http://www.dephan.go.id/modules.php?name=News&file=article&sid=8758

*MENHAN AJAK PELAJAR DI INGGRIS TINGKATKAN KEMAPANAN*

*London* - *Menteri Pertahanan RI, Prof. Juwono Sudarsono* mengajak pelajar
dan warga di Inggris untuk memanfaatkan privilege (hak istimewa) yang
dimiliki untuk meningkatkan kemapanan negara menjelang integrasi ASEAN.

Pada saat yang sama mantan Dubes RI untuk Kerajaan Inggris minta agar
pelajar yang tergabung dalam Persatuan Pelajar Indonesia (PPI) UK mengurangi
ketimpangan individu antar warga bangsa, demikian Adiwan Fahlan, Sekjen PPI
UK kepada koresponden Antara London, Selasa.

Dalam diskusi dengan pelajar Indonesia di ruang pertemuan KBRI London,
bertema "Memperkuat Peran Daya Saing Indonesia 2015", Menhan didampingi staf
ahli bidang ekonomi dan perbankan, kerjasama potensi pertahanan dan ristek
dalam nilai-nilai pertahanan (defence value) dan staf bidang pertahanan
trade dan investasi.

Menurut Adiwan Fahlan, kandidat doktoral bidang ekonomi wilayah dan
perdangangan internasional pada University College London (UCL), Inggris,
diskusi diikuti lebih dari 70 warga dan pelajar, kerjasama KBRI London
dengan PPIUK, PPI Manchester, dan PPI London.

Diskusi diawali dengan ceramah Menhan yang menyebutkan bahwa Indonesia akan
memasuki era "perang otak" yang akan dimulai tahun 2015, yakni ditandai
dengan dibukanya integrasi negara-negara ASEAN (Association of Southeast
Asian Nations) secara keseluruhan.

Pada kesempatan ini, Menhan juga memberikan angka-angka statistik yang
sangat penting untuk diperhatikan dalam mempersiapkan persaingan di masa
mendatang.

Menurut doktor alumnus London School of Economics (LSE) ini, pada tahun 2015
Indonesia akan dipadati 215 juta penduduk dan hingga saat ini, dari 230 juta
orang, 34 juta penduduk yang hidup dibawah 2 dolar AS per hari.

Lebih rinci, Menhan juga menjelaskan, tahun 2015 menjadi tahun penting bagi
pemuda karena hingga tahun ini, 76 persen pengangguran terbuka berusia
dibawah 30 tahun.

Dengan memperhatikan fakta-fakta tersebut, menhan menekankan agar pelajar di
UK mampu memanfaatkan kesempatan untuk memperoleh ilmu pengetahuan baik itu
hard science (teknologi, teknik) maupun soft science (sosiologi, budaya)
untuk mempersiapkan diri menghadapi dimulainya era globalisasi tingkat ASEAN
dan dunia.

Selain itu, tiga power perlu pula dikembangkan yakni hardpower, softpower
dan smartpower untuk berkompetisi. Menhan mencontohkan negara RRC yang telah
meresmikan 50 universitas teknik kelas internasional untuk meningkatkan daya
saing dan untuk mencapai ambisi negara tersebut untuk menjadi pemain penting
dalam finansial dunia.

Lebih lanjut, Menhan mengatakan, dulu yang diutamakan adalah semangat
kempemilikan (ownership) namun sekarang adalah semangat kendali (control).

Sebagai contoh, saat ini Singapura dan Malaysia melalui
perusahaan-perusahaannya telah menjadi pemilik perusahaan telekomonukasi,
minyak, dan keuangan lainnya di Indonesia.

Dengan demikian, yang perlu dipikirkan adalah bagaimana agar penduduk
Indonesia memiliki skill yang kompetitif sehingga dapat berada pada posisi
managerial dan menjadi pengambil keputusan pada perusahaan-perusahaan di
Indonesia?

Menhan menyatakan, fokus utama Departemen Pertahanan adalah daya saing
non-militer dan diharapkan pada periode 2009-2014 tahap pemantapan lanjut
dapat dijalankan.

Pada periode ini pula ditargetkan akan terjadi kenaikan PDB sebanyak 4 kali,
peningkatan jumlah orang yang tercukupi meningkat dari 25 juta (dari total
230 juta) menjadi 60 juta (dari total 245 juta), jelas pria yang pernah
menjadi panitia pemilu luar negeri (PPLN) semasa menjalankan studi di
Inggris ini.

Pada sesi tanya jawab, Menhan menjelaskan, Dephan melalui pusat studi
kesehatan di Zeni telah mengkaji studi-studi kesehatan yang terkait dengan
isu pertahanan, seperti bio-terorism.

Pada saat yang sama, ia juga menyatakan hingga saat ini dualime
kewarganegaraan belum dapat dilaksanakan di Indonesia, namun hal ini harus
ditinjau kembali menjelang 2015 untuk meningkatkan daya saing warga
Indonesia dalam era integrasi ASEAN.

Untuk itu, Menhan mengajak pelajar dan warga di Inggris memanfaatkan
privilege yang dimiliki untuk meningkatkan kemapanan negara menjelang
integrasi ASEAN dan pada saat yang sama mengurangi ketimpangan individu
antar warga bangsa.

Ia juga mengingatkan, dalam interaksi, perlu rasionalisasi yakni "tangible
science" seperti ekonomi politik dan perdagangan, tapi juga naluri cita
yakni perasaan hati dan kultur, dengan dua hal ini diharapkan Indonesia
dapat menjadi negara maju yang tetap memperhatikan nilai-nilai sosial.

Di akhir ceramahnya, Menhan mengutip ucapan Bung Karno bahwa kebangsaan kita
hidup dalam internasionalisasi dan Gandhi yang mengungkapkan biarkan
angin-angin datang ke India, tapi pijakan kakinya tetap di India.


Sumber : Antara


[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke