Sepertinya menurut saya SBY sudah menguasai Indonesia.
KPU 2004 yang berhasil menyelenggarakan Pemilu jujur dan adil sudah 
disingkirkan dan ketuanya dipenjara, sementara Anas Urbaningrum yang dulu di 
KPU dan nyaris dicecar KPK lolos ketika pindah ke PD. Sementara aktivis 
Mulyatna W Kusumah mendekam di penjara:

==
antikorupsi.org - Korupsi KPU Terus Diburu; Perkara Daan Dimara ...
Senin (6/2) kemarin Ketua KPU Nazaruddin Sjamsuddin dan mantan anggota KPU Anas 
Urbaningrum diperiksa Komisi Pemberantasan Korupsi. ...
antikorupsi.org/indo/content/view/7297/2/ 
===

Sekarang KPU 2009 menyelenggarakan pemilu yang DPTnya kacau sehingga dituding 
Fajrul Rahman sbg pemilu busuk. PD melejit perolehannya dari 7% jadi 20%.

Jika dengan PD 7% saja bisa menguasai DPR, apalagi dengan 20% suara.

Ketua MK, Jimly Ash Shiddiqy yang relatif lebih netral dan tegas juga diganti 
dgn Mahfudz Siddiq. Belum ada tindakan MK terhadap masalah DPT ini.

Kapolda Jatim yang menengarai ada kekacauan pilkada di Jatim diganti.

Sepertinya SBY akan menang melawan Capres lain baik Mega, Prabowo, apalagi JK.

Minimal melawan JK atau Mega sebagai capres, tanpa curang pun popularitas SBY 
masih cukup untuk mengalahkan mereka.

Ini bukan karena saya pendukung SBY, tapi sekedar melihat realita yang ada.

===

Ayo Belajar Islam sesuai Al Qur'an dan Hadits

http://media-islam.or.id

--- Pada Sel, 28/4/09, Firdaus Ibrahim <[email protected]> menulis:

Dari: Firdaus Ibrahim <[email protected]>
Topik: [ekonomi-nasional] Fwd: [parapemikir] Diduga Para Ketua DPD Golkar di 
Sogok Rp. 500 Juta  untuk menekan JK
Kepada: [email protected]
Tanggal: Selasa, 28 April, 2009, 9:43 PM











    
            
            


      
      Dari milis tetangga..



---------- Forwarded message ----------

From: alfaqirilmi <alfaqirilmi@ yahoo.com>

Date: 2009/4/29

Subject: [parapemikir] Diduga Para Ketua DPD Golkar di Sogok Rp. 500 Juta

untuk menekan JK

To: parapemikir@ yahoogroups. com



JK Sibuk Jinakkan Kader Golkar

http://dutamasyarak at.com/1/ 02dm.php? mdl=dtlartikel& id=15984



JAKARTA - Ketua Umum DPP Partai Golkar, M. Jusuf Kalla (JK), bukan hanya

getol menggalang koalisi baru dengan sejumlah parpol lain tapi juga sibuk

menjinakkan petinggi partai beringin sendiri. Setelah Senin malam menemui

sejumlah pimpinan DPD I, Selasa (28/4) kemarin JK memanggil Ketua DPD I

Sulawesi Barat Anwar Adnan Saleh, Ketua DPD I Kalimantan Timur Mahyudin, dan

Ketua DPD I Sulawesi Tenggara Laode Ridwan Bae, di kediaman JK Jl. Mangun

Sarkoro, Jakarta Pusat. Pemanggilan terhadap ketiga orang tersebut terkait

surat 25 DPD I Golkar kepadanya. Ketiganya ikut menandatangani surat

tersebut. Bahkan salah seorang di antara mereka disebut-sebut sebagai

pemrakarsa pembuatan surat yang sempat mengesankan bahwa Golkar terpecah

belah hingga membuat JK berang.. Isi surat itu meminta DPP menjajaki kembali

koalisi dengan Demokrat.



Usai bertemu dengan tiga pimpinan DPD I Golkar tersebut, kepada wartawan JK

mengingatkan kembali mandat penuh yang diberikan pada dirinya untuk

melakukan komunikasi politik dengan parpol guna melakukan koalisi. Untuk itu

JK juga menegaskan bahwa dirinya diposisikan sebagai presiden dalam rapat

pimpinan nasional khusus (Rapimnassus) pada 23 April 2009 lalu. &#65533;Saya

diposisikan dalam Rapimnassus sebagai presiden,&#65533; katanya.



Dalam kesempatan itu, JK juga yakin bahwa DPD-DPD I Golkar akan tetap

mendukung penuh dirinya. Termasuk bila tetap maju sebagai capres.

&#65533;Saya diberikan pada Rapimnassus itu mandat penuh. Dilaksanakan

komunikasi politik, kemudian dilaporkan setelah pertemuan sampai batas waktu

yang ditentukan,& #65533; ujarnya.



Saat ditanya lagi apakah penunjukan dirinya sebagai capres sebagai harga

mati, JK malah berkelakar. &#65533;Saya tidak mau membuat harga (JK kemudian

tertawa). Tapi begitulah adanya,&#65533; katanya.



Suasana di kediaman JK yang dikenal sebagai Markas Slipi 2 hingga tadi malam

tampak ramai dengan kedatangan tokoh-tokoh Golkar. Sejumlah fungsionaris DPP

Partai Golkar, seperti Burhanuddin Napitupulu, dan tokoh Golkar lain,

terlihat mendampingi JK. Ketua DPP Partai Golkar Muladi dan Wakil Ketua Umum

Golkar Agung Laksono tidak terlihat di markas ini.



Sebelumnya sejumlah DPD I Golkar mengirimkan surat kepada Jusuf Kalla

meminta Golkar berkoalisi dengan Demokrat sebagai langkah antisipasi. Untuk

itu mereka mengajukan enam nama tokoh Golkar non-JK sebagai cawapres.

&#65533;Pengajuan enam cawapres ini untuk mengantisipasi bila JK

ditolak,&#65533; kata Ketua DPD I Golkar Sulawesi Barat (Sulbar) Anwar Adnan

Saleh dalam jumpa pers bersama JK di kediaman JK, Selasa kemarin.



Anwar menjelaskan ditulisnya enam cawapres non-JK dalam surat tersebut hanya

sebagai antisipasi bila JK gagal jadi capres. Keenam cawapres yang tertulis

dalam surat itu adalah Akbar Tandjung, Surya Paloh, Sri Sultan Hamengku

Bowono X, Agung Laksono, Aburizal Bakrie, dan Fadel Muhammad.



Anwar Adnan Saleh mengatakan, enam nama cawapres dalam surat itu cuma

pikiran saja. Tapi semua itu tetap diserahkan kepada ketua umum untuk

mengambil keputusan. Pihaknya tidak dalam posisi memaksakan.

&#65533;Nama- nama itu sudah dijaring sejak beberapa bulan lalu. Ketua umum

sudah menjaring koalisi besar dengan parpol yang ada di luar Demokrat.



Tapi kan semua sudah mengajukan jadi capres. PDIP sudah mencalonkan Megawati

jadi capres, Gerindra ingin Prabowo jadi capres. Jadi, Golkar dengan siapa?

Barangkali ketua umum ada pikiran lain, untuk mengubah pikiran mencalonkan

jadi wapres saja,&#65533; katanya.



Dia mengatakan, tidak menutup kemungkinan koalisi lagi dengan Demokrat, tapi

dalam posisi hanya sebagai wapres. &#65533;Sedangkan Pak Jusuf Kalla jadi

king maker saja. Sebab, Pak JK sudah kita calonkan jadi presiden di

Rapimnassus. Belum ada sejarahnya Golkar jadi oposisi. Kita harus belajar

lagi jadi oposisi. Berapa kader Golkar yang gubernur, yang walikota,

bagaimana mereka nanti. Kemudian juga ada kekhawatiran kita nanti seperti

2004 lalu. Ada yang jadi capres, ada yang jadi cawapres,&#65533; katanya.



Kalau JK maju jadi capres, apa DPD-DPD I tetap mendukung? &#65533;Tetap kita

dukung, kalau itu keputusan partai. Partai Golkar adalah partai yang tetap

solid. Boleh berbeda tapi kalau ada keputusan, semua kader akan

patuh,&#65533; katanya.



Usai bertemu DPD I Senin malam, JK membenarkan komunikasi politik agak seret

sebab semua partai masih ngotot ingin mengusung capres. &#65533;Komunikasi

kita jadi agak sulit,&#65533; katanya usai menerima rombongan ketua DPD yang

dipimpin Ketua DPD Golkar Jawa Barat Uu Rukmana. Mereka meminta gambaran

kepada JK tentang perkembangan penjajakan koalisi dengan partai lain, selain

Partai Demokrat (PD).



Pertemuan yang berlangsung sejak pukul 19.00- 21.00 WIB tersebut, tidak

melibatkan pengurus DPP Golkar. Hanya JK seorang yang berdialog dengan

pentolan partai beringin itu di daerah. &#65533;Amanat Rapimnassus,

komunikasi politik hanya dimandatkan ke JK bukan DPP. Jadi kita tidak perlu

bertanya ke DPP,&#65533; ujar Uu Rukmana.



Dari diskusi itu akhirnya tercetus gagasan supaya Golkar kembali rujuk

dengan PD. Pertimbangan DPD, pencapresan JK belum ada titik terang sehingga

nasib Golkar bakal tidak jelas kalau terlambat mengambil sikap. Gagasan itu

muncul lantaran JK mengatakan, komunikasi yang dijalin dalam tiga hari

terakhir dengan PDIP dan Gerindra mengalami jalan buntu. Sebab kedua partai

tersebut tetap ngotot mengusung capres masing-masing. PDIP mengusung

Megawati, sementara Gerindra menjagokan Prabowo Subianto. &#65533;Kita tidak

mau nasib partai menggantung. Kalau tidak bertindak cepat Golkar bakal tidak

dapat apa-apa. Karena Golkar belum biasa jadi oposisi,&#65533; ujar Uu.



Puluhan Ketua DPD itu kemudian meminta sang bos partai, JK, untuk segera

bertindak cepat dengan menjalin kembali komunikasi dengan PD.

&#65533;Silakan saja. Yang penting jangan sampai mentok,&#65533; begitu

jawab JK kepada pimpinan DPD, seperti ditirukan Uu. Mendengar jawaban

tersebut, 25 ketua DPD langsung menandatangani surat pernyataan bersama soal

opsi berkoalisi dengan PD. Surat DPD itu kemudian diserahkan ke Wakil Ketua

Umum Golkar Agung Laksono untuk diteruskan ke DPP. Dalam surat tersebut

dijelaskan, DPD tetap mendukung pencapresan JK. Namun bila hal tersebut

tidak mungkin dilakukan, maka DPP diminta untuk menjalin kembali komunikasi

yang sempat terputus dengan PD. Tapi dengan catatan, bila koalisi terjadi

bukan JK lagi yang diusung sebagai cawapres. &#65533;Kalau JK yang diusung

maka harga diri Golkar akan jatuh. Karena JK sudah didaulat jadi capres di

Rapimnassus. Jadi biarkan kader yang lebih muda yang tampil,&#65533; ungkap

Uu.



Beberapa kader yang disebut-sebut bakal disodorkan Golkar ke SBY antara

lain, Agung Laksono dan Aburizal Bakrie. &#65533;Kita sudah menerima surat

resmi yang ditandatangani 25 DPD. Intinya mereka meminta DPP membuka peluang

menjalin koalisi dengan PD,&#65533; jelas Ketua DPP Golkar Firman Subagyo.



Namun Firman belum bisa menjelaskan keputusan DPP terkait permintaan DPD.

Alasannya, DPP perlu mengadakan rapat dulu untuk membahas keinginan DPD.



Disogok Rp 500 Juta



Yang jelas, berubahnya sikap DPD I sempat dipertanyakan beberapa elite DPP.

Mereka merasa heran kenapa tiba-tiba sikap DPD berubah 180 derajat. Soalnya

saat Rapimnassus, 23 April lalu, mereka sepakat mengusung JK sebagai capres.

Tidak ada klausul yang menyebutkan JK bisa jadi cawapres dari partai lain.

&#65533;Ini jadi aneh. Sebab dalam Rapimnassus DPD solid mendukung JK jadi

capres. Kenapa sekarang mereka jadi berubah pikiran?&#65533; kata sumber di

internal Golkar.



Sumber itu kemudian menuding di tubuh Golkar ada beberapa elite yang coba

memecah belah partai untuk kepentingan pribadi. Salah satu caranya dengan

memberi uang kepada para ketua DPD supaya menganulir putusan Rapimnassus.



&#65533;Yang saya tahu masing-masing Ketua DPD dapat uang sebesar Rp 500

juta dari salah seorang elite partai. Mereka diminta untuk mendesak JK

berkomunikasi kembali dengan PD,&#65533; ungkap sumber tersebut.



Penyebaran uang tersebut, lanjut sang sumber, sudah terjadi sejak

Rapimnassus. Tapi saat itu baru sebatas janji. Baru keesokan harinya uang

yang dijanjikan itu akhirnya dicairkan. Uu Rukmana, selaku pimpinan delegasi

DPD saat dikonfirmasi soal tersebut tidak mengiyakan juga tidak menampiknya.

Karena, kata Uu, dalam politik urusan uang tidak bisa dielakkan.



&#65533;Untuk mobilisasi dan pergi ke sana ke sini tentu membutuhkan biaya.

Tentu saja kita butuh dukungan dana,&#65533; pungkas Uu.



Operasi Sistematis



Jusuf Kalla sendiri sempat berang dengan gerakan pengurus daerah Golkar,

yang mendesak agar partai beringin kembali berkoalisi dengan Partai

Demokrat. Ia sedang mencari tahu penyebab perpecahan di internal partainya

menjelang pemilu presiden.



Menurut Wakil Presiden ini, perpecahan bermodus serupa terjadi pada Partai

Persatuan Pembangunan dan Partai Amanat Nasional. &#65533;Banyak sekali

pandangan berbeda tetapi ini harus dicermati. Sudah tiga partai politik yang

berbeda pandangan di internal, caranya sama. PPP begitu, PAN begitu. Kami

akan cari siapa di balik ini,&#65533; ujar Jusuf Kalla usai rapat dengan

pengurus harian dan pengurus DPD, Senin malam.



Menurut JK, perbedaan pandangan sangat wajar terjadi di internal Golkar.

Apalagi, Golkar merupakan partai terbuka. Namun, perpecahan dengan modus

serupa terjadi pada tiga partai politik dalam waktu bersamaan. &#65533;Saya

tidak mengatakan itu operasi sistematis. Tapi tiga partai bersamaan. Punya

kasus yang sama,&#65533; ujarnya.



Tak hanya gerakan pengurus daerah Golkar yang menentang JK. Desakan agar JK

kembali berkoalisi dengan partai yang dimotori Presiden Susilo Bambang

Yudhoyono juga disuarakan elite Golkar Pusat. Muladi, salah satu pimpinan

Partai Golkar, menganggap JK &#65533;ngos- ngosan&#65533; menjalin koalisi

dengan partai lain setelah menyatakan Golkar bercerai dengan Demokrat. JK

diangap ke sana ke mari menemui pimpinan partai, tak ada yang berhasil

diajak berkoalisi. Menurut Muladi, sebaiknya Jusuf Kalla segera menggelar

rapat yang muaranya Golkar kembali berkoalisi dengan Demokrat. Mantan

Menteri Kehakiman ini juga tak sungkan-sungkan menyarakan JK meminta maaf

kepada SBY sebagai bentuk penyelesaian &#65533;konflik& #65533; secara adat.

&#65533;Opsi untuk berkoalisi dengan Demokrat harus dimanfaatkan, &#65533;

kata Muladi.



Namun JK juga mendapat dukungan dari organisasi pemuda yang merupakan sayap

Partai Golkar. Mereka siap berdiri di belakang JK jika ada pihak yang ingin

merongrong hasil Rapimnassus.



&#65533;Kami mendukung sepenuhnya langkah-langkah yang Beliau lakukan untuk

partai dan memberi dukungan moral. Apa pun yang terjadi, kita siap

melaksanakan amanat Rapimnassus atau amanat partai,&#65533; ujar ketua DPP

Partai Golkar Bidang Kepemudaan, Yorrys Raweyai, Selasa kemarin, didampingi

sejumlah ketua organisasi sayap Partai Golkar seperti AMPI, AMPG, Kosgoro,

dan lain-lain di Markas Slipi 2.



Lebih lanjut Yorrys mengatakan bahwa kedatangan mereka ke rumah JK juga

untuk mengetahui lebih banyak tentang tekanan-tekanan yang dihadapi JK

terkait kondisi politik sekarang. &#65533;Kami ingin mengetahui sebenarnya

hasil Rapimnassus, lalu sejauh mana beliau mampu bergerak atau melaksanakan

tugas itu sebagai suatu amanat dari partai,&#65533; imbuh Yorrys.

(ful/det/wis)



[Non-text portions of this message have been removed]




 

      

    
    
        
         
        
        








        


        
        


      Pemerintahan yang jujur & bersih? Mungkin nggak ya? Temukan jawabannya di 
Yahoo! Answers! http://id.answers.yahoo.com

Kirim email ke