http://www.republika.co.id/berita/43949/Presiden_Anggaran_2009_dan_2010_Harus_Berkesinambungan

Presiden : Anggaran 2009 dan 2010 Harus Berkesinambungan

"Mari kita berpikir RKP APBN 2009 dan RKP APBN 2010 dalam satu kesatuan, 
keutuhan karena dalam dua tahun ini pada prinsipnya kebijakan kita adalah 
`economy recovery`. Jangan dilihat 2009 sendiri dan 2010 sendiri," kata 
Presiden saat memberikan pengarahan pada para menteri yang hadir.

Kepala negara menambahkan beberapa hal yang harus diingat selain keduanya harus 
saling berkaitan, juga harus memahami situasi yang tengah dihadapi. Yudhoyono 
menambahkan pilar APBN yang disusun harus berdasar pada stimulus pertumbuhan 
ekonomi dan jaring pengaman sosial.

"Disebut-sebut kemarin defisit APBN 2010 mencapai 1-1,3 persen silahkan 
lanjutkan karena tanpa `growth stimulation` tidak akan bergerak kembali. Namun 
juga harus diperhatikan keberlanjutan fiskal jangka sedang dan ketersediaan 
sumber pendanaan untuk menutupi defisit, jangan sampai di luar kendali," 
tegasnya.

Sementara itu dalam keterangan pers usai sidang kabinet paripurna, Plt Menko 
Perekonomian Sri Mulyani Indrawati kepada wartawan mengatakan postur RAPBN 2010 
akan terdiri dari perkiraan penerimaan sebesar Rp871,9 triliun dan total 
belanja sebesar Rp949,1 triliun.

"Maka defisit diperkirakan mencapai Rp 77,1 triluiun atau 1,3 persen dari GDP, 
ini sudah mengamodasi belanja untuk stimulus ekonomi termasuk penurunan tarif 
pajak badan yang akan terjadi pada 2010," katanya.
Ia mengatakan pada 2010 mendatang pemerintah masih menjalankan sejumlah 
kebijakan untuk mendorong masyarakat dan dunia usaha menghadapi kondisi 
keuangan global dengan berbagai kebijakan seperti PNPM, Jamkesmas dan BOS.

Untuk mendorong usaha kecil dan menengah, pemerintah tetap mengalokasikan 
kredit usaha rakyat (KUR)."Pemerintah juga tetap berkomitmen untuk menjalankan 
kebijakan anggaran 20 persen dari APBN bagi pendidikan dan melanjutkan program 
tunjangan bagi guru dan dosen sesuai dengan undang-undang pendidikan," tegasnya.

Ia menambahkan pada 2010 juga akan dijaga belanja modal dengan belanja yang 
sifat non produktif seperti belanja rutin.

"Kita akan dorong semaksimal mungkin belanja modal dengan tujuan stimulasi 
ekonomi. Stimulus ekonomi, meski 2010 tidak dianggarkan terpisah namun program 
terus dievaluasi efektivitasnya," kata Sri Mulyani.

Sementara untuk kebijakan anggaran pengadaan alat utama sistem senjata 
(Alutsista), Sri Mulyani menjelaskan Presiden Yudhoyono meminta agar 
perencanaan dan anggarannya diperbaiki sehingga TNI dan Polri secara bertahap 
mencapai titik kemampuan untuk mempertahankan kedaulatan negara.

"Terkait dengan pembahasan belanja TNI dan Polri, alutsista, Presiden minta 
belanja tersebut dari alokasi juga dari sisi perencanaan dan anggarannya untuk 
dipebaiki dan efesie. Selain jumlah belanja juga yang penting dari komitmen 
bisa mencapai titik TNI dan Polri minimum essential force," katanya.

Pemerintah, masih menurutnya akan memformulasikan berbagai kebijakan fiskal dan 
dikombinasikan dengan kebijakan non fiskal seperti perdagangan, industri dan 
moneter sehingga bisa sinkron dan mendorong ekonomi dalam negeri ke arah yang 
positif.

Sidang kabinet peripurna tersebut dihadiri oleh seluruh menteri anggota kabinet 
Indonesia Bersatu, juga Panglima TNI Jenderal Djoko Santoso, Kapolri Jenderal 
Bambang Hendarso Danuri dan Jaksa Agung Hendarman Supandji.ant/kpo



      

[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke