Tinggal tunggu waktu saja, setiap otak manusia akan disusupi nano-chip untuk dibaca pikirannya.
----------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------- http://www.republika.co.id/berita/45643/Chip_Supermini_Teliti_Semut *Chip Supermini Teliti Semut* Tag pengindetifikasi berfrekuensi radio ukuran 3 mm dipasang untuk mempelajari perilaku semut memilih sarang. Penelitian menarik dengan chip, atau semi konduktor supermini dilakukan terhadap semut-semut. Tim peneliti dari Universitas Bristol memasang alat pengidentifikasi berfrekuensi radio berukuran panjang hingga 3 milimeter di punggung semut-semut batu. Total ada dua ribu transponder mini yang bila disusun akan memenuhi satu lembar perangko ukuran sedang. Para ilmuwan kemudian mengamati bagaimana semut-semut tersebut memilih antara dua lokasi sarang untuk mendirikan rumah mereka. Semut-semut ternyata memilih sarang superior meski jaraknya sembilan kali lipat dari alternatif lain karena tidak terbangun cukup baik. Ketika sebuah koloni semut batu butuh bermigrasi ke sarang baru, semut-semut penjelajah pertama-tama bertugas menemukan tempat baru dan memeriksanya sebelum memimpin kawan-kawan pembuat sarang untuk menyiapkan sarang lengkap sebelum akhirnya seluruh koloni berpindah. Dr Elva Robinson, dari Jurusan Ilmu Biologi Universitas mengatakan jika 41 persen semut yang mengunjungi sarang terdekat namun berkondisi buruk, akan berpindah sarang baik yang lebih jauh, dan hanya 3 % dari semut-semut yang pertama kali berkunjung ke sarang terjauh balik lagi ke sarang terdekat. "Setiap ekor semut terlihat memiliki "pedoman dan penerimaan" individual terhadap penilaian kelayakan sarang," ujar Elva. "Semut yang menemukan sarang burung cenderung beralih menemukan sarang bagus, dimana semut yang menemukan sarang bagus terlihat lebih komitmen dengan tempat tinggalnya," papar Elva. "Ketika semut-semut berganti cepat antara dua sarang, koloni akan berakhir di sarang yang bagus. Semut individual tidak membutuhka evaluasi perbandingan antara kedua sarang bagi keseluruhan koloni untuk membuat keputusan benar," katanya. Elva mengatakan penelitian ini menunjukkan jika semut memiliki kemampuan memilih rumah lebih baik ketimbang manusia. "Dengan kata lain, hewan--termasuk manusia--yang menggunakan evaluasi perbandingan kerap membuat keputusan 'irasional'," ujarnya. "Aturan batas ambang yang dimiliki semut menjadikan pemeriksaan sarang mutlak pada kualitas, bukan subjek yang akan beresiko. Sehingga perilaku individu sederhana menggantikan perbandingan langsung, memfasilitasi pilihan efektif di antara lokasi sarang-sarang terbaik bagi koloni keseluruhan," ujarnya. Penelitian itu sendiri telah dipublikasikan dalam kumpulan Royal Soceity B, bulan ini./telegraph/itz [Non-text portions of this message have been removed]

