Orang Jawa pasti pilih orang Jawa, dan oleh karena itu SBY pilih Budiono. Sulit 
atau tak mungkin orang Jawa memilih orang dajyak atau orang papua.

  ----- Original Message ----- 
  From: AgungSmile 
  To: [email protected] 
  Sent: Friday, May 15, 2009 6:32 AM
  Subject: [ppiindia] Re: Popularitas SBY Masih Nomor 1





  Kenapa sih pada ribut kalau SBY memilih Budiono sebagai pembantunya?

  Bukankah ini kabinet presidensial? Suka-suka calon presiden dong, dia memilih 
siapa. Toh, nanti kalau pemerintah atau kabinetnya berantakan, presidennya yang 
ketimpa sial! 

  Ini bentuk ketidak konsistenan DPR, bentuk arogansi parpol, ketika menentukan 
UU pilpres yang membatasi capres hanya boleh dicalonkan minimal 20 persen suara 
atau 25 persen representasi DPR.

  Padahal kalau batasnya 5 persen kemudian hanya dicalonkan 1 partai saja 
kemudian independen bisa ikut capres, maka jelas yang akan ikut pencalonan 
presiden bisa banyak. Dan partai nggak repot dengan koalisi

  Pemerintahan yang terbentuk akan bisa dengan jelas diidentifikasi: rezim SBY, 
atau rezim Mega, rezim Prabowo, rezim Wiranto, rezim Nagabonar, atau rezim 
Tifatul. Karena masing-masing partai/independen akan bisa mencalonkan calonnya 
sendiri tanpa harus berkoalisi.

  Pemerintahan yang kemarin? pemerintahan gado-gado, tidak bisa diklaim satu 
partai kalau berhasil, dan sial tidak bisa ditimpakan pada presidennya kalau 
pemerintahannya bonyok.

  Biarkan saja, SBY dan Demokrat sendirian. Bagusnya PKS, PAN, PPP dan PKB 
keluar saja dari koalisi. Toh kalau pemerintahannya baik nantinya akan diklaim 
sendirian oleh SBY-Demokrat atau kalaupun nanti pemerintahannya jeblog, maka 
kesalahan akan dibagi rata ke kabinet, dimana para partai itu kebagian jatah 
kursi menteri.

  Agung W

  --- In [email protected], A Nizami <nizam...@...> wrote:
  >
  > 
  > Kalau pasangannya:
  > SBY-Boediono
  > Mega-Prabowo
  > JK-Win
  > 
  > Kelihatannya yang menang masih SBY-Boediono karena Mega dan JK sbg Capres 
adalah "stok lama".
  > 
  > Kalau dibalik Prabowo jadi Capres dan Mega jadi Cawapres kelihatannya 
SBY-Boediono masih menang karena popularitas SBY masih sangat besar.
  > 
  > Tapi kalau dirubah, Prabowo-Iwan Fals atau Prabowo-Deddy Mizwar bisa jadi 
pasangan ini menang karena popularitasnya terangkat oleh popularitas Iwan Fals. 
Cuma kalau dgn artis, darimana Prabowo dapat suara parpol yang 20%?
  > 
  > Artis jadi Cawapres menggelikan?
  > 
  > Di AS, aktor kelas 2 Ronald Reagan saja bisa terpilih jadi presiden AS 2x 
sementara Arnold Schwarzenegger jadi gubernur California.
  > 
  > Di Indonesia, Dede Yusuf sebagai Cawagub berhasil mengangkat pasangannya 
yang tidak ngetop sebagai gubernur Jabar sementara Rano Karno berhasil 
mengangkat pasangannya sebagai Bupati Tangerang. Helmi Yahya juga mungkin bisa 
mengangkat pasangannya Syahrial Oesman sebagai Gubernur Sumsel jika Syahrial 
Oesman tidak terkena gosip foto di tempat judi Genting Highland.
  > 
  > Dari sisi ekonomi saya lihat:
  > 
  > SBY-Boediono: Neoliberal. Boediono dikenal sebagai orang pasar. Paling2 
cuma main2 bunga SBI...:)
  > 
  > Prabowo: Ekonomi Kerakyatan, namun Megawati bersama Laksamana Soekardi dulu 
sangat Neoliberalis terbukti dengan harga minyak mengikuti pasar dan 
privatisasi besar2an.
  > 
  > JK: Bersama SBY sebetulnya neoliberalis. Tapi di satu media massa JK 
menyerukan pemenuhan kebutuhan dalam negeri dgn produk Indonesia. Apa mungkin 
kalah pengaruh dgn SBY.
  > 
  > Wiranto? Belum jelas
  > 
  > Menurut saya, Capres Indonesia harus:
  > 1. Membentuk BUMN2 untuk memenuhi kebutuhan rakyat banyak dan membuka 
lapangan kerja
  > 
  > 2. Memberi modal usaha bagi rakyatnya seperti transmigrasi yang memmberi 
modal tanah bagi petani, teknologi kapal nelayan yang lebih efisien bagi 
nelayan, dsb.
  > 
  > 3. Menggunakan credit money seperti US$ sebelum tahun 1971 sehingga rupiah 
lebih stabil. Zaman SBY rupiah anjlok dari RP 8000/1 US$ jadi Rp 11.000.
  > 
  > Wassalam
  > 
  > 
  > ===
  > Ayo Belajar Islam sesuai Al Qur'an dan Hadits
  > http://media-islam.or.id
  > 
  > --- Pada Kam, 14/5/09, sapto waluyo <swaluy...@...> menulis:
  > 
  > 
  > Dari: sapto waluyo <swaluy...@...>
  > Topik: [JMP] Rilis Pers segera- Popularitas SBY-Boediono diragukan
  > Kepada: [email protected]
  > Cc: "milis profetik" <[email protected]>
  > Tanggal: Kamis, 14 Mei, 2009, 9:27 AM
  > 
  > 
  > 
  > Center for Indonesian Reform (CIR)
  > 
  > Rilis Pers Segera
  > 
  > â?oSurvei LSI tentang Popularitas SBY-Boediono Sangat Menyesatkanâ?
  > 
  > 
  > 
  > [Jakarta, 14 Mei 2009] â?" Suasana politik nasional semakin memanas setelah 
calon presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) menunjuk Boediono sebagai calon 
wakil presidennya. Berbagai kelompok masyarakat, yang mendukung atau menolak 
pasangan SBY-Boediono, telah menyatakan aspirasinya lewat pernyataan atau aksi 
politik. Tak terkecuali, partai-partai pendukung koalisi bersama Partai 
Demokrat telah mengungkapkan sikap pro atau kontra.
  > 
  > 
  > 
  > Tiba-tiba di tengah dinamika politik itu terbetik kabar Lembaga Survei 
Indonesia (LSI) menggelar survei pada 27 April hingga 3 Mei 2009. Hasilnya, 
sangat mengejutkan, tatkala dipresentasikan dalam jumpa pers di Jakarta, Kamis 
(14/5). LSI mengatakan jumlah sampel yang diambil secara nasional sebanyak 
2.014 orang dengan raihan SBY-Boediono sebesar 72,5 persen dan Megawati-Prabowo 
mencapai 21,5 persen.. Apabila diambil tiga pasangan, antara lain SBY-Boediono, 
Megawati-Prabowo dan Jusuf Kalla-Endriartono Sutarto berurutan meraih suara 
sebanyak 70%, 21%, dan 3%, sedangkan pemilih yang belum tahu sebesar 6%.
  > 
  > 
  > 
  > Sedangkan untuk survei dengan responden kelas menengah sebanyak 400 pemilih 
di 33 ibukota provinsi dengan teknik wawancara melalui telepon secara acak 
(random), maka pasangan SBY-Boediono meraih 79% dan Megawati-Prabowo (10%), 
serta belum tahu 11%. Wartawan bertanya, mengapa JK dipasangkan dengan 
Endriartono? LSI menjelaskan, saat survei dilakukan, LSI belum menerima 
informasi JK akan menggandeng Wiranto sehingga Ketua Umum Golkar tersebut 
dipasangkan dengan Endiartono. Sebuah jawaban apologis, karena pasangan 
JK-Wiranto telah dideklarasikan tanggal 1 Mei 2009 yang masih termasuk rentang 
waktu pelaksanaan survei. Seharusnya metodologi survei segera diperbaiki, 
karena terjadi perubahan fakta signifikan, agar relevan dengan pengetahuan umum 
responden. Sehingga hasilnya lebih mendekati kenyataan.
  > 
  > 
  > 
  > Lebih parah lagi, publik menyaksikan bahwa pasangan SBY-Boediono baru 
definitif pada Senin (11/5), jauh setelah survei dilaksanakan. Jika ingin fair, 
pada periode 27 April-3 Mei, pasangan SBY yang paling kuat adalah: Hidayat Nur 
Wahid (HNW), Hatta Rajasa, dan Akbar Tanjung. Setelah itu, baru muncul figur 
Menteri Keuangan Sri Mulyani dan Gubernur BI Boediono. Hal itu dibuktikan 
temuan penyelenggara survey berbeda.
  > 
  > 
  > 
  > LP3ES, misalnya, menyelenggarakan survei melalui wawancara telepon 
(telepoling) tanggal 28â?"29 April 2009. Respondennya dipilih secara acak 
sistematis berdasarkan buku telepon residensial. Jumlah sampelnya 1.118 
responden, mewakili masyarakat pengguna telpon rumah tangga di lima kota besar: 
Jakarta (Jadetabek), Bandung, Surabaya, Makassar, dan Medan. Margin of error 
2,9% pada tingkat kepercayaan 95%. Hasilnya, pasangan paling popular untuk SBY 
adalah: HNW (37,9%), Akbar Tanjung (13,2), Sri Mulyani (12,5), dan Hatta Rajasa 
(7,7). Nama Boediono sama sekali tak muncul, malah ada tokoh lain semisal 
Soetrisno Bachir (3,6), Muhaimin Iskandar (1,5), dan Fadel Muhammad (1,5). 
Responden yang menyatakan tidak tahu akan memilih pasangan mana cukup besar 
(16,3%).
  > 
  > 
  > 
  > Ada lagi survei berikutnya yang dilakukan Pusat Kajian Strategi Pembangunan 
Sosial Politik (PKSPSP) FISIP UI dan dipublikasikan pada Kamis (7/5). Survei 
itu melibatkan responden lebih luas (2.000 orang) di 20 provinsi di Indonesia. 
Hasilnya, tak begitu berbeda dengan LP3ES, HNW menempati popularitas teratas 
sebagai cawapres (34 persen), jauh di atas Sri Sultan Hamengkubuwono X di 
urutan kedua yang dipilih 17,4 persen reponden. Nama Boediono sama sekali tak 
tampil dalam survei ini. FISIP UI menggunakan dua metode, yaitu metode 
kuantitatif dan metode kualitatif. Metode kuantitatif menyerahkan sepenuhnya 
pilihan responden terhadap capres atau cawapres yang akan mereka pilih. 
Sedangkan metode kualitatif dilakukan terhadap 100 tokoh yang dinilai mengerti 
perkembangan politik mutakhir.
  > 
  > 
  > 
  > Survei terkini diselenggarakan Lembaga Riset Informasi (LRI) pada 3 -7 Mei 
2009, yang melibatkan 2.066 responden di 33 provinsi di Indonesia. Hasilnya 
semakin menguatkan kedua survei terdahulu (LP3ES dan FISIP UI) bahwa pasangan 
SBY-HNW paling popular (36,2%) mengalahkan dua pasangan lainnya, JKâ?"Wiranto 
(27,6%) dan Megawatiâ?"Prabowo (19,1%). Sedangkan 17 persen responden belum 
menentukan pilihan. Saat pasangan cawapres SBY disebut Boediono, maka LRI 
menemukan suara SBY turun menjadi 32,1%. Survei yang menggunakan metode random 
sampling ini menentukan margin of error 2,2% dan tingkat kepercayaan 95%.
  > 
  > 
  > 
  > Perbedaan hasil survei merupakan hal lumrah, apalagi jika metodologi 
penarikan sampling atau format kuesionernya berbeda. Tetapi, suatu kejanggalan 
fatal dalam survei LSI terkini adalah penentuan pasangan SBY-Boediono yang 
telah dipastikan jauh sebelum pernyataan resmi. Hal itu menyebabkan perbedaan 
yang mencolok dari ketiga penyelenggara survei lainnya. Kredibilitas lembaga 
survei sekali lagi menjadi taruhan, apabila tidak menjalankan kaidah ilmiah 
sebagaimana mestinya, tapi hanya melayani kepentingan sponsor.
  > 
  > 
  > 
  > Publik menyaksikan salah satu alasan SBY untuk memilih Boediono sebagai 
cawapresnya adalah karena ada masukan terbaru dari sebuah survei, sebagaimana 
diungkapkan Juru Bicara Kepresidenan Andi Mallarangeng. Mungkinkah yang 
dimaksud Andi adalah survei LSI tersebut? Jika benar, maka hasil survei yang 
diragukan metodologinya akan membuahkan rekomendasi yang menyesatkan.
  > 
  > 
  > 
  > Untuk itu, Center for Indonesian Reform (CIR) menyerukan:
  > 
  > 1. Kepada seluruh lembaga survei publik agar tetap memegang teguh standar 
ilmiah dan kode etik surveyor yang penuh tanggung-jawab;
  > 
  > 2. Kepada Asosiasi Riset dan Opini Publik Indonesia agar mengawasi dengan 
cermat kinerja lembaga survei yang menjadi anggotanya atau bukan, dan kerap 
mempublikasikan hasil survei mereka untuk mempengaruhi opini publik. Jika 
terdapat penyimpangan, maka jangan segan-segan untuk memberikan sanksi, agar 
hak masyarakat untuk mendapat informasi yang benar tetap terlindungi;
  > 
  > 3. Kepada para penentu kebijakan, termasuk para capres dan cawapres yang 
akan menggunakan jasa surveyor untuk menangkap aspirasi publik yang genuin, 
hendaklah bersikap jujur dan terbuka atas hasil survei yang dapat 
dipertanggung- jawabkan. Apapun hasil survei, bila dilakukan sesuai dengan 
kaidah ilmiah dan profesional, maka patut dipertimbangkan sebagai dasar 
pengambilan keputusan.
  > 
  > 
  > 
  > Demikian, seruan ini sebagai wujud keprihatinan anak bangsa akan kisruh 
politik yang muncul, antara lain, disebabkan publikasi hasil survei yang lemah 
metodologinya dan memiliki tendensi politik tersendiri.
  > 
  > 
  > 
  > Jakarta, 14 Mei 2009
  > 
  > 
  > 
  > Direktur Eksekutif CIR: Sapto Waluyo
  > 
  > Gedung PP Plaza Lantai 3, Jl. TB Simatupang No. 57, Jakarta Timur
  > 
  > Email: sapto.waluyo@ gmail.com dan HP: 0817 960 700
  > 
  > 
  > 
  > 
  > 
  > __________________________________________________________
  > Nama baru untuk Anda! 
  > Dapatkan nama yang selalu Anda inginkan di domain baru @ymail dan 
@rocketmail. 
  > Cepat sebelum diambil orang lain!
  > http://mail.promotions.yahoo.com/newdomains/id/
  >



  

[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke