 
menyusun perbaikan DPT. Namun itupun tak bisa jadi jaminan bahwa soal 
legitimasi bisa dituntaskan. "Rakyat sudah kadung kecewa, terutama para elite 
politik puluhan parpol yang merasi kecurangan ini sistematis," katanya.
 
DPT yang amburadul, tak pelak, adalah sumber kisruhnya Pemilu. DPT yang kacau 
membuat banyak orang kehilangan haknya untuk memilih. Padahal, penghilangan hak 
pilih rakyat secara sistematis, adalah pelanggaran HAM. Kesemrawutan ini bisa 
saja menjadi aib di dunia demokrasi internasional.
 
Itu pula yang memunculkan usulan agar DPT tak lagi bersumber dari data 
kependudukan dari Departemen Dalam Negeri. DPT sebaiknya bersumber dari data 
BPS. Atau, ada pula yang mengusulkan, pada Pilpres nanti, pemilih cukup 
menunjukkan KTP saja.
 
"Mungkin saja bisa mengkombinasikan data BPS dan penggunaan KTP untuk melakukan 
pemilu. Yang penting ada saling percaya, mutual trust di kalangan elite politik 
yang bersaing agar masing-masing tokoh -baik yang status quo maupun lawannya- 
bisa maju ke pilpres," kata Umar S Bakry, Direktur LSN. [I4]
 




      

[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke