http://www.republika.co.id/berita/45388/Kenali_Hemofilia_Selamatkan_Nyawa


*Kenali Hemofilia Selamatkan Nyawa*

GENETIK: Kelainan pembekuan darah yang para penderita Hemofilia merupakana
penyakit genetik.

*JAKARTA*-- Hingga saat ini, hemofilia atau kelainan pembekuan perdarahan
yang diturunkan secara genetik belum ada penyembuhannya. Namun, terapi
pengobatan yang rutin dan dukungan psikologis dari keluarga bisa
meningkatkan kualitas hidup penderitanya.

Seorang anak yang menderita hemofilia bisa saja bermain seperti anak-anak
lainnya, tetapi ada yang membedakan dari teman-teman lainnya. Benturan atau
luka sedikit saja akan menyebabkan darah keluar tanpa henti. Pengobatan
hanya bisa dilakukan dengan suntikan faktor VIII. Kondisi inilah yang
membuat orang tua dengan anak berpenyakit hemofilia selalu cemas ketika buah
hatinya bermain apalagi melakukan kegiatan yang cukup berisiko.

Misalnya, saat bermain bola. Kegiatan yang menggunakan pergerakan fisik ini
rentan dengan terjatuh yang akan menimbulkan luka. Terkadang suasana seperti
inilah yang membuat anak dengan hemofilia menjadi kurang nyaman saat
bermain.  Mantan Kepala Divisi Hematologi FKUI/ RSCM,Prof Dr Djajadiman
Gatot SpA(K), mengatakan, Hemofilia merupakan salah satu penyakit yang juga
melibatkan keadaan psikologis.

"Penderita memerlukan pendampingan dari orang-orang terdekat. Apalagi para
penderita hemofilia juga harus menjalani terapi pengobatan seumur hidup dan
belum ada obatnya," ungkap Djajadiman.

Djajadiman menambahkan Hemofilia A timbul jika ada efek gen yang menyebabkan
kurangnya faktor pembekuan VIII (FVII),sedangkan hemofilia B disebabkan
kurangnya faktor pembekuan IX (FIX). Hemofilia diturunkan orang tua kepada
anak melalui kromoson X yang tidak muncul.

”Dahulu, hemofilia dikenal dengan penyakit yang hanya terjadi pada kalangan
raja,” ucap dokter spesialis anak itu.

Ketua Himpunan Masyarakat Hemofilia Indonesia Prof DR Dr H.S. Moeslichan Mz
SpA(K) memaparkan di Indonesia, saat ini tercatat sekitar 1.178 penderita
hemofilia. Perawatan yang komprehensif merupakan kunci pengobatan penyakit
ini, lanjutnya.

"Pendampingan pada penderita hemofilia sangatlah penting. Pendampingan ini
akan memengaruhi keadaan psikologis penderita menjadi lebih baik.Tim
pelayanan terpadu yang ada di rumah sakit yang mengerti perkembangan si
pasien juga merupakan faktor penting dalam penyembuhan," tutur Moeslichan.

Mereka perlu pendampingan karena mereka yang menderita hemofilia ini sangat
depresi sekali, terutama jika mereka sudah mengerti akan penyakit ini.
”Umumnya, mereka lebih susah menerima jika sudah semakin besar,” imbuhnya.

Penderita hemofilia bisa produktif pada saat usia dewasanya nanti apabila
sedari awal sudah ditangani sejak baik. Selain itu, jika pengobatan
ditangani secara baik, biaya perawatan pun bisa lebih dikendalikan. ”Biaya
pengobatan terbilang mahal karena pengobatan berlangsung seumur
hidup,”katanya.

Penelitian menunjukkan, pengobatan faktor VIII secara rutin memberikan
berbagai kebaikan lainnya, seperti menurunnya frekuensi pendarahan,masa
rawat inap jika terjadi hal terburuk akan lebih singkat, serta terjadinya
peningkatan kualitas hidup.

Meski tidak dapat disembuhkan, selama beberapa dekade terakhir pengobatan
hemofilia telah mengalami kemajuan pesat. Saat ini, kondisi penderita
hemofilia dapat dikontrol dengan disuntikkannya faktor pembeku yang hilang,
seperti faktor VIII pada hemofila A.

Terapi dasar untuk mengobati hemofilia A meliputi penggantian faktor VIII
melalui seluruh darah lengkap dan plasma. Namun,terapitersebut tidak
seluruhnya efektif, membutuhkan terapi di rumah sakit dan menyebabkan
transmisi patogen yang dapat hidup dalam darah. Terapi-terapi yang biasa
dilakukan, antara lain terapi on-demand. Ini adalah pengobatan yang
dilakukan pada insiden pendarahan akut.

"Tindakan ini dilakukan untuk mencegah kehilangan darah sesegera mungkin,"
ungkap Djajadiman.

Terapi lainnya adalah terapi profilaksis yaitu penggunaan faktor pembeku
secara teratur agar aktivitas pembekuan darah tetap tinggi untuk dapat
mencegah insiden pendarahan spontan dan membantu mengurangi atau menghindari
kerusakan sendi. Profilaksis primer didefinisikan sebagai pengobatan yang
dimulai sebelum atau setelah terjadi pendarahan sendi pertama.

Sementara profilaksis sekunder merupakan pengobatan yang dimulai setelah
insiden pendarahan terjadi berulang kali. Berbagai kemajuan dalam pengobatan
hemofilia yang saat ini telah dicapai tentunya semakin memberikan kesempatan
bagi para penderita hemofilia untuk mendapatkan perawatan yang efektif,
aman,dan nyaman sekaligus dapat mengurangi insiden pendarahan serta risiko
terjadinya komplikasi. (cr1/rin)


[Non-text portions of this message have been removed]



------------------------------------

***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg 
Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. 
http://groups.yahoo.com/group/ppiindia
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:

1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Reading only, http://ppi-india.blogspot.com 
4. Satu email perhari: [email protected]
5. No-email/web only: [email protected]
6. kembali menerima email: [email protected]
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/

<*> Your email settings:
    Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
    http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/join
    (Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
    mailto:[email protected] 
    mailto:[email protected]

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [email protected]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/

Kirim email ke