Jawa Pos
[ Senin, 25 Mei 2009 ] 

Rombak Kebijakan Ekonomi 
Oleh: Sri Adiningsih, Dosen Fakultas Ekonomi UGM, Jogjakarta


Sistem atau kebijakan ekonomi suatu negara memiliki peran penting dalam 
membangun perekonomian suatu bangsa. Kebijakan ekonomi yang baik dapat membawa 
suatu bangsa maju, adil, dan sejahtera, atau sebaliknya. Karena itu, di dunia 
ini ada bangsa yang maju dan sejahtera. Namun, ada pula yang tertinggal dan 
menderita. Itu bergantung kepada pengelolaan ekonominya. Tidak ada suatu bangsa 
yang ditakdirkan untuk tertinggal dan miskin. Semua bangsa memiliki kesempatan 
yang sama untuk maju dan sejahtera. 

Indonesia adalah salah satu contoh ironi. Bayangkan, bangsa ini kaya akan 
sumber daya alam. Terletak di khatulistiwa sehingga sepanjang tahun bisa 
memanen hasil bumi. Demikian juga letaknya cukup strategis, penduduknya besar, 
mestinya menjadi bangsa yang maju, adil, dan makmur. Namun apa daya, 
ketidakmampuan bangsa ini membangun ekonomi menyebabkan Indonesia tertinggal. 
Indonesia termasuk ''miskin'' jika dibandingkan dengan negara-negara tetangga. 
Banyak utang lagi. Sungguh tragis.

Memang menyakitkan melihat potret diri yang tidak membanggakan. Namun, diakui 
atau tidak, banyak data yang membuat kita memelas jika membandingkan diri 
dengan negara lain di Asia Tenggara. Ini terlintas di benak penulis sewaktu 
berjalan-jalan di Bangkok, Thailand, pekan lalu bersama dua teman dari Tiongkok 
menggunakan subway. Teman dari Tiongkok yang tinggal di Beijing menanyakan 
apakah Indonesia memiliki subway? Dengan menahan malu, terpaksa harus menjawab 
bahwa Indonesia belum memiliki alat transportasi umum semacam itu. Padahal, di 
Bangkok sudah ada subway (untuk rute jauh sampai di pinggiran kota) dan skyway 
untuk rute pendek biasanya antarpusat perbelanjan di tengah kota. Kedua alat 
transportasi itu cepat, aman, nyaman, dapat diandalkan, dan harganya 
terjangkau. Tidak kalah dengan subway di Washingon, Paris, ataupun di Tokyo dan 
Hongkong.

Pertanyaan tersebut membuat penulis sadar betapa kita tertinggal bahkan 
dibandingkan Thailand. Apalagi, Bandara Internasional Suvarnabhumi Thailand 
juga modern, nyaman, dan bagus. Tidak kalah dengan negara-negara maju lainnya 
di dunia. Jauh jika dibandingkan dengan Bandara Internasional Soekarno-Hatta di 
Jakarta. Apalagi jika dibandingkan dengan data kemakmuran antarbangsa di 
wilayah regional, sangat memprihainkan. Ketertinggalan kita daripada Singapura, 
Malaysia, dan Thailand semakin nyata. Pendapatan perkapita kita kalah jauh 
dibandingkan negeri jiran. Saat ini pendapatan perkapita Singapura sudah USD 35 
ribu, Malaysia USD 6.880 atau tiga kali lipat Indonesia. Sedangkan Thailand 
pada 2007 sudah USD 3.740 atau hampir dua kali Indonesia. Pada tahun yang sama, 
Indonesia hanya USD 1.919, sedikit lebih baik daripada Filipina USD 1.652.

Padahal, di antara negara ASEAN, Indonesia yang terkaya sumber daya alamnya dan 
terbanyak jumlah penduduknya. Mestinya, negeri ini yang termaju dan termakmur. 
Apalagi, pada masa lalu, Indonesia termasuk salah bangsa yang maju dan makmur 
di kawasan ini. Tak heran, banyak bangsa yang belajar dari kita, termasuk 
Malaysia. Namun, ironisnya, kita sekarang justru menjadi negara ''tertinggal'' 
dan memiliki banyak utang. Jadi pengekspor tenaga kerja informal dan ilegal ke 
banyak negara. Jelas ada yang salah pada bangsa Indonesia.

Pilih Platform yang Jelas 

Seperti pohon yang baik akan menghasilkan buah yang berguna, pengelolaan 
ekonomi yang baik juga akan menghasilkan kemajuan ekonomi dan kemakmuran bagi 
bangsanya. Jika Indonesia kalah jauh daripada bangsa jiran yang dulu belajar 
dari kita, jelas ada yang salah dalam pengelolaan ekonomi. Kini saatnya bangsa 
Indonesia sadar bahwa perlu ada perubahan mendasar. Perombakan pengelolaan 
ekonomi menjadi isu krusial saat ini. Mumpung kita akan memilih presiden dan 
wakil presiden. Kita perlu memilih calon presiden dan wakil presiden yang mampu 
memperbaiki ekonomi nasional. Memiliki platform yang dapat membangkitkan 
ekonomi. Dengan begitu, dalam lima tahun ke depan, bangsa Indonesia dapat maju, 
mengejar ketertinggalan dibandingkan bangsa-bangsa lain. Tidak terjebak ke 
dalam target-target ekonomi orientasi jangka pendek yang ''semu'' karena tidak 
mengatasi masalah struktural ekonomi secara riil. Jangan sampai kualitas 
pembangunan ekonomi kita semakin merosot.

Daya saing internasional yang rendah dan menurun, deindustrialisasi, merosotnya 
peran sektor formal (meningkatnya peran sektor informal), kebergantungan kepada 
luar negeri yang semakin besar adalah bukti memburuknya kualitas pembangunan 
ekonomi kita. Dengan begitu, kemiskinan dan pengangguran tetap saja besar dan 
ekonomi informal semakin berkembang (padahal tidak dapat memberikan kehidupan 
layak). Jika pemburukan ini terus berlangsung, hanya masalah waktu bangsa 
Indonesia semakin tertinggal. Bahkan dengan Vietnam, Kamboja, dan Myanmar. 
Apakah kita rela hal itu terjadi. Saya tidak!

Mari kita ikut mengubah masa depan ekonomi Indonesia. Caranya, memilih pasangan 
calon presiden dan wakil presiden yang kita anggap memiliki platform yang mampu 
membangkitkan ekonomi dan membawa bangsa Indonesia maju, adil, dan sejahtera. 
Jangan memilih berdasar perasaan. Sudah waktunya kita memilih menggunakan 
kecerdasan. Kita rakyat Indonesia memiliki tanggung jawab pada masa depan 
bangsa ini. Jangan sampai kita membuat kesalahan. Jika kita salah pilih, 
konsekuensinya harus kita tanggung untuk lima tahun ke depan. Berbagai masalah 
ekonomi struktural perlu diselesaikan. Dengan begitu, Indonesia memiliki daya 
saing internasional yang tinggi, tidak bergantung kepada luar negeri, tidak 
banyak utang, dan memiliki sumber daya manusia yang berkualitas. Demikian pula 
UMKM semakin maju dan berkembang, dapat memberikan kehidupan yang layak bagi 
lebih dari 95 persen penduduk kita yang terlibat di dalamnya. Semoga.

Bangkok, 23 Mei 2009 

[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke