From: Abdul Rohim <[email protected]>
Subject: [dpr-indonesia] Rekonstruksi Aceh dan Kejahatan Global
To: 
Date: Saturday, April 18, 2009, 2:34 AM















 Rekonstruksi Aceh dan Kejahatan Global 
Oleh Teuku Kemal Fasya Ketua Komunitas Peradaban Aceh 
 
P ADA 16 April tahun ini Badan Reha bilitasi dan Rekonstruksi (BRR) Aceh Nias 
mengakhiri tugasnya. Walaupun telah pergi, lembaga ini masih mening galkan 
problem pascapembangunan. Luka rekonstruksi kita tinggal sebagai pesan yang 
perlu dibaca. Pada 3 April lalu, LSM Greenomics mengadukan BRR ke Komnas HAM 
karena telah mengabaikan hak-hak korban tsunami. Pengangkangan hak-hak korban 
yang paling banyak dijumpai pada program perumahan; seperti pembangunan asal 
jadi, korban sejati tidak mendapatkan rumah, malah nonkorban mendapatkan 
bantuan atau lebih dari satu rumah. 
Pelbagai masalah itu muncul karena sejak awal BRR tidak mampu menjadi lembaga 
yang mendampingi korban dengan pendekatan partisipatif. BRR lebih terlihat 
sebagai organisasi bisnis yang mengordinasikan ratusan megaproyek. 
Meski telah menghabiskan anggaran US$6,7 miliar termasuk Rp23,83 triliun dari 
APBN, kinerja lembaga itu jauh dari memuaskan. Bersama 500 lembaga lain, lokal 
dan internasional, lembaga-lembaga bantuan di Aceh telah membelanjakan lebih 
Rp100 triliun dalam empat tahun terakhir. Bank Dunia termasuk pendukung dana 
terbesar. 
Korporatokrasi Apa yang terjadi di Aceh selama ini adalah epidemi politik 
bantuan yang hadir ketika bencana dan pembangunan menimpa dunia (ketiga). 
Fenomena itu disebut John Perkins dengan istilah korporatokrasi: kerajaan 
korporasi multinasional, sebagian besar digerakkan dari Amerika Serikat, 
bertujuan pada keuntungan secepatnya, dan meninggalkan polusi kerusakan akibat 
bisnisnya (The Secret History of the American Empire, 2007). 
Secara khusus Perkins merujuk proyek pascabencana tsunami di Aceh. Menurutnya, 
proses korporatokrasi di Aceh telah berjalan sebelum bencana, ketika pemerintah 
Indonesia diam-diam berunding dengan Gerakan Aceh Merdeka (GAM). Bencana 
tsunami seperti berkah tersembunyi. Mesin-mesin kekuasaan uang global memacu 
lembaga inisiator perdamaian untuk secepatnya menghasilkan kesepakatan. GAM 
sendiri tidak memiliki opsi lain, apalagi ketika Washington mengubah kebijakan 
embargo militer di masa pemerintahan Clinton terhadap Indonesia. Bencana telah 
mengubah seluruh peta perang dan mundur ke masa ketika eksploitasi gas 
dilakukan Exxon Mobil pada 1970-an: modus utama mengapa Aceh memberontak. Kali 
ini dengan label bantuan kemanusiaan. 
Pembentukan BRR juga bagian dari skenario itu. Bank Dunia dan multidonor yang 
mendukung kelahiran BRR membutuhkan postur lembaga yang bisa menjamin misi 
mereka berjalan tanpa terganggu gerakan sosial. Karena itu, pembentukan BRR 
yang dijamin UU No 10/2005 cukup resisten dengan gelombang demonstrasi, 
meskipun tidak berkurang dari tahun ke tahun jumlahnya. 
Korporatokrasi ini bekerja dalam skala luas untuk proyek-proyek vital seperti 
pembangunan jalan, bandara, pelabuhan, dan perkantoran. Per 1 Januari 2009 BRR 
menyatakan telah menyelesaikan 3.500 km jalan, 273 jembatan, 12 bandara, dan 20 
unit pelabuhan di samping 133 ribu rumah. Lebih 80% anggaran terserap untuk 
proyek itu dengan keterlibatan korporasi asosiasi negara secara langsung (bukan 
hanya penyedia dana, tetapi juga konsultan dan kontraktor induk). Pembangunan 
jalan Banda Aceh-Calang dikave ling USAID (Amerika), jalan Calang-Meulaboh oleh 
JICS (Jepang), Pelabuhan Meulaboh oleh Singapura, Pelabuhan Malahayati oleh 
Belanda, Pelabuhan Ulee Lheu oleh AusAID (Australia), rumah sakit Banda Aceh 
oleh Jerman, rumah sakit Calang oleh Spanyol, dan lain-lain. Program 
sertifikasi agraria yang didanai Bank Dunia dengan nama RALAS (Reconstruction 
of Aceh Land Administration System) menjadi jalan bisnis paling komplet karena 
setiap inci tanah Aceh telah terukur
 nilainya. 
Pembangunan infrastruktur skala luas menjadi bukti bahwa korporatokrasi tidak 
mengindahkan keselamatan lingkungan dan martabat masyarakat lokal. Keperluan 
terhadap kayu dalam jumlah besar telah mengakibatkan terbukanya hutanhutan 
Aceh. Jika sebelum 2003 penebangan hutan 'hanya' 33 ribu ha per tahun, sejak 
2005 Aceh mengalami deforestasi 220 ribu ha per tahun. Hingga saat ini hampir 1 
juta hektare hutan Aceh telah dirambah atau rusak parah. Pertahanan ekosistem 
Leuseur sejak Kesepakatan Tapaktuan tujuh dekade lalu, antara masyarakat adat 
hutan dan pemerintah Hindia Belanda yang menolak eksplorasi minyak dan mineral 
di hutan adat Gunung Leuseur-–cikal bakal Taman Nasional Gunung Leuseur--bobol 
sudah. 
Pembawa acara Radio Expedition, Michael Sullivan membuat laporan setelah 
melihat langsung nasib hutan tropis terkaya se-Asia ini, "Perdamaian akhirnya 
membuat tekanan pada hutan meningkat. Ancaman terbesarnya melebihi penebangan 
kayu tropis dan perkebunan sawit, yaitu jalan raya. Pascatsunami diketahui 
bahwa sejumlah perusahaan permesinan dan konstruksi AS melobi Bank Dunia dan 
lembaga donor lain untuk membangun jalan raya yang akan menguntungkan industri 
minyak dan kayu ke depan" (M Sullivan, The Green Heart of Sumatera, 14/7/2006). 
Sebagian misteri terbuka, mengapa jalan Banda Aceh–Meulaboh yang sebelumnya 8 
meter harus dibangun selebar 25 meter. 
Perangkap baru Berakhirnya peran BRR di Aceh bukan berarti skenario 
korporatokrasi juga akan berhenti. Pembentukan lembaga baru yang melanjutkan 
sisa rekonstruksi dengan anggaran Rp2,9 triliun harus mampu menyembuhkan 
paradigma pembangunan. 
Level penderitaan yang dirasakan masyarakat terbawah dari program 
korporatokrasi akan berlanjut jika masih berjalan dengan rel pembangunan 
infrastruktur dan bukan kepada manusia. Aset terbaik adalah manusia dan 
lingkungan lestari, bukan bangunan. 
Tiga hal yang perlu dilakukan adalah kesejahteraan bagi komunitas penopang 
ekonomi riil dan lingkungan (petani, nelayan, komunitas hutan, pedagang kecil), 
rekonservasi dan penyelamatan hutan, serta akses pendidikan dan informasi bagi 
penduduk lokal. Ketiga hal itu terutama yang terakhir akan memberikan harapan 
dan kesadaran politik-intelektual masyarakat lokal untuk menentang kekuasaan 
korporasi bantuan yang sebenarnya lebih banyak menyebar racun berbisa jika 
dibandingkan dengan madu surga. Kesejahteraan ekonomi dan kualitas pendidikan 
adalah hal yang paling tertinggal dari proses rekonstruksi Aceh. 
Tanpa harus menunggu politik bantuan semakin menjorokkan masyarakat ke arah 
keserakahan dan materialisme, sudah seharusnya skema Bank Dunia-isasi 
ditinggalkan dan percaya pada kekuatan komunitarianisme lokal. Perlu tumbuh 
kesadaran untuk mereproduksi bantuan dan bukan mengonsumsinya mentahmentah. 
Meninggalkan pola westernisasi, gaya hidup, dan gaji berlimpah yang menyebabkan 
kesenjangan sosial dan kembali ke local wisdom. 
http://anax1a. pressmart. net/mediaindones ia/MI/MI/ 2009/04/17/ ArticleHtmls/ 
17_04_2009_ 024_004.shtml? Mode=1
http://media- klaten.blogspot. com/
 
http://groups. google.com/ group/suara- indonesia? hl=id
 
salam
Abdul Rohim
















      

[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke