http://www.waspada.co.id/index.php?option=com_content&task=view&id=87529&Itemid=82


      Analis: Neoliberalisme Boediono purukkan bangsa      
      Wednesday, 13 May 2009 23:29 WIB  
      FAZAR BAKTI
      WASPADA ONLINE

      JAKARTA - Terpilihnya Boediono sebagai calon wakil presiden (cawapres) 
yang akan mendampingi Susilo Bambang Yudhoyono dalam pemilihan presiden 
(pilpres) Juli ini, tak pelak  akan membuat SBY dan partainya di cap sebagai 
pengumbar tiket cawapres kepada semua partai politik peserta koalisi Cikeas.

      Tidak hanya itu, beberapa kalangan juga mengganggap SBY telah salah dalam 
memilih calon pendampingnya untuk lima tahun ke depan. Sebenarnya apa yang 
salah dengan sosok Boediono?

      Analis politik dari Universitas Indonesia (UI), Dadang Darmawan 
memberikan tanggapannya. "Dengan pertimbangan dan kewenangan SBY yang 
memposisikan  Boediono sebagai cawapresnya,  maka akan ada harapan dan reaksi 
pasar pada elektabilitas pasar internasional  yang menuju neoliberalisme 
mutlak" papar Dadang.

      Kata dia, hal tersebut justru akan menimbulkan kecemasan akan nasib 
perekonomian Indonesia ke depannya. "Ini membuat  kita khawatir, kalau-kalau 
nanti di dalam pemerintahan tidak ada lagi keseimbangan, karena figur 
SBY-Boediono cenderung  menganut paham ekonomi neoliberal, yang sangat 
bertentangan dengan paham ekonomi kerakyatan. Nanti malah-malah, bangsa kita 
yang akan terperosok karena paham ini" jelas dosen ilmu politik ini.

      Ia menilai, hal itu juga yang menjadi penyebab banyaknya pihak yang 
kurang respect terhadap sosok Boediono. "Boediono berasal dari kaum teknokrat, 
bukan politisi. Jadi ia tidak pernah berkeringat dalam kancah politik, sehingga 
kurang berpengalaman dalam 'lobi-lobi' di parlemen."

      Menurut Dadang, Boediono terlalu modern dan pandangannya akan banyak 
bertentangan dengan kalangan religius. "Wajar jika kepemilihannya ramai-ramai 
ditentang oleh kalangan parpol" ungkap Dadang.

      Dadang berharap, idealnya dalam pemerintahan yang akan dibangun kelak, 
ada keterwakilan umat religius dan nasionalis. "Agar tidak menimbulkan 
kerawanan nantinya," kata dia malam ini kepada Waspada Online. 


[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke