Sejarawan George Mc Turnan Kahin, penulis buku Nationalism and Revolution Indonesia, mengatakan bukan Budi Utomo pelopor pembaruan pendidikan di Indonesia melainkan Kartini. Sementara itu Profesor Ahmad M. Suryanegara, dalam buku Menemukan Sejarah, menuturkan Kartini tidak hanya berjuang untuk perempuan, tapi juga untuk membangkitkan bangsanya dari kehinaan. Petikan pendapat ini termuat di dalam laporan khusus Majalah Tempo Berbagai Tinta Menulis Indonesia terkait 100 Tahun Kebangkitan Nasional.
Kumpulan Surat-surat Kartini Habis Gelap Terbitlah Terang adalah salah satu dari 100 teks terpenting selama satu abad terakhir dalam menyuarakan imaji kebangsaan yang dipilih oleh Majalah Tempo. Tempo menyebutkan teks ini sebagaiSurat tentang kebebasan dan Cita-cita Surat tentang Kebebasan dan Cita-cita. Selain Kahin dan Suryanegara, Pramoedya Ananta Tour adalah salah satu sosok intelektual Indonesia yang menempatkan apresiasi yang tinggi atas peran Kartini dalam proses pekembangan nasion. Menurut sejarawan Hilmar Farid ( Pramoedya dan historiografi Indonesia dalam Perspektif Baru Penulisan Sejarah Indonesia; terbitan Yayasan Obor Indonesia, KITLV Jakarta dan Pustaka Larasan 2008) Pram mengakui arti penting dan sumbangan organisasi Budi Utomo dalam proses perkembangan nasion, namun baginya ‘pencerahan’ yang menjadi landasan gerakan nasional dimulai pada akhir abad ke 19 dengan munculnya intelektual di kalangan bumiputra. Hilmar kemudian mengangkat satu pernyataan Pram Tentang Kartini berikut ini “Kartini adalah pemula dari sejarah modern Indonesia. Dialah jang menggodok aspirasi2 kemadjuan yang di Indonesia untuk pertam kali timbul di Demak-Kudus-Jepara sejak pertengahan kedua abad jang lalu (XIX). Ditangannja kemadjuan itu dirumuskan, dirintjinya dan diperjuangkannja, untuk kemudian mendjadi milik seluruh nasion Indonesia. Dikatakan Indonesia, karena, sekalipun ia lebih sering bitjara tentang Djawa, iapun tak djarang mengemukakan keinginannja buat seluruh Hindia – Indoensia dewasa ini […] Kartini adalah pemikir modern Indonesia pertama-tama. Dengan penjusunan buku ini, sebenarnya dimulailah penjusunan sedjarah modern Indonesia (dalam buku tulisan Pram Panggil Aku Kartini Sadja, jilid I Bukit Tinggi Nusantara; buku ini kemudian diterbitkan kembali oleh Penerbit Lentera Dipantara tahun 2003) Kemudian yang terbaru Asvi Warman Adam Sejarawan Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) dalam salah satu tulisannya Kartini Sebelum Wahidin Sudirohusudo di Koran Seputar Indonesia (21 April 2009) menyimpulkan bahwa Kartini tidak hanya tokoh emansipasi perempuan, tetapi juga pelopor kebangkitan nasional Asvi mengangkat dua nota penting yang jarang dibahas , yakni dua nota yang dikirimkan Kartini kepada Menteri Jajahan AWF Indenburg dan Gubernur Jenderal Hindia Belanda Willem Rooseboom pada 1903. Disebutkannya fakta upaya Menteri Idenburg yang tengah mempersiapkan undang-undang pendidikan bagi negeri jajahan. Kartini kala itu dihadapkan pertanyaan terkait pendidikan “Tindakan apa yang cocok untuk membuat bangsa Jawa lebih maju dan lebih sejahtera? Ke arah mana pengajaran harus diperbaiki dan diperluas?”, Kartini menjawab: “Orang Belanda suka menertawakan dan mengolok-olok kebodohan bangsa kami,tetapi kalau kami mau belajar mereka menghalang-halangi dan mengambil sikap memusuhi kami.” Asvi kemudian juga mencatat Kartini menginginkan bangsa Jawa yang setara dengan Belanda. Berbeda dengan ide politik asosiasi yang dikemukakan Snouck Hurgronye. Asvi menambahkan pengertian “bangsa Jawa” ini dapat dibandingkan pengertian “nasion”yang dikemukan Harsya Bachtiar di mana di dalam nasion Indonesia terdapat berbagai nasion lain yang lebih kecil, yakni nasion Jawa, nasion Minang, nasion Bugis, dan seterusnya. Menurutnya Kartini dapat dianggap berbicara tentang aspek etnonasionalisme yang dari sini kemudian berkembang nasionalisme. Simpulan akhirnya adalah Kartini tidak hanya tokoh emansipasi perempuan, tetapi juga pelopor kebangkitan nasional. salam hangatandreas isw Untuk link-link terkait dan referensi bacan lebih lanjut silah kunjung http://lenteradiatasbukit.blogspot.com/2009/04/kartini-pelopor-kebangkitan-nasional.html [Non-text portions of this message have been removed]

