Posted by: "Rusdi Mathari" [email protected]   rusdi_man 
Wed May 13, 2009 3:10 pm (PDT) 

Mengaum mungkin saja tapi bahkan jika itu bisa dilakukan oleh Boediono
kelak, auman Boediono akan dianggap sebagai auman macan yang paling
tidak menakutkan. Mungkin pula auman itu akan dilakukan Boediono sembari
menunduk dan mengangguk, "Nuwun sewu Pak SBY."

Anak Macan
SALAH satu alasan Susilo Bambang Yudhoyono memilih Boediono sebagai
calon wakil presidennya, kata seorang politikus, karena Yudhoyono ingin
aman (lihat "SBY Tidak Pilih Hatta Karena Khawatir Nasib Demokrat
pada 2014" detikcom, 13 Mei 2009). Ini sebetulnya bahasa lain dari
ketidakmauan mengambil risiko. Sebuah sikap yang sejauh ini selalu
dilekatkan kepada Yudhoyono, selain predikat peragu dan selalu ingin
dinilai paling bersih.

Hitungan Yudhoyono, kata politikus tadi jika dia memilih Hatta Rajasa
sabagai calon wakilnya dalam Pemilu 2009, maka dalam lima tahun
mendatang bisa saja Hatta akan maju sebagai calon presiden. Begitu juga
Hidayat Nur Wahid. Padahal di pemilu lima tahun yang akan datang itu,
Yudhoyono sudah tak bisa lagi ikut berkompetisi sementara partainya juga
tak memiliki kader kuat yang dikenal luas oleh publik.

Kata politikus tadi, singkat kata, Yudhoyono tak hendak memelihara anak
macan. Ini idiom yang maksudnya kurang lebih, tak mau mengambil risiko.
Dalam konteks Yudhoyono memilih calon wakil presidennya itu,
pertanyaannya adalah benarkah Hatta dan Hidayat memang anak macan yang
perlu diwaspadai dan karena itu misalnya mereka harus "tak
dipelihara" dengan tidak memilih keduanya sebagai calon wakil
presiden?

Macan adalah binatang pemburu dan pemangsa. Jika mengaum, konon, jantung
manusia yang paling perkasa sekali pun bisa berdegup kencang meski
sebetulnya, sangat jarang ada kasus macan memangsa manusia, kecuali dulu
pernah terjadi di Afrika. Di Sumatera memang ada kasus macan yang
menerkam manusia tapi tidak memangsanya. Macan yang menerkam itu pun
sebetulnya bisa dikatakan terpaksa karena habitatnya mulai susut
dirampok manusia.

Mungkin memang benar, ada manusia yang secara sadar memelihara anak
macan tapi adakah kejadian jika si anak macan itu kelak tumbuh besar
lalu menerkam pemeliharanya? Macan sirkus, kebanyakan dipelihara sejak
kecil dan di banyak Taman Safari, macan dipelihara sejak bayi bahkan
dikembangkanbiakkan . Adakah karena itu, lalu terdengar kabar si
pemilihara atau si pawang diterkam oleh macan termasuk anak macan yang
kemudian tumbuh besar itu?

Tentu saja ini bukan soal macan dan anak keturunannya. Hatta dan Hidayat
pun jelas bukan macan. Mereka orang terdidik yang sejauh ini tahu
bagaimana harus berbicara dan bersikap. Ini hanya soal pilihan Yudhoyono
yang telanjur dibuat sedemikian berakrobat, baik oleh dia maupun
orang-orang di sekelilingnya.

Lalu dengan menolak Hatta dan Hidayat, lantas memilih Boediono, orang
mungkin akan menilai Yudhoyono tidak berani mengambil risiko, peragu dan
sebagainya. Padahal yang juga harus dipahami dalam konteks itu,
Yudhoyono sebetulnya hanya orang yang terlampau mementingkan kekuasaan.
Hanya memikirkan bagaimana supaya dirinya tetap bisa berkuasa dan
kekuasaannya sebisa mungkin tidak bisa diganggu. Kalau dalam pemilu kali
ini terpilih lagi, dengan begitu dia punya waktu banyak untuk menyiapkan
penggantinya yang bisa maju menjadi presiden dalam Pemilu 2014.

Boediono karena itu dipilih oleh Yudhoyono bukan hanya karena dianggap
sebagai orang yang paling sedikit resistensi politiknya melainkan karena
yang paling penting Boediono tidak punya potensi menerkam Yudhoyono dan
Demokrat di masa yang akan datang. Mengaum mungkin saja tapi bahkan jika
itu bisa dilakukan oleh Boediono kelak, auman Boediono akan dianggap
sebagai auman macan yang paling tidak menakutkan.

Mungkin pula auman itu akan dilakukan Boediono sembari menunduk dan
mengangguk, "Nuwun sewu Pak SBY."

Tulisan ini juga bisa dibaca di www.rusdimathari. wordpress. com


From: sunny <[email protected]>
Subject: [ppiindia] Analis: Neoliberalisme Boediono purukkan bangsa
To: [email protected]
Date: Thursday, May 14, 2009, 4:51 AM









http://www.waspada. co.id/index. php?option= com_content& task=view& id=87529& 
Itemid=82

Analis: Neoliberalisme Boediono purukkan bangsa 
Wednesday, 13 May 2009 23:29 WIB 
FAZAR BAKTI
WASPADA ONLINE

JAKARTA - Terpilihnya Boediono sebagai calon wakil presiden (cawapres) yang 
akan mendampingi Susilo Bambang Yudhoyono dalam pemilihan presiden (pilpres) 
Juli ini, tak pelak akan membuat SBY dan partainya di cap sebagai pengumbar 
tiket cawapres kepada semua partai politik peserta koalisi Cikeas.

Tidak hanya itu, beberapa kalangan juga mengganggap SBY telah salah dalam 
memilih calon pendampingnya untuk lima tahun ke depan. Sebenarnya apa yang 
salah dengan sosok Boediono?

Analis politik dari Universitas Indonesia (UI), Dadang Darmawan memberikan 
tanggapannya. "Dengan pertimbangan dan kewenangan SBY yang memposisikan 
Boediono sebagai cawapresnya, maka akan ada harapan dan reaksi pasar pada 
elektabilitas pasar internasional yang menuju neoliberalisme mutlak" papar 
Dadang.

Kata dia, hal tersebut justru akan menimbulkan kecemasan akan nasib 
perekonomian Indonesia ke depannya. "Ini membuat kita khawatir, kalau-kalau 
nanti di dalam pemerintahan tidak ada lagi keseimbangan, karena figur 
SBY-Boediono cenderung menganut paham ekonomi neoliberal, yang sangat 
bertentangan dengan paham ekonomi kerakyatan. Nanti malah-malah, bangsa kita 
yang akan terperosok karena paham ini" jelas dosen ilmu politik ini.

Ia menilai, hal itu juga yang menjadi penyebab banyaknya pihak yang kurang 
respect terhadap sosok Boediono. "Boediono berasal dari kaum teknokrat, bukan 
politisi. Jadi ia tidak pernah berkeringat dalam kancah politik, sehingga 
kurang berpengalaman dalam 'lobi-lobi' di parlemen."

Menurut Dadang, Boediono terlalu modern dan pandangannya akan banyak 
bertentangan dengan kalangan religius. "Wajar jika kepemilihannya ramai-ramai 
ditentang oleh kalangan parpol" ungkap Dadang.

Dadang berharap, idealnya dalam pemerintahan yang akan dibangun kelak, ada 
keterwakilan umat religius dan nasionalis. "Agar tidak menimbulkan kerawanan 
nantinya," kata dia malam ini kepada Waspada Online. 

[Non-text portions of this message have been removed]

















      

[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke