http://www.antara.co.id/arc/2009/4/21/indonesia-angkat-isu-perdagangan-manusia-di-jenewa/

21/04/09 22:14

*Indonesia Angkat Isu Perdagangan Manusia di Jenewa
*

*London (ANTARA News)* - *Direktur Jenderal Multilateral Departemen Luar
Negeri, Rezlan Ishar Jenie*, mengatakan Indonesia mengangkat isu perdagangan
manusia dan perlindungan pekerja sektor domestik pada Konferensi Dunia
mengenai Rasisme dan Diskriminasi Rasial di Jenewa

Pertemuan Durban Review Conferenc/DRC berlangsung hingga 24 April dihadiri
sebagian besar negara anggota PBB, organisasi regional dan internasional
serta ratusan organisasi civil society, ujar Sekretaris Pertama PTRI Jenewa
Benny YP Siahaan, kepada koresponden Antara London, Selasa.

Kehadiran Presiden Iran, Mahmoud Ahmadinejad, Perdana Menteri Namibia, Nahas
Angula dan 33 Menteri, 25 Wakil Menteri dan pejabat setingkat Menteri, serta
sekitar 250 LSM dan pemangku kepentingan terkait untuk menunjukkan komitmen
yang tinggi pada pertemuan ini.

Dirjen Multilateral Deplu mengangkat isu perdagangan manusia pada Konferensi
Dunia PBB mengenai Rasisme, Diskriminasi Rasial, Xenophobia dan Tindakan
Intoleransi lainnya (Durban Review Conferenc/DRC).

Dikatakannya Indonesia menegaskan pentingnya penguatan pendekatan yang
berpihak pada korban dalam penanganan masalah penyelundupan dan perdagangan
manusia sebagai salah satu bentuk kontemporer rasisme dan diskriminasi
rasial.

Hal itu, ujarnya telah disepakati dalam the Third Regional Ministerial
Conference on People Smuggling, Trafficking in Persons and Related
Transnational Crime (BRMC III) di Nusa Dua, Bali, 14/15 April lalu.

Dalam pertemuan dipimpin Amos Wako, Jaksa Agung Kenya, yang terpilih secara
aklamasi sebagai Presiden DRC, Dirjen Multilateral juga menegaskan mengenai
pentingnya perlindungan pekerja migran terutama pekerja sektor domestik.

Hal ini juga memberikan transparansi mengenai mekanisme pengaduan terhadap
majikan dan menghimbau untuk menginvestigasi berbagai perlakuan buruk
terhadap pekerja domestik, menghukum pelakunya serta menghindari segala
bentuk praktik dan kebijakan yang diskriminatif.

Selain dibuka Sekjen PBB, Konferensi juga diisi dengan pernyataan dari
Komisaris Tinggi HAM PBB, Presiden SMU PBB, dan Presiden Dewan HAM.

Dengan bertemakan ?United against racism: dignity and justice for all? para
delegasi menegaskan kembali komitmen mereka untuk memerangi tindakan
rasisme, diskriminasi rasial, xenophobia dan tindakan intoleransi lainnya
yang disepakati dalam Konferensi Dunia mengenai rasisme dan diskriminasi
rasial di Durban, Afrika Selatan, 2001 yang menghasilkan Durban Declaration
and Program of Action (DDPA).

Salah satu hasil dari Konferensi adalah dokumen akhir yang pengesahannya
dilakukan 21 April. Dokumen setebal 16 halaman yang terdiri dari 143
paragraf tersebut berisi kajian ulang dan penilaian terhadap implementasi
DDPA.

Dokumen tersebut berhasil disepakati (ad-referendum) pada sidang Komite
Persiapan DRC setelah melalui negosiasi yang sulit. Peserta konferensi akan
menindaklanjuti DDPA dan bertukar pengalaman mengenai implementasi Deklarasi
tersebut.

Dalam dokumen akhir ditegaskan rasisme dan diskriminasi serta bentuk
intoleransi lainnya merupakan isu global memerlukan pendekatan universal dan
komprehensif serta perlunya kemauan politik dalam upaya memerangi masalah
tersebut.

Digarisbawahi mengenai peran penting yang dimainkan sejumlah mekanisme PBB
termasuk Special Rapporteur on Contemporary form Racism dalam memerangi
rasisme dan diskriminasi rasial dan peran kantor Komisaris Tinggi HAM dalam
memantau implementasi DDPA.(*)


[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke