Tertipu Pelatihan Menulis
Apr 16, '09 12:34 PM
by Kang Arul for everyone
(dari Multiply)
Alkisah, seorang guru bijak yang tinggal di kaki bukit didatangi oleh seseorang
"Kamu mau belajar?" tanya sang guru.
"Iya, saya ingin menjadi lebih baik," jawab orang tersebut.
Kemudian sang guru mengeluarkan batu dari dalam sakunya, lalu, "Pergilah ke
pasar, dan juallah batu ini!" perintahnya.
Orang itu mengangguk dan langsung pergi disertai dengan harapan bila usahanya
berhasil dirinya akan menjadi murid dari sang guru yang terkenal dengan
kebijaksanaannya tersebut.
Namun, apa yang didapatinya ketika di pasar?
"Ah, masak batu ini saja dijual."
"Dikasih saja saya tidak mau."
"Batu jelek. Buat apa. Paling buat nimpuk anjing."
Dengan perasaan kecewa, dia pun kembali ke kaki bukit dan melaporkan kepada
sang guru. "Bagaimana mungkin saya bisa menjualnya guru?" tanyanya pelan,
"bahkan saya sendiri tidak yakin ini batu apa."
Sang guru tersenyum, "Cobalah ke balik bukit ini dan jual batu tersebut minimal
10 dirham."
Kening sang calon murid berkerut. Sepuluh dirham? batinnya aneh.
Tapi karena dia ingin belajar dari sang guru, perintah itu pun dijalaninya.
Betul saja, dibalik bukit batu itu tiba-tiba saja banyak orang di pasar menawar
batu tersebut; tidak 10 dirham, tetapi sampai 1.000 dirham.
Dengan masih menyimpan tanda tanya, dia pun pulang. "Kok bisa?" tanyanya
singkat pada sang guru.
Sang guru pun menjawab, "Itu karena... "
***
Keinginan untuk belajar menulis, menghasilkan karya yang dipublikasikan di
media, menerbitkan buku, dan memutuskan menjadi penulis merupakan keinginan
setiap orang. Tidak ada orang yang lahir langsung tertulis di keningnya bahwa
dia akan menjadi seorang penulis.
Dan untuk mewujudkan hal tersebut, salah satu yang bisa dilakukan adalah
mengikuti 'Pelatihan Menulis'. Tentu saja dengan harapan bahwa setelah selesai
dengan pelatihan tersebut keinginan menjadi penulis bisa diwujudkan; setidaknya
sudah mulai bisa menulis yang baik.
Tapi, pernahkan kita berpikir bahwa sebenarnya pelatihan menulis yang diikuti
ternyata tidak menghasilkan apa-apa? Menghamburkan uang untuk membayar biaya
pelatihan menulis? Tertipu dengan janji-janji muluk institusi/perorangan yang
menggelar pelatihan menulis dengan promosi gila mereka? Celakanya lagi, kita
sering tidak sadar bahwa sebenarnya kita adalah korban dari penipuan pelatihan
menulis itu sendiri?
Kok bisa? Ya, dalam kehidupan ini apa sih yang tidak bisa.
Pernahkah Anda membawa sepeda motor Anda ke apotik karena mogok? Tentu tidak,
bukan? Karena apotik bukan bengkel motor yang menyediakan semua peralatan yang
bisa memperbaiki motor Anda.
Analogi yang sama berlaku bagi Anda yang tidak ingin tertipu dengan pelatihan
menulis. Percayakah Anda bahwa Anda akan bisa menerbitkan buku sementara
fasilitator pelatihan menulis itu sendiri tidak pernah menerbitkan buku atau
baru satu kali menerbitkan buku? Percayakah Anda bahwa Anda akan bisa menulis
artikel yang menarik setelah dibimbing oleh pemateri pelatihan menulis yang
ternyata tidak pernah sekali pun menulis artikel di media? Atau, yakinkan Anda
akan kaya dari menulis bila Anda mengikuti pelatihan menulis yang mentornya
sendiri pun tak punya laptop?.
Ya, di dunia literasi belakangan ini banyak beredar pelatihan menulis dan juga
buku-buku yang meniupkan angin surga. Menjanjikan bahwa semua peserta dengan
bayaran tertentu akan bisa menjadi penulis hebat, bukunya best seller, dan
bahkan menjadi kaya hanya dari menulis.
Ya, sekarang banyak (yang mengaku dirinya) penulis tidak malu-malu
memproklamirkan diri mereka sebagai penulis handal dan hebat sebagai mentor
kepenulisan. Menggelar pelatihan menulis buku best seller sedangkan bukunya
sendiri nggak lebih dari seribu yang terjual. Membuat pelatihan agar jadi
penulis terkenal sementara mendengar namanya saja banyak yang tidak pernah.
Menggeber acara agar mampu menembus penerbit sementara dia sendiri
berdarah-darah bahkan tidak pernah bisa menembus penerbit. Menebar kegiatan
kepenulisan sementara dia sendiri tidak tahu metoda apapun untuk melakukan
kegiatan tersebut.
***
"Karena apa guru?" Sang calon murid masih saja penasaran.
Sang guru mengusap jenggotnya yang memutih.
"Guru?" desak sang calon murid lagi.
"Apa pendapatmu pertama kali melihat batu itu?" Sang guru malah bertanya.
Maka sang calon murid pun membeberkan pendapat negatif dan pesimisnya soal batu
tersebut. Namun, yang masih membuatnya tidak mengerti, "Tapi kenapa batu itu
malah laku dan mahal pula?"
Sang guru tersenyum, "Itu karena di balik kemasan batu yang hitam dan kusam
tersebut, batu itu sebenarnya adalah berlian."
"Berlian?" sang calon murid pun ternganga.
"Ya, kalau tidak tahu apa isinya dan tertipu dengan penampilannya, maka
percayalah selamanya batu tersebut tidak berharga sama sekali."
Sang calon murid pun merenung dengan dalam.
***
Tentunya, Anda tidak ingin mendapatkan batu yang tidak ada isinya bukan?
Apalagi setelah mengeluarkan tenaga, pikiran, mengorbankan waktu, dan bahkan
mengeluarkan sejumlah uang untuk harapan yang besar ternyata Anda malah menjadi
korban penipuan. Ugh, gak, deh.
Nah, agar Anda tidak salah langkah dalam mengambil keputusan pelatihan menulis
mana yang harus Anda ikuti, beberapa tips berikut mungkin bisa menjadi bahan
pertimbangan;
Pertama, perhatikan siapa fasilitator/mentor/pemateri pelatihan menulis
tersebut. Ingat, Anda tidak mungkin belajar kimia dengan guru Bahasa Indonesia
bukan? Nah, penting bagi Anda mengetahui bagaimana rekam jejak si pemateri
tersebut. Cari informasi berapa banyak buku yang sudah dihasilkannya, berapa
kali bukunya best seller, berapa kali tulisannya di muat di media, berapa kali
profilnya diliput media, hingga betulkah dia masih menjadi penulis atau
jangan-jangan buku terakhir yang ditulisanya hanya satu-dua dan itu pun sudah
lima tahun yang lalu.
Kedua, mungkin Anda harus mempertimbangkan ulang jika
fasilitator/mentor/pemateri memang penulis atau praktisi perbukuan yang hebat.
Loh, kenapa? Ingat dia mungkin penulis buku-buku best seller, tetapi dia
bukanlah mentor yang baik. Dia mungkin praktisi industri perbukuan yang
terkenal, tetapi belum tentu dia bisa mentransformasikan ilmunya kepad orang
lain. Dia mungkin penulis handal, namun bisa jadi Anda tidak akan mengerti
satupun perkataannya selama menjadi pembicara. Setiap orang bisa menjadi guru,
tetapi hanya orang-orang tertentu yang betul-betul bisa mengelola pembelajaran
dengan baik.
Ketiga, bijak dalam mengeluarkan uang untuk mengikuti pelatihan. Jika ada yang
gratis, kenapa harus yang bayar? Banyak penulis profesional yang mau membagi
ilmunya secara gratis; Anda tidak perlu bertanya langsung kepada sang penulis
profesional tersebut, cukup buka blognya dan yakinlah mereka tidak segan-segan
membagi ilmu di laman jaringan pertemanan sosial tersebut. Kalaupun Anda harus
mengeluarkan uang, perhatikan dengan teliti apakah pelatihan tersebut memang
layak untuk dibayar. Tanya kepada mereka yang sudah pernah mengikuti pelatihan;
bagaimana hasilnya? Bisa menulis? Bisa menerbitkan buku? Metodenya pas?
Keempat, jangan tertipu dengan angin surga promosi pelatihan menulis. Strategi
marketing communications adalah menebar jaring selebar-lebarnya untuk
mendapatkan klien. Nah, salah satu cara yang sering dilakukan adalah dengan
bujuk rayu yang menggiurkan. Anda harus cermat menelan promosi tersebut,
lakukan pengecekan, dan teliti sejauhmana promosi itu menjadi kenyataan.
Kelima, Anda sendiri jangan terlalu berharap banyak setelah mengikut pelatihan.
Pelatihan menulis merupakan salah satu cara untuk memperkaya wawasan Anda.
Selebihnya tergantung pada sebeberapa kuat Anda belajar, belajar, dan belajar
menulis.
***
"Jadi guru, bagaimana dengan nasib saya? Apakah saya sudah diterima menjadi
murdi guru?" tanya sang calon murid.
Sang guru berdiri, dia pun berkata sebelum beranjak pergi, "Kan pelajarannya
sudah selesai."
[Non-text portions of this message have been removed]