http://www.lampungpost.com/buras.php?id=2009052203360916

      Jum'at, 22 Mei 2009 
     
     
     
     
     
Dialog Perjalanan Jayapura-Aceh! 

       
      H. Bambang Eka Wijaya



      DALAM perjalanan lorong waktu ke tahun 2050, Temon dan Temin seketika 
terduduk di bangku pesawat angkut personel militer. Temon bergeser ke dekat 
penumpang sipil lain di depan. "Kita naik Hercules C-130, ya?" tanya Temon.

      "Bukan! Itu pesawat kuno buatan AS, sudah apkir sejak kecelakaan yang 
menewaskan 98 orang di Magetan 2009!" jawab pria yang ditanya. "Ini pesawat 
Gatotkaca G-150 buatan PT Dirgantara Indonesia, kapasitas angkut lebih besar 
dengan kecepatan dua kali lebih cepat dari C-130! Kalau C-130 dari 
Jayapura-Ambon-Makassar-Jakarta bisa delapan jam, kini dengan G-150 cuma empat 
jam!"

      "Cepat sekali!" entak Temon. "Berikutnya kita berhenti di mana?"

      "Jakarta!" jawab pria. "Anda mau ke mana?"

      "Lampung!" jawab Temon. "Naik apa yang cepat?"

      "Naik pesawat ini!" tegas pria. "Dari Jakarta ke Lampung, lalu Padang dan 
Aceh! Dari Jayapura ke Aceh tujuh jam, setiap hari pesawat ini PP."

      "Wow, maju sekali!" entak Temon,. "Temin, mari!"

      "Indonesia sekarang pemilik pesawat sipil dan militer buatan sendiri 
terbanyak di Asia, rutenya teraktif di dunia untuk seluruh Tanah Air!" jelas 
pria. "Anda dari mana, tak tahu kemajuan?"

      "Bekerja dalam hutan di Papua!" sela Temin.

      "Apa masih ada hutan di Papua, yang telah jadi kota pulau terbesar 
dunia?" tukas pria. "Berarti kalian baru bebas dari penyanderaan siluman!"

      "Tepat, kami terbang tanpa tiket!" sambut Temon.

      "Soal tanpa tiket mudah, cukup gesek paycard-ku saat turun! Apalagi mau 
ikut aku ke Aceh!" jawab pria. "Kemajuan berawal Tahun Indonesia Emas 
ESQ--2020! Bukan secara materiil, melainkan dalam sikap emosional dan spiritual 
bangsa, terutama elitenya yang benar-benar ikhlas mengabdi kepentingan rakyat 
di atas kepentingan pribadi atau golongan baik primordial maupun sektarian!"

      "Rupanya kondisi ideal karakter bangsa itu bisa tercapai, ya?" potong 
Temin.

      "Multikrisis tak berakhir sejak 1998, meyakinkan segenap elemen bangsa 
untuk itu!" tegas pria. "Sejak itu, skenario pembangunan bisa terwujud, dananya 
tak lagi habis dikorupsi elitenya!" jawab pria. "Tugas KPK selesai 2025, 
bersamaan habisnya migas dari perut bumi kita!"

      "Lalu pesawat ini terbang pakai apa?" sela Temin.

      "Pakai biofuel!" jawab pria. "Mobil juga, segala jenis produk nabati! 
Semua ekspor kita sudah hasil industri olahan, tak ada lagi ekspor bahan 
mentah! Industri dalam negeri maju, mayoritas warga gandrung produk dalam 
negeri! Malah usaha franchise Indonesia menguasai dunia, satai padang, pecel 
lele, coto makassar, karena terkenal organiknya--seperti konsumsi rakyatnya!"

      "Waduh, aku jadi tak sabar ingin melihat rakyat yang adil-makmur 
sejahtera seperti ideal yang dicita-citakan para perintis Kebangkitan Nasional 
dan Bapak-Bapak Pendiri Republik!" tegas Temon. "Apalagi kuncinya, negara 
bersih dari korupsi!"
     


[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke