http://www.tniad.mil.id/1berita.php?pil=48&dn=20090515104835

PERDAMAIAN DI DURRU, MISI PBB DI KONGO BANGUN COMPANY OPERATIONAL BASE CAMP

Oleh : Ira Ismaya

16-Mei-2009, 12:00:45WIB

Upaya PBB menciptakan perdamaian di Kongo telah memasuki tahun keenam dan terus 
berlanjut. Spektrum konflik dan kondisi geografis yang luas menyebabkan 
pengerahan  pasukan perdamaian PBB menjadi sangat likuid di negara yang dulu 
terkenal dengan nama Zaire itu. Dalam masa penugasan yang rata-rata 6 bulan, 
setiap kontingen  akan merasakan perpindahan Basecamp beberapa kali  mengikuti 
perkembangan situasi di daerah operasi.  

PBB akhirnya harus memindahkan beberapa markas dan kantornya guna mendukung 
mobilitas pasukan perdamaian yang dikerahkan digaris depan. Baru-baru ini, 
situasi di wilayah Timur Kongo yang berbatasan dengan Sudan bergejolak dan 
mengakibatkan PBB harus turun tangan mengerahkan pasukan “helm biru”nya untuk 
mendukung tentara pemerintah Kongo (FARDC).  Untuk itu, MONUC (misi PBB di 
Kongo) berencana membangun COB (Company Operational Basecamp) atau markas dan 
kantor di wilayah Durru guna mendukung proses DDRRR (Disarmament, 
Demobilization, Repatriation, Reintegration and Resettlement).

Pembuatan COB merupakan upaya MONUC untuk mendukung proses perdamaian  yang 
tengah berlangsung di Kongo. COB dibuat dalam rangka mendukung misi PBB dan 
pemerintah Kongo dalam mengatasi konflik sekaligus menjalankan misi kemanusiaan 
kepada masyarakat Durru yang terkena dampak akibat serangan milisi LRA (Lord’s 
Resistance Army/ kelompok pemberontak Uganda).

Satgas Kompi Zeni TNI Kontingen Garuda XX-F melaksanakan recce atau survey 
lokasi COB yang akan dibangun di Durru, Kamis (14/5). Recce ke daerah Durru 
terpaksa dilakukan melalui jalur udara menggunakan helikopter jenis MI-8 karena 
jalan dari Dungu (lokasi base camp Konga XX-F) ke Durru kurang kondusif akibat 
aktivitas milisi LRA disepanjang rute tersebut. Rencananya, Indonesia 
Engineering Company (IEC) akan membangun helipad, base camp dan kantor 
sementara bagi badan-badan kemanusiaan PBB serta camp bagi pasukan Batalyon 
Mekanis Infanteri dari Negara Maroko yang bertindak sebagai escort bagi staf 
sipil PBB.

Menurut Kapten (Sus) Michael Mulyono, M.T,, yang memimpin recce tersebut, 
pekerjaan pembuatan COB Durru membutuhkan waktu delapan minggu dengan kekuatan 
35 personel IEC. Menurutnya, tahap awal pembuatan basecamp dan kantor sementara 
tersebut adalah clearance areal seluas 150x150 m. Selanjutnya lahan tersebut 
akan ditimbun dengan limonite  (sejenis tanah merah yang umum dijumpai di 
Kongo) setebal 20 cm. Untuk proses penimbunan akan membutuhkan limonite 
sejumlah + 4.250 kubik. “Pembuatan COB Durru membutuhkan alat berat seperti 
dozer, grader, vibro roller, backhoe, loader dan juga dump truck”, demikian 
imbuhnya lagi.

Pembuatan COB Durru merupakan komitmen PBB yang ditegaskan oleh Utusan Khusus 
Sekretaris Jenderal PBB, Mr. Alan Doss beberapa waktu lalu untuk melindungi 
masyarakat sipil, khususnya di wilayah konflik. Menurut Alan Doss, langkah 
konkrit yang telah dilakukan PBB guna melindungi penduduk lokal di Kongo adalah 
dengan mendirikan base camp-base camp militer di wilayah yang terimbas konflik 
disamping melaksanakan patroli rutin ke wilayah perkampungan masyarakat. Alan 
Doss juga menegaskan, prajurit “helm biru” PBB mendukung tentara nasional Kongo 
(FARDC) menciptakan perdamaian melalui bantuan logistik, transportasi, Bahan 
bakar minyak serta bekal makanan sekaligus bantuan tembakan melalui 
helikopter-helikopter serbu PBB. Utusan Khusus Sekjen PBB tersebut menjelaskan, 
Monuc juga telah mengerahkan tim gabungan yang mengurusi hak azasi, 
perlindungan anak serta masalah-masalah sosial masyarakat. Diharapkan dengan 
adanya komunikasi tim-tim tersebut dengan
 masyarakat lokal akan meningkatkan kemampuan PBB dalam membaca masalah yang 
ada di masyarakat sehingga akhirnya PBB dapat dengan segera merespon 
permasalahan tersebut.

Sementara itu, situasi Kota Duru saat dilaksanakannya Recce cukup mencekam 
ditandai  dengan kehadiran Tentara Nasional Kongo (FARDC) di setiap sudut kota 
dengan bersenjata lengkap. Hal itu dilakukan karena malam sebelumnya kelompok 
LRA menjalankan aksinya merampok penduduk di perkampungan yang hanya berjarak 
lima kilometer dari kota Durru. Setelah dilakukan pengejaran oleh pasukan 
FARDC, salah seorang anggota LRA berhasil dilumpuhkan.

Dalam Recce yang berlangsung beberapa jam tersebut, Kapten Michael Mulyono 
didampingi Serka Suparjo  dan Sertu Ferdinandeles sedang dari Kontingen Maroko 
diwakili oleh Kapten Kamal Aberessi dan dari pihak FARDC diwakili oleh Letnan 
Januar yang sudah fasih berbahasa Indonesia. Recce dilakukan dengan penuh 
semangat oleh semua pihak dengan harapan terciptanya perdamaian di negara yang 
dianugerahi sumber daya alam melimpah itu. (Pa Pen Konga XX-F/MONUC/Dispenad)


      

[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke