Setahu saya yang ada Demokrasi dan Teokrasi (Pemerintahan Tuhan). Kalau 
Teodemokrasi mungkin istilah baru.

Dalam Sistem Demokrasi saat ini memang ada banyak kekurangan:

1. Boleh dikata 99% pemilih tidak tahu siapa itu calon pemimpin yang mereka 
pilih. Dari 171 juta pemilih, paling hanya 10..000-100.000 orang yang mengenal 
baik SBY, Mega, atau Prabowo. Sisanya lebih dari 170 juta tidak. Akibatnya 
mereka tidak tahu apakah pemimpin itu baik atau tidak.

2. Suara seorang ulama besar nilainya sama dengan seorang penjahat. Suara 
seorang profesor yang ahli nilainya sama dengan seorang yang bodoh dan buta 
huruf. Padahal jumlah orang pintar itu paling kurang dari 10%. Mayoritas 80% 
lebih boleh dikata awam. Jadi hasilnya adalah pemimpin pilihan orang awam.

3. Memakan biaya besar hingga bikin stress caleg/capres. Kalau berhasil juga 
kalau tidak korupsi akan kerja bakti mengembalikan pinjaman. Biaya KPU saja Rp 
47 trilyun lebih. Digabung dgn biaya para caleg dan capres bisa mencapai Rp 200 
trilyun lebih dengan hasil yang amburadul.

Oleh karena itu ada baiknya cara memilih pemimpin sbb:
1. Rakyat memilih ketua RT yang biasa mereka temui sehari2
2. Para ketua RT bermusyawarah memilih Ketua RT yang pantas jadi Ketua RW 
(Incumbent Ketua RW juga boleh).
3. Ketua RW nanti memilih Lurah
4. Lurah memilih Camat
5. Camat memilih walikota/bupati
6. Walikota/Bupati memilih gubernur
7. Gubernur memilih presiden

Ini pernah diusulkan oleh satu miliser.

Harusnya yang memilih mengetahui benar yang dipilih. Bukan cuma ngobrol 2-3 
kali, tapi berkali2 jadi benar2 tahu sifatnya.

Saat ini yang dipilih oleh rakyat adalah Ketua RT, RW, Walikota, Gubernur, dan 
Presiden. Hanya Lurah dan Camat yang tidak.

Jadi harusnya sistem di atas bisa berjalan dgn biaya lebih murah dan hasil 
lebih baik karena yang memilih tidak mungkin dibohongi oleh yang dipilih.

===

Paket Umrah 2009 Mulai US$ 1..1490

ONH Plus (Haji Khusus) Mulai US$ 5.900

Informasi selengkapnya ada di:

http://www.media-islam.or.id

Ingin belajar Islam?

Kirim email ke: [email protected]





Jual Rumah Baru di Otista Kampung Melayu Jakarta Timur Rp 650 juta. Info: 
http://agusnizami.wordpress.com

--- Pada Sen, 20/4/09, nuim hidayat <[email protected]> menulis:

Dari: nuim hidayat <[email protected]>
Topik: [JMP] Demokrasi vs Teodemokrasi
Kepada: "insistnet" <[email protected]>, "profetik" 
<[email protected]>, "mantan-ldk" <[email protected]>, "Herry 
Mohamad" <[email protected]>, "nuimhidayat" <[email protected]>, 
"nasihin2005" <[email protected]>
Tanggal: Senin, 20 April, 2009, 7:56 PM











    
            
            


      
      

Jumat, 2009 April 10

Demokrasi vs Teodemokrasi 

Demokrasi vs Teodemokrasi
Catatan untuk Syafii Maarif dan Azyumardi Azra
Oleh: Nuim Hidayat

Azyumardi Azra dalam Resonansinya di Republika 25 September 2008, meski 
mengritik demokrasi, Azra nampak tetap mengagungkan demokrasi. Hal itu terlihat 
dari rasa gembiranya ikut serta dalam Hari Demokrasi Internasional. Ia 
menyatakan: “Saya beruntung ikut terlibat dalam sebuah 'percakapan meja bundar' 
menyambut Hari Demokrasi Internasional itu di New York pada 12 September 2008. 
Percakapan ini diselenggarakan International IDEA (Institute for Democracy and 
Electoral Assistance), UNDP, dan UN DPA dengan menghadirkan sejumlah pembicara 
dan pembahas yang merupakan pemikir dan aktivis demokrasi terkemuka di berbagai 
penjuru dunia.


'Percakapan meja bundar' ini bertitik tolak dari kepedulian tentang kaitan 
antara demokrasi dan pembangunan, sebaliknya antara pembangunan dan demokrasi. 
Memang, dalam beberapa kasus, pertumbuhan demokrasi tidak selalu berjalan 
seiring dengan pembangunan ekonomi dan sosial. Bahkan, terlihat demokrasi yang 
memunculkan berbagai konsekuensi yang tidak terduga (unintended consequences) 
dan ekses-ekses telah menghambat pembangunan. Kasus ini terlihat jelas, 
misalnya, dalam pengalaman Indonesia di masa sepuluh tahun penerapan demokrasi 
multipartai yang mengakibatkan terjadinya 'pelambatan'' dalam pembangunan 
ekonomi dan sosial.”


Hal yang sama juga nampak pula dalam diri Syafii Maarif. Dalam artikel 
Resonansi Republika 12 Agustus 2008, Syafii Maarif nampak pula memuji habis 
demokrasi. Menurutnya belum ada satupun sistem di dunia ini dalam era sekarang, 
yang menandingi demokrasi. Ia menyatakan: “Kesulitan kita dengan era modern 
adalah kenyataan peradaban umat manusia sampai detik ini belum menemukan sistem 
yang lebih baik dan lebih unggul dari demokrasi.”


Selain itu Maarif juga menguraikan tentang cacat demokrasi di negara kita. 
Khususnya perilaku elite politik yang jor-joran meraup kekayaan negara dan 
sistem pemilihan langsung yang nilainya mengerikan, yaitu sampai 400 trilyun. 
Kemudian dia bertanya sendiri, apakah mungkin sistem demokrasi ini diganti? 
Jawab Maarif: “Demokrasi harus bertahan karena itu pilihan kita sejak awal. 
Yang harus digugat secara keras adalah pelaku demokrasi yang semakin teler, 
menjadi penikmat demokrasi, sebuah pengkhianatan politik yang harus segera 
demokrasi.”


Kita tentu saja setuju dengan gagasan Azra dan Maarif untuk menghilangkan 
borok-borok demokrasi negara kita. Tapi pertanyaannya apakah sistem demokrasi 
kita saat ini bisa menghilangkan perilaku korup, biaya hura-hura pemilu dan 
biaya iklan pemilu saat ini? (Seorang calon presiden saja saat ini menyewa 
konsultan dan mengontrak iklan di TV untuk mem-push dirinya ditulis media massa 
kontraknya sampai 300 milyar!) Terus terang saya sangat meragukan. Karena 
demokrasi punya cacat bawaan sejak lahir. Dalam perjalanan sejarah demokrasi 
hanya menguntungkan segelintir elit tertentu atau paling jauh negara-negara 
tertentu. 


Sistem politik yang ideal adalah sistem teodemokrasi bukan sistem demokrasi. 
Teodemokrasi adalah gagasan yang diluncurkan oleh tokoh-tokoh Islam, antara 
lain Abul A’la al Maududi, Mohammad Natsir dan Yusuf Qaradhawi. Ketiga tokoh 
ini setuju konsep teodemokrasi dan menolak konsep Teokrasi, sebuah konsep 
bentuk negara yang lahir dari sejarah kekuasaan gereja. Maududi, Natsir dan 
Qaradhawi mengajukan konsep Teodemokrasi (Natsir menyebutnya demokrasi Islam), 
karena melihat ada keliaran dan cacat bawaan sistem demokrasi, seperti yang 
kita rasakan sekarang. Meski seolah-olah mirip antara demokrasi dan 
teodemokrasi, tapi ibaratnya bagai ibarat api dan air. 


Konsep demokrasi dan teodemokrasi ini, mirip perbedaannya dengan konsep jual 
beli dan riba. Zina dan nikah. Jual beli ada keridhaan antara penjual dan 
pembeli, sedangkan riba ada kezaliman yang terjadi antara ‘periba’ dan yang 
‘diribai’. Riba menjadikan masyarakat dipenuhi kezaliman, sedangkan perdagangan 
menjadikan masyarakat kreatif dan berkeadilan. Begitupula zina, meski keduanya 
ada kesamaan hubungan biologis di sana, tapi ada perbedaan mendasar. Zina tidak 
ada syarat-syarat lafadz ijab kabul, saksi dan wali, sedangkan nikah mesti ada 
syarat-syarat itu. Zina hanya berkeinginan nikmat sesaat belaka. Sedangkan 
nikah selain ada kenikmatan juga ada tujuan melahirkan dan mendidik anak-anak 
saleh. Zina mengakibatkan masyarakat hedonis dan hura-hura dan meruntuhkan 
keluarga, sedangkan pernikahan membawa dampak ketenangan keluarga dan 
masyarakat. 


Maka, demokrasi bukanlah sistem final bagi umat manusia. Para ulama telah 
mengajukan konsep teodemokrasi. Dimana seolah-olah konsep ini mirip demokrasi, 
tapi sebenarnya jauh panggang dari api. Di dalam teodemokrasi, kebenaran dari 
wahyu adalah utama. Sedangkan dalam demokrasi, kebenaran bersumber dari akal 
semata. Dalam demokrasi rakyat yang berdaulat, dalam teodemokrasi Tuhan yang 
berdaulat. Dalam teodemokrasi rakyat berkuasa, tapi kedaulatan di ‘tangan 
Tuhan’. Sebab secara kenyataannya rakyat atau manusia tidak punya kedaulatan 
meski terhadap dirinya sendiri. Manusia tidak bisa menciptakan mata, otak, 
syaraf telinga, jantung, dan lain-lain. Bagaimana dikatakan dia berdaulat, 
sementara kepada dirinya sendiri ia tidak berdaulat?


Di dalam teodemokrasi musyawarah diutamakan sebagaimana demokrasi di negara 
kita. Tapi tentu saja dalam teodemokrasi musyawarah tidak boleh terhadap 
hal-hal yang melawan wahyu Allah. Seperti bermusyawarahnya para wakil rakyat 
(seperti di sebagian di negara Barat), membolehkan minum minuman keras asal di 
rumah, tidak di tempat-tempat publik atau di jalanan, karena dikhawatirkan 
menganggu masyarakat. Peraturan seperti ini kan aneh, dibiarkan orang merusak 
dirinya sendiri. Yang tidak boleh hanya merusak orang lain.


Dalam teodemokrasi maka sistem politik dibangun secara jujur untuk kemuliaan 
manusia. Tidak ada kemunafikan disana. Misalnya minuman yang telah terbukti 
membahayakan, maka kepada individu maupun masyarakat dilarang untuk 
mengkonsumsinya. Begitu pula perzinahan. Dimana telah nyata-nyata menghancurkan 
akhlak individu dan meruntuhkan moral masyarakat, maka jelas harus dilarang 
negara. Begitu pula untuk hal-hal lainnya. Begitupula masalah pencurian uang 
rakyat, penghambur-hamburan uang rakyat, tidak mungkin disahkan dalam sistem 
teodemokrasi.


Jadi bila dalam demokrasi, akal bisa mengalahkan wahyu, maka dalam teodemokrasi 
akal mesti tunduk kepada wahyu. Karena logikanya, pembuat wahyu adalah pembuat 
akal manusia. Jadi wahyu bila diterapkan maka akan menerangi akal, tidak 
mungkin menggelapkan akal. Dalam demokrasi, karena sangat mengagungkan akal, 
maka yang terjadi akhirnya akal-akalan. Korupsi diakali bagaimana agar tidak 
ketahuan, tidak ada bukti dan tidak melanggar hukum. Penimbunan suara rakyat 
diakali dengan pemberian bantuan tunai, kredit partai dan lain-lain.


Dalam demokrasi, yang terjadi adalah ‘one man one vote’. Kasarnya meskipun 
makhluk itu setengah manusia, tapi bila dipilih mayoritas maka ia pun terpilih. 
Karena itu, modal kapital, siasat yang seringkali licik, iklan yang kerap 
menipu dan ‘pemolesan lipstik’ kandidat menjadi senjata utama. Seorang calon 
meskipun ia hebat, akhlaknya bagus, manajerialnya hebat dan pemikirannya 
cemerlang, ia tidak akan jadi pemimpin formal bila ia tidak bermodal atau ada 
partai yang memodali. Maka jangan heran, bila di Amerika Presiden George W Bush 
yang jelas-jelas bobrok pribadi dan timnya terpilih dua kali di sana. Di 
Indonesia, demokrasi, terutama pemilihan Kepala Daerah, menjadikan masyarakat 
kelas bawah dan bahkan para kiyai berantem. Di Jakarta, pemilihan Gubernur 
beberapa waktu lalu menjadikan beberapa kiyai dan mubalig saling menfitnah 
kepada kelompok pendukung atau kandidat yang bukan pilihannya.

Dalam Teodemokrasi, meski tidak menafikan pemilu, tapi musyawarah antar tokoh 
masyarakat atau ulama menjadi utama. Bila ada pemilihan kandidat bupati, 
gubernur atau presiden, mestinya tokoh-tokoh itu berembug siapa yang paling 
cakap untuk memimpin masyarakat. Kepentingan individu dalam hal ini mesti 
dikesampingkan. Karena para pemimpin negara itu diangkat untuk mengurus 
masyarakat bukan mengurus orang per orang atau partai per partai. Rasulullah 
saw menyatakan : Imam Al-Hakim meriwayatkan hadits dari Ibnu Abbas r.a. bahwa 
Rasulullah saw. bersabda,”Barangsiap a memilih seorang pemimpin untuk suatu 
kelompok, yang di kelompok itu ada orang yang lebih diridlo’i Allah dari pada 
orang tersebut, maka ia telah berkhianat kepada Allah, Rasul-Nya dan 
orang-orang yang beriman..”

Rasulullah saw., bersabda,”Tiga golongan yang pada hari kiamat kelak tidak akan 
diajak bicara oleh Allah, tidak akan disucikan (dihapus dosa-dosanya) , dan 
bagi mereka siksaan yang pedih. Golongan pertama adalah seseorang yang memiliki 
kelebihan air di jalanan (berumah di pinggir jalan), tapi menolak memberikannya 
kepada ibnu sabil (musafir yang sedang lewat). Golongan kedua adalah seseorang 
yang memilih pemimpin karena si calon memiliki harta. Jika si calon memberi apa 
yang ia inginkan, ia akan memilihnya; jika si calon tidak memberinya sesuatu 
yang berupa materi, si calon tidak dipilihnya. Adapun golongan ketiga adalah, 
seseorang yang menawarkan barang dagangan kepada orang lain di waktu sore hari, 
ia bersumpah atas nama Allah bahwa barangnya telah ditawar sekian, sehingga 
calon pembeli membelinya dengan harga tersebut, padahal tidak pernah ada 
sebelumnya orang yang menawar seperti itu.” (HR Bukhari)



Memang selain ada cacat bawaan, tidak bisa dipungkiri demokrasi juga membuat 
masyarakat Barat lebih maju. Keterbukaan informasi, transparansi, semangat 
bersaing, dan semangat pengembangan teknologi menjadi berkembang pesat. Dalam 
Teodemokrasi hal-hal yang merupakan fitrah manusia ini, tentu tidak akan 
dinafikan. Bahkan semangat untuk pengembangan ilmu, transparansi dan persaingan 
itu diberikan nilai, sehingga memberikan manfaat kepada manusia 
sebear-besarnya. Maka jangan heran di kala peradaban Islam mempengaruhi dunia 
(abad ke-7 sampai abad ke-19), ilmu pengetahuan berkembang pesat. Tidak heran, 
bila budaya tulis, budaya kertas, budaya sastra dan budaya ilmu, dicatat oleh 
sejarah bahwa peradaban Islam lah yang merintisnya.


Kemunafikan demokrasi Barat, juga terlihat, bagaimana dunia Barat memperlakukan 
demokrasi sesuai dengan keuntungan dirinya. Untuk negara-negara Timur Tengah, 
dimana Barat telah menaklukkan penguasanya, maka demokrasi tidak diekspor. 
Karena bila ia ekspor, maka akan memukul dirinya. Barat membiarkan hal-hal yang 
tidak demokratis berlangsung disana. Maka kita ingat bagaimana Barat mendukung 
kelompok militer di Aljazair untuk menghancurkan Partai Islam FIS yang 
jelas-jelas menang pemilu secara demokratis tahun 1991. Juga bagaimana Barat 
menjegal dan memblokade Hamas yang menang Pemilu di Palestina secara demokratis 
tahun 2006. Barat juga sedikit kepeduliannya terhadap nasib-nasib negara 
miskin.. Padahal negaranya ekonominya berkelihan.


Walhasil, di dunia Islam, yang cocok adalah teodemokrasi bukan demokrasi. Dan 
bukan mustahil sistem ini akan terwujud di negeri-negeri Islam. Banyak hal-hal 
yang tak terduga di masa depan. Wallahu aliimun hakiim.* 

-- 
www.nuimhidayat. blogspot. com
"berbuat adil lah, karena adil itu lebih dekat kepada takwa."
"(ulil albab) yang mendengarkan perkataan, lalu mengikuti yang terbaik." 

 

      

    
    
        
         
        
        








        


        
        


      Menambah banyak teman sangatlah mudah dan cepat. Undang teman dari 
Hotmail, Gmail ke Yahoo! Messenger sekarang! 
http://id.messenger.yahoo.com/invite/

Kirim email ke