FYI,
Satu tulisan yang bernas dari satu Blogger:

http://nusantaranews.wordpress.com/2009/05/15/menelusuri-sisi-sisi-lain-pak-boed-yang-saya-kenal/

Menelusuri Sisi Aneh: Sisi Lain Pak Boed yang Saya Kenal
2009 Mei 15

by nusantaraku

Saya pikir banyak orang Indonesia pasti mengenal sosok Faisal H Basri (FHB), 
SE, MA. Ia sering muncul di TV seagai
Faisal H Basri

Faisal H Basri

seorang analisis ekonomi kawakan. Ia adalah seorang ekonom lulusan Vanderbilt 
University, Tennessee – Amerika. Bahasa yang lugas, penampilan sederhana 
melekat pada sosok pria kelahiran Bandung 50 tahun silam. Ia sempat terjun di 
dunia politik dengan mendirikan partai PAN dan menjadi Sekjen Pertama PAN. Ia 
pula menpionirnya Komisi Pengawas Persaingan Usaha (KPPU) namun kini tetap 
setia menjadi staf pengajar FE-UI.

Munculnya nama Bapak Faisal Basri mungkin menjadi titik nadir pro-kontra bagi 
mereka yang tidak menyukai bahkan timbulnya aksi gerakan anti Say No to 
Boediono, Say Yes to Budi Anduk. Hal ini muncul dari tulisan yang sangat 
memukau dari Faisal H Basri yakni Sisi Lain Pak Boed yang Saya Kenal di blog 
kompasiana-nya. Di blog tersebut, pak Faisal sebutkan bagaimana pertemuanya 
pertama pada Pak Boediono lalu secara berurutan menceritakan sisi lain dari Pak 
Boediono. Pak Boediono adalah seorang ekonom handal, itu pasti karena beliau 
adalah seorang Guru Besar Ekonomi.

Dalam artikel tersebut Pak Faisal menuliskan bagaimana sosok Boediono yang 
bersahaja, santun dan memegang teguh dan bekerja keras sesuai prinsip-prinsip 
ekonomi yang dianutnya.

    Sikap rendah hati itulah [red: Pak Boediono] yang paling membekas pada 
saya. Lebih banyak mendengar ketimbang bicara. Kalau ditanya yang 
“nyerempet-nyerempet,” jawabannya cuma dengan tersenyum. Saya tak pernah dengar 
Pak Boed menjelek-jelekkan orang lain, bahkan sekedar mengkritik sekalipun.  – 
kutipan : Sisi Lain Pak Boed yang Saya Kenal

*******

Menulusuri Sisi : Sisi Lain Pak Boed yang Saya Kenal
klik untuk melihat foto
Ekonom UI, Faisal Basri

Tulisan pak FHB memang sangat diperlukan untuk membangkitkan citra yang 
seimbang atas sosok Pak Boediono. Begitu juga halnya pada pencitraan (Alm) Ali 
Alatas, Amien Rais, SBY, DN Aidit ataupun Soeharto. Bagi mereka yang dekat 
dengan pak Harto, mereka merasakan getaran kesederhanaan, kesantunan sekaligus 
ketegasan dalam diri beliau. Namun, disisi lain kita merasakan hal yang 
berbeda, sebagian masyarakat mungkin benci akan tindakan refresif (Alm) 
Soeharto mengejar dan membunuh dengan sadis para simpatisan PKI yang tidak tahu 
menahu kejadian Gestapu, mengejar para aktivisis yang menentang aksi KKN.  Dan 
siapa sangka Jenderal dengan Senyum manisnya dengan bicara begitu santun bisa 
begitu “dingin” dan terjadi praktik KKN dimasanya. Begitu juga sosok Aidit yang 
dicam “beringas” dan “amoral”, namun disisi lain ia memiliki sifat-sifat yang 
begitu halus dan etos baik di partai maupun dikeluarga dan sahabatnya.

Masa lalu telah berlalu, kita harus menatap masa depan dengan belajar dari 
sejarah masa lalu. JAS MERAH, jangan sekali-kali melupakan sejarah, itulah 
pesan Bung Karno kepada kita. Begitu hendaknya kita menyikapi  pro dan kontra 
atas pribadi Boediono. Mengapa ada yang pro dan mengapa ada kontra, adalah hal 
yang wajar dalam suatu sistem demokrasi. Namun, setiap pro dan kontra hendaknya 
memiliki landasan yang jelas, mengapa pro dan mengapa kontra. Dan alangkah 
baiknya jika kita bukan seperti Burung Beo yang hanya mengikuti apa kata orang 
tanpa memahami betul kondisi-kondisi sebenarnya.

Disisi lain, saya agak merasa aneh pernyataan Pak FHB  beberapa waktu dulu 
ketika beliau berada di Padang-Sumatera Barat dan ditanya oleh Padang Today, 
bagaimana pandangan FHB jika Boediono dipilih sebagai cawapres.

“Saya menilai sayang jika Prof. Boediono ditempatkan sebagai Wapres,dia itu 
teknokrat, lebih tepat jika dia mengurus persoalan ekonomi dan moneter di level 
menteri, akan lebih optimal,”
Ditambahkan Faisal, kemampuan Boediono justru akan terhambat jika dia 
diposisikan sebagai Wapres.
“Pak Boediono diakui dunia sebagai pakar ekonomi moneter, kemampuannya justru 
dibutuhkan untuk mengelola ekonomi dan moneter kita, yang menjadi domain kerja 
Menko Ekonomi serta Gubernur BI, jadi kalau dia ditempatkan di Wapres justru 
kontraproduktif,” ungkap FHB.

Pak FHB saat ini tampak sekali  mendukung SBY-Boediono, padahal pada 20 
Desember Faisal  Basri mengemukan kegagalan ekonomi SBY yang selama ini 
dimotori Boediono sebagai Menko Perekomian dan Menkeu Sri Mulyani. FHB 
mengingatkan kepada masyarakat agar tidak terjebak dengan janji-janji SBY saat 
melakukan kampanye. Ia mengatakan tersebut d Hotel Aston Atrium Jakarta – 
RakyatMerdeka

“Hati-hati saat kampanye bila SBY bicara tentang angka pengangguran dan 
kemiskinan menurun….. Presiden yang dipilih berhasil alakadarnya. Tidak ada 
perbaikan secara signifikan. Apa gunanya dipilih lagi. Buat apa kita pilih yang 
katanya doktor, bintang empat (jenderal), ahli pertanian,”
Pengangguran misalnya, terjadi pengurangan atau penurunan angka pengangguran 
dari 9,1 persen tahun 2007 menjadi 8,1 persen tahun 2008.
“Tapi itu di sektor informal, pedagang kaki lima yang tidak ada pensiun, tidak 
ada tunjangan kerja. Beginilah kalau presidennya jaim (jaga image), berbedak 
terus, berkosmetik terus,”
Faisal menambahkan, selama kepemimpinan SBY, telah tercipta jurang yang cukup 
dalam antara si kaya dan si miskin.. Subsidi yang diberikan tidak tepat sasaran 
dan lebih banyak dinikmati oleh orang kaya.

Bahkan belum sebulan yang lalu yakni 27 April 2009, Faisal Basri secara 
gamblang menulis Menakar Kinerja SBY-JK di Kompas cetak :

Selama tahun 2004-2008, anggaran untuk memerangi kemiskinan naik hampir empat 
kali lipat, tetapi angka kemiskinan hanya turun 1 persen saja. Bukti tumpulnya 
kebijakan ekonomi untuk memberantas kemiskinan terlihat pula dari perbandingan 
dengan negara-negara tetangga.

Pemerintahan SBY-JK juga bisa dipandang terseok-seok dalam memerangi 
pengangguran dan meningkatkan kualitas pekerja. Angka pengangguran terbuka 
memang turun sedikit dari 9,9 persen pada tahun 2004 menjadi 8,4 persen pada 
tahun 2008. Namun, pada periode yang sama terjadi peningkatan underemployment 
(separuh menganggur) dari 29,8 persen menjadi 30,3 persen.

Pemerintahan SBY-JK gagal untuk menghasilkan pola pertumbuhan ekonomi yang 
sehat dengan mengutamakan penguatan sektor produksi barang. Yang paling 
mencolok adalah kinerja industri manufaktur.

Dari analisis tajam seorang FHB 1 bulan yang lalu atas kinerja ekonomi 
pemerintah  SBY-JK selama 2004-2008 yang hampir3 tahun dipimpin oleh tim 
ekonomi Boediono sudah gagal. Analisis yang tajam dari FHB pada tanggal 27 
April  2009 tidak jauh berbeda dengan analisis 5 bulan lalu pada 29 Desember 
2008 dan juga sebelum-belumnya. Namun, pasca Boediono dipinang SBY, pola 
analisis FHB berubah dan bisa dikatakan lebih dari 100 derajat. Apakah analisis 
tajam FHB sudah terbeli oleh politik? Apakah FHB akan kembali masuk ke politik 
seperti pada tahun 1998 silam?

*******

Pemaparan Pak FHB mengenai Boediono merupakan salah satu tulisan terpercaya, 
dan patut diberi apresiasi yang selayaknya karena berdasarkan realitas 
kedekatan dan analisisnya. Secara garis besar, FHB menggambarkan sosok 
kepribadian yang unggul dalam diri Boediono. Kepribadian yang unggul inilah 
yang membawa dirinya menduduki posisi yang strategis di negeri ini. Namun, kita 
harus juga menelusuri sisi lain, hal yang tidak bisa kita lupakan dalam 
perjalanan bangsa ini yakni BLBI dan Agenda Penjualan BUMN Strategis serta 
Perbankan BPPN yang mana total kerugian negara akibat aksi ini mencapai ribuan 
triliun. Kita perlu tahu bahwasanya agenda-agenda tersebut merupakan buah dikte 
dari IMF pada saat itu (2002). Dan kita pun sudah melihat adanya ketimbangan 
tulisan pak FHB pada 14 Mei dengan 27 April.

Dalam kesempatan ini, saya akan mengutip langsung pernyataan Pak Boediono atas 
Agenda IMF tersebut dengan tulisan pink (versi Inggris) di Jakartapost (27 
Februari 2002):

Menteri Keuangan Boediono menyatakan optimismenya pada hari Selasa bahwa 
pemerintah sanggup memenuhi “Agenda Utama” yang dikeluarkan IMF sebagai syarat 
bantuan pendanaan [catatan: utang masih dikatakan sebagai dana bantuan].
Agenda-agenda IMF diantaranya adalah:

   1. Negara harus menjual BUMN-BUMN strategis kepada pemilik modal dengan 
harga yang diintervensi oleh IMF. Indosat, Telkom adalah salah satu buah produk 
IMF pada saat itu.
   2. Negara harus menjual bank-bank BPPN seperti BCA, Danamon, BII, dengan 
harga jauh dibawah  kewajaran yang akan membebani anggaran (BLBI) hingga 
ratusan triliun. Salah satu contohnya adalah menjual BCA seharga 10 Triliun 
padahal harga obligasi rekap yang melekat pada BCA 58 triliun + aset-aset 
tetap. Negara dirugikan lebih dari 50 triliun + bunga berjalan yang jika 
ditotalin hampir 100 triliun.  Inilah kasus BLBI yang hingga saat ini masih 
meninggalkan ketidakadilan bagi rakyat yang tidak tahu menahu.
   3. Negara harus mengurangi dan pada akhirnya harus menghapus subsidi minyak, 
air, listrik dan pendidikan. Kebijakan ini terus dilakukan dan pada Desember 
2008, secara resmi pemerintah SBY-JK mengatakan “Tidak ada lagi subsidi minyak, 
kita kembali ke harga pasar“. Untuk pendidikan, diterbitnyalah UU BHP. Dengan 
adanya penghapusan subsidi, maka perusahaan asing baik disektorBBM maupun 
pendidikan akan menjadi tuan di tanah kita.
   4. Negara secara tidak langsung dipaksa untuk mengekspor barang-barang 
mentah ke luar negeri lalu diimpor dalam bentuk barang jadi.
   5. Negara harus tetap mengutamakan memberi bantuan yang besar kepada 
lembaga-lembaga/perusahaan besar. Ini disebut juga sebagai paham trickle down 
effect

Pihak IMF diperkirakan tiba bulan depan di Jakarta untuk mereview program 
reformasi  ekonomi negara ala IMF. Bantuan IMF sangatlah penting dan mendesak 
(krusial) bagi pemerintah untuk penjadwalan kembali skema pembayaran utang 
dengan [rentenir] Paris Club pada April 2002 mendatang.
Boediono sangat meyakini konsep reformasi ekonomi yang didikte oleh IMF. Tujuan 
IMF, Paris Club, WB dan begitu juga agen EHM seperti John Perkins akui adalah 
membuat kesepakatan untuk memberi pinjaman ke negara lain, jauh  lebih besar 
dari yang  negara itu sanggup bayar.  Dalam kesepakatan antarnegara itu, IMF, 
EHM CS berusaha menekan negara-negara lain agar memberikan 90 persen dari 
pinjamannya kepada perusahaan-perusahaan AS, seperti Halliburton atau Bechtel. 
Kemudian perusahaan-perusahaan AS tersebut akan masuk membangun sistem listrik, 
pelabuhan, jalan tol dan lainnya di negara-negara berkembang. Setelah 
mendapatkan utang, AS akan memeras negara tersebut sampai tak bisa membayarnya. 
Dengan alasan itu, barulah AS akan mendesak negara-negara lain untuk 
menyerahkan sumber kekayaan alamnya, seperti minyak, gas, kayu, tembaga dan 
lainnya ke AS. Bagaimana jika negara-negara itu menolak? John Perkins 
menyatakan, mereka bisa saja dibunuh. Ini bukan isapan
 jempol. Dua tokoh dunia, yakni Presiden Panama Omar Torijos dan Presiden 
Ekuador Jaime Rojos dibantai karena menolak kerja sama dengan AS. [beli buku : 
John Perkins : Confession of EHM - coba search internet tentang  The Dead of 
Omar Torijos dan The dead of Jaime Rojos]

“Agenda Utama adalah persyaratan dan perihal yang harus pemerintah laksanakan. 
Tapi, saya yakin bahwa kita mampu memenuhi semua persyaratan tersebut tepat 
waktu.”, ungkap Boediono kepada Wartawan setelah sesi dengar pendapat di Komisi 
IX DPR.
Dari jumpa pers tersebut, sangatlah jelas bahwa Boediono sebagai Menkeu di era 
Gotong Royong sangat patuh pada IMF dengan agenda menjual Indonesia ke tangan 
swasta dan asing.

Ia [Boediono] tidak menjabarkan secara jelas apa saja “Agenda Utama” IMF 
tersebut. Namun, Boediono memastikan bahwa penjualan 51% saham BCA [berada 
dibawah naungan BPPN] dengan proses yang kredibel, dan strategi yang jelas 
untuk mengatasi utang yang membengkak dari Bank-Bank BPPN (yang mendapat 
likuiditas BLBI) hasil utang para pemilik bank tersebut, termasuk dalam daftar 
“Agenda Utama IMF mendesak Indonesia”.
Sejarah gamblang Boediono (Menkeu) bersama Menko Dorodjatun dan Meneg BUMN 
Laksamana Sukardi secara tidak langsung mengubah utang para bankir menjadi 
utang rakyat. Menjual BUMN  kepada Temasek sehingga satelit strategis untuk 
keamanan dan kedaulatan negara kita dikuasai Singapura.  Hal senada disampaikan 
Prof. Mubiyarto, bahwa sejak private debt [utang para bankir/swasta] dijadikan 
public debt [utang rakyat], sejak utang para konglomerat ”ditalangi” 
pemerintah, perbankan selalu mendapat subsidi, industri perbankan yang 
seharusnya menghasilkan pendapatan (revenue) ternyata menjadi beban 
(expenditure) negara/rakyat yang dibayar terus oleh pemerintah hingga saat ini. 
Pada tahun 1998, ”bunga utang” para konglomerat yang dibebankan kepada APBN 
besarnya Rp 60 trilliun, empat kali lipat dari anggaran untuk pendidikan yang 
hanya sekitar Rp 15 trilliun. Inilah salah satu kebijakan yang mungkin Pak 
Faisal Basri harus juga uraikan secara mendetil dalam
 tulisan beliau Sisi Lain Pak Boed yang Saya Kenal

Untuk isi pernyataan pers  lengkap dari Boediono pada 27 Februari 2002, 
silahkan baca berita aslinya di Boediono upbeat on meeting key IMF programs.

Ada catatan lain yakni pada waktu menjabat sebagai Menteri Keuangan saat 
pemerintahan Megawati Soekarnoputri, dia menyatakan bahwa pada dasarnya subsidi 
bagi rakyat harus dihapus. Dan ketika para petani tebu meminta proteksi, 
Boediono dengan enteng menyatakan, ”Kalau petani tebu merasa bahwa menanam tebu 
kurang menguntungkan, tanamlah komoditas lain yang lebih menguntungkan.” 
(sinarharapan)

*********

Hendaknya kita mencari pemimpin dengan sosok yang sebisa mungkin memenuhi 
berbagai kriteria, tidak hanya berkutat pada kepribdian semata. Kepribadian Pak 
Boediono dengan  gaya hidup bersahaja, santun, dengan etos kerjanya patut 
diteladani oleh siapapun juga.  Namun, ada banyak sosok tokoh Indonesia yang 
bersahaja dengan etos kerja tinggi yang paham betul dan tahu solusi ekonomi 
yang jauh lebih merakyat dibandingkan langkah-langkah tim ekonomi saat ini 
termasuk didalamnya Boediono. Peningkatan anggaran APBN 3 kali lipat sejak 2004 
tidak menghasilkan kesejahteraan berarti bagi rakyat kecil, bahkan sebaliknya 
jumlah rakyat miskin meningkat atau setidak-tidaknya tidak berubah dari angka 
36 juta jiwa penduduk miskin, disisi lain para konglomerat membukukan terus 
kekayaan dan asetnya meningka. Sebenarnya ada banyak orang yang berpotensial 
disekeliling kita, namun kita selalu merendahkan orang lain yang berpotensi 
karena memang kita tidak memberi kesempatan
 mereka untuk berkiprah dan berkontribusi lebih banyak untuk negeri ini. Hanya 
orang-orang dekatlah dengan penguasa yang memiliki akses yang tinggi untuk 
sebuah jabatan atas nama “rakyat”.

Terpilihnya Boediono sebagai cawapres SBY, kita berikan ucapan Selamat. Namun, 
jangan sampai kita lupa perjalanan sejarah Indonesia, terutama perjalanan 
perekonomian bangsa ini. Bagaimana saat ini dan 10 tahun silam, kebijakan 
ekonomi kita masih jauh dari amanah pasal 33 UUD 1945. Begitu besar anggaran 
dikeluarkan untuk mensubsidi bankir-bankir kaya melalui pembayaran utang najis 
yang disulap dari utang swasta/bankir menjadi utang rakyat/negara.

Dan jika ada pihak yang menyangkal bahwa Boediono tidak mendukung IMF, maka 
mintalah pak Boediono mencabut ulang konferensi pers dan segala bentuk 
kebijakan “Agenda Utama” IMF pada tahun 2002.

Salam Perubahan,
15 Mei 2009, ech-nusantaraku



      Menambah banyak teman sangatlah mudah dan cepat. Undang teman dari 
Hotmail, Gmail ke Yahoo! Messenger sekarang! 
http://id.messenger.yahoo.com/invite/

Kirim email ke