http://internasional.kompas.com/read/xml/2009/05/16/14514653/Pria.26.Tahun.Bertubuh.Bayi

Pria 26 Tahun Bertubuh Bayi

Sabtu, 16 Mei 2009 | 14:51 WIB

SHILLONG, KOMPAS.com — Tak seperti kebanyakan pria dewasa lainnya, kondisi 
fisik Jerly Lyngdoh (26), sangat memprihatinkan. Usianya terbilang dewasa. 
Namun, ia terjebak dalam tubuh seorang bayi.

Tinggi badan Jerly tidak lebih dari 84 cm dan bobot tubuhnya 10 kg. Kondisi 
tubuhnya sama dengan bayi berusia dua tahun.

Kemungkinan besar, selamanya ia akan memiliki tubuh bayi tersebut. Demikian 
pula dengan pikirannya. Sampai saat ini, Jerly tidak bisa berkomunikasi dan 
membutuhkan bantuan sang bunda untuk melakukan aktivitas sehari-hari.

Meski fisiknya seperti bayi, tetapi gigi susunya telah digantikan gigi permanen 
di usia yang seharusnya. “Dia telah menjalani diet yang tepat. Memiliki gigi 
yang kuat dan tidak memiliki masalah dengan pencernaannya. Yang menjadi 
permasalahan adalah ketidakmampuannya berbicara satu patah katapun hingga 
usianya saat ini,” terang J Ryngdong, dokter anak senior di Rumah Sakit 
Pemerintah Ganesh, Meghalaya, India. Ryngdong mencoba menganalisis kasus yang 
menimpa Jerly.

Jerly lahir pada 29 Maret 1983 di sebuah desa terpencil di distrik Jaintia 
Hills. Ia terpaksa dipindahkan ke rumah sakit pada 3 April kemarin. Ini setelah 
pengobatan selama 17 bulan yang tidak membuahkan hasil di Rumah Sakit Sipil 
Shillong.

Merilda, ibu Jerly, menuturkan, ia tidak menjumpai keanehan saat putranya 
lahir. Namun, ketika usianya mencapai empat bulan, Merilda menengarai 
tanda-tanda kecenderungan epilepsi dalam diri Jerly. Sayangnya, karena terlalu 
miskin untuk mendapatkan pengobatan secara medis, Merilda justru memilih 
pengobatan tradisional. Hingga usia 15 tahun, Jerly menjalani pengobatan secara 
tradisional, tetapi tidak ada perubahan sama sekali.

Ryngdong mengakui, kasus Jerly merupakan tantangan baginya. Ia menyebut 
pemikiran dalam kepala Jerly sama dengan bayi berusia sembilan bulan hingga 
satu tahun. “Pemeriksaan masih dalam tahap awal. Sulit mengatakan penyebab 
pasti ketidaknormalan kondisi yang dialami Jerly. Kami juga memeriksa 
faktor-faktor seperti kekurangan hormon dalam tubuh,” ujar Ryngdong.

Ia membantah jika faktor keturunan menjadi biang keroknya, mengingat keenam 
saudara Jerly memiliki kondisi fisik dan mental yang normal.

Menurut Ryngdong, Jerly bisa hidup hingga empat dekade mendatang atau lebih. 
Dengan catatan, ia tidak mengalami masalah kesehatan yang berarti. Merilda juga 
harus memikul penderitaan yang dialami putranya. Ia menghadapi prasangka buruk 
dari keluarganya dan cemoohan dari tetangganya. Berulang kali, kakek Jerly 
menyebutnya sebagai kutukan dalam keluarganya.. Bahkan, ia meminta Merilda agar 
membuang Jerly jauh-jauh. Toh, ia tetap tegar menghadapi itu semua agar Jerly 
tetap bisa bertahan.

“Saya tidak akan meninggalkannya dan memutuskan untuk memberikan perawatan 
terbaik bagi Jerly, sembari mencari bantuan dari kelompok sosial. Saya 
beruntung, salah satu perkumpulan sosial di Shillong mau mengulurkan 
bantuannya, membawanya ke Rumah Sakit Shillong,” ujar Merilda bersimbah air 
mata. (toi/tis)


      

[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke