---------- Forwarded message ---------- From: *japri * Date: 2009/5/25 Subject: Buku Ilusi Negara Islam
Membaca buku Ilusi Negara Islam (INI), sungguh membuat bulu kuduk merinding. Ternyata, Indonesia sudah berasa di tubir jurang perpecahan. Partai Keadilan Sejahtera (PKS) bersama-sama Hisbuth Tharir Indonesia (HTI), Dewan Dakwah Islam Indonesia (DDII) dan sejumlah ormas Islam lain, menurut buku INI, ternyata masuk dalam kategori ancaman bagi masa depan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Buku yang merupakan laporan penelitian terhadap aktivis-aktivis gerakan Islam (yang selama ini dikenal sebagai Islam garis keras) di 17 provinsi itu, menunjukkan dengan gamblang kiprah politik mereka dalam rangka membangun sebuah pemerintahan Islam sedunia atau Khilafah Islamiyah. Oleh karena itu, saya sangat maklum ketika PKS ngambek ketika Yuhdoyono memilih Boediono sebagai pasangannya dalam pemilihan presiden/wakil presiden mendatang. Isu neoliberalisme dimunculkan, menurut saya, sekaligus memanfaatkan momentum gerakan-gerakan perlawanan terhadap globalisasi ekonomi, privatisasi dan gerakan antiutang yang juga diusung banyak civil society organizations (CSOs). Barat yang sudah pasti menjadi musuh utama gerakan Wahabi dan Ikhwanul Muslimin karena dianggap sebagai biang kekacauan dunia, khususnya kemunduran Islam di berbagai belahan dunia, ‘dijual’ sebagai isu utama. Harapannya, gerakan itu akan emmperoleh dukungan dari banyak kalangan, tak cuma para aktivis dan komunitas muslim semata. Di buku itu ditunjukkan, misalnya, betapa organisasi Islam sebesar Muhammadiyah sudah sedemikian parah ‘diacak-acak’ anggotanya sendiri yang merangkap sebagai aktivis PKS. Banyak masjid dan lembaga-lembaga pendidikannya ‘diserobot’ orang-orang partai. Begitu pula NU, yang hanya di Kabupaten Magelang, Jawa Tengah, saja sudah ‘kehilangan’ 11 masjid/mushala. Yang tak kalah mengagetkan, gerakan transnasional Islam model Wahabi/Ikhwanul Muslimin ini pernah pula berupaya masuk Istana Presiden. Sebuah proposal tawaran kerjasama dengan pemerintah dengan nilai ratusan juta dolar Amerika disodorkan, bahkan gamblang disebutkan sebagiannya bisa dimanfaatkan untuk operasional kabinet, hanya sebuah rekomendasi legal untuk sebuah proyek di Indonesia. Ilusi Negara Islam merupakan buku yang mencerahkan, memberi gambaran gamblang tentang gerakan Islam di Indonesia. Bagaimana banyak BUMN dikuasai aktivis-aktivis Wahabi/Ikhwanul Muslimin/Hisbuth Tharir, juga parlemen dan banyak perusahaan-perusaha an swasta di Jakarta dan berbagai kota. Buku INI tak hanya layak jadi bacaan wajib masyarakat Indonesia, namun utamanya justru bagi Yudhoyono, Megawati dan Jusuf Kalla, supaya dia lebih berhati-hati memilih tokoh-tokoh dalam kabinetnya kelak. Selain itu, menarik pula dijadikan rujukan bagi para penerima mandat sebagai penjaga keamanan dan kedaulatan Indonesia untuk lebih berhati-hati. Kita tahu, sering gosip mampir ke telinga kita, bahwa sejumlah oknum perwira (dan penisunan) polisi dan militer melakukan ‘kerjasama’ di bawah tangan dengan kelompok-kelompok garis keras. Terlepas dari persentase kebenaran isi buku (hasil penelitian itu), saya kira kita harus mengapresiasi kerja intelektual mereka dalam membangun peradaban Indonesia yang lebih bermartabat, tak ada diskriminasi dan lebih dari itu, saling hormat-menghormati tanpa memandang latar belakang agama, keyakinan, etnisitas dan sebagainya. Selayaknya pula, PKS, HTI, DDII dan ormas-ormas yang merasa dirugikan dengan publikasi buku itu, membuat klarifikasi kepada publik secara gentle dan terhormat. Kita, tentu tak ingin ancaman pembunuhan kepada salah seorang Ketua PBNU di Mesir oleh seorang pimpinan partai Islam garis keras hanya demi perasaan tak suka Sang Ketua PBNU membuka fakta yang sesungguhnya tentang gerakan Islam di Indonesia. Terbitnya Ilusi Negara Islam sungguh merupakan sumbangan sangat berharga bagi masyarakat Indonesia untuk memilih dan membentuk peradaban yang lebih baik di masa mendatang. Kita juga diuntungkan oleh orang-orang seperti KH Abdurrahman Wahid, Prof. DR. Buya Ahmad Syafi’i Maarif, KH Ahmad Musthofa Bisri dan semua pihak yang terlibat dalam penelitian itu. Tanpa kerja keras dan rasa cinta mereka pada Indonesia, tak mungkin buku yang sangat penting itu bisa terbit dan beredar di sini. Tak berlebihan bila buku semacam itu menjadi bacaan utama pelajar dan mahasiwa Indonesia, agar tatanan kehidupan yang lebih adil, saling menghargai dan menghormati itu bisa segera terwujud, setidaknya beberapa tahun mendatang. Semoga apa yang dilakukan Abdurrahman Wahid, Buya Syafi'i Maarif dan kawan-kawan bisa menjadi amal jariyah yang tak ternilai bagi Indonesia. Amin. Kami baru menerima berita dari Mas Ahmad Suaedy Direktur the Wahid Institute, toko-toko yang menjual buku "Ilusi Negara Islam" diteror: akan diserbu, dibakar melalui telepon-telepon tak dikenal. Di Gramedia pun buku ini belum sempat beredar. Anda mungkin akan kesulitan mendapatkan buku ini di pasaran. Syukur alhamdulillah, melalui jasa internet, pembredelan dan ancaman untuk sebuah karya tidak akan berhasil sempurna. Kini bagi siapa pun yang ingin membaca buku ini silakan mengunduhnya (download) melalui alamat berikut: http://www.bhinnekatunggalika.org/galeri.html ----------------------------------------- Pers Release Peluncuran buku dan dvd The Wahid Institute, Gerakan Bhinneka Tunggal Ika, dan The Maarif Institute Tokoh Islam Moderat Meluncurkan Buku--"Ilusi Negara Islam: Ekspansi Gerakan Islam Transnasional di Indonesia," dan dan Seri TV/Video--"Lautan Wahyu: Islam sebagai Rahmatan lil-Alamin," untuk Mewujudkan Islam sebagai Rahmatan lil-‘Alamin Jakarta, 16 Mei 2009 JAKARTA, INDONESIA (16 Mei 2009) Tiga tokoh besar Islam moderat meluncurkan buku dan seri video untuk melestarikan tradisi dan budaya bangsa Indonesia yang santun dan toleran berdasarkan nilai-nilai luhur agama, serta mewujudkan dunia yang aman, damai, dan sejahtera. Program ini juga bertujuan membantu dunia mengatasi krisis kesalahpahaman tentang agama dan kesalahkaprahan pengamalannya yang mengancam kedamaian di mana-mana. Mantan Presiden Indonesia, KH. Abdurrahman Wahid (Gus Dur), bersama mantan Ketua Umum Muhammadiyah, Prof. Dr. Ahmad Syafii Maarif (Buya), dan tokoh terkemuka Nahdlatul Ulama, KH. A. Mustofa Bisri (Gus Mus), bersama-sama mengajak dan berusaha mengilhami masyarakat dan para elit untuk bersikap terbuka, rendah hati, dan terus belajar agar bisa memahami agama secara spiritual dan mendalam. Karena dengan cara demikian pemahaman agama kelompok garis keras yang dangkal dan sempit tidak akan bisa menginfiltrasi dan menghasut bangsa Indonesia untuk mengkhianati nilai-nilai luhur ajaran agama serta tradisi dan budaya bangsanya. "Saya tidak khawatir terhadap non-Muslim atau siapa pun selama mereka terus belajar; yang saya khawatirkan adalah ketika seseorang berhenti belajar dan menganggap kebenaran sudah ada di tangannya dan kemudian menganggap yang lain salah. Sebab, sabda Nabi saw., "Orang akan tetap baik-baik saja, tetap pandai selama mau belajar. Ketika orang itu berhenti belajar karena sudah merasa pandai, mulailah dia bodoh" (Gus Mus). Sebagai negara berpenduduk Muslim terbesar di dunia, Indonesia menjadi salah satu medan pertarungan ideologi yang signifikan. Kelompok-kelompok garis keras telah menggunakan simbol-simbol agama untuk merekrut dukungan umat Islam. Dengan menggunakan bahasa yang sama dengan umat Islam pada umumnya, mereka berusaha meraih dukungan atas nama agama sebanyak-banyaknya. Padahal, makna yang mereka pahami jauh berbeda dari makna yang lazim dipahami oleh umat Islam Indonesia. Ketiga tokoh ini menegaskan pentingnya melestarikan Pancasila, UUD 1945, dan NKRI, serta nilai-nilai luhur agama yang menjiwai bangunan bangsa dan negara Indonesia, yang kini dibayang-bayangi oleh infiltrasi paham dan aksi-aksi gerakan transnasional yang meresahkan. Demi tujuan ini, mereka menyerukan persatuan dan kerjasama semua pihak dan lapisan masyarakat, karena kebenaran yang tidak terorganisai bisa dikalahkan oleh kejahatan maupun kezhaliman yang terorganisasi. The Wahid Institute, Maarif Institute, dan Gerakan Bhinneka Tunggal Ika bersama-sama menerbitkan buku Ilusi Negara Islam: Ekspansi Gerakan Islam Transnasional di Indonesia, yang merupakan hasil penelitian lapangan dan konsultasi selama lebih dari dua tahun. Penelitian lapangan yang meliputi 24 kabupaten di 17 propinsi ini melibatkan tak kurang dari 30 peneliti yang kebanyakan berasal dari jaringan UIN/IAIN. Mereka telah melakukan wawancara mendalam terhadap 591 responden yang berasal dari 58 kelompok dan organisasi yang berbeda. Buku ini juga dilengkapi dengan hasil konsultasi dengan para ulama, intelektual, aktivis ormas Islam, para pengusaha, praktisi pendidikan, dan pejabat pemerintahan yang merasa prihatin dengan perkembangan gerakan Islam transnasional di Indonesia. Penelitian lapangan dan konsultasi dengan para tokoh ini berhasil mengungkap asal-usul, ideologi, agenda, dana, sistem, dan jaringan gerakan Islam transnasional dan kaki tangannya di Indonesia. Di samping rekomendasi untuk menghadapi dan mengatasi gerakan garis keras, buku ini juga menyajikan counter teologis atas klaim-klaim telogis mereka. "Studi ini kami lakukan dan publikasikan untuk mengbangkitkan kesadaran seluruh komponen bangsa, khususnya para elit dan media masa, tentang bahaya ideologi dan paham garis keras yang dibawa ke Tanah Air oleh gerakan transnasional Timur Tengah dan tumbuh seperti jamur di musim hujan dalam era reformasi kita," tulis KH. Abdurrahman Wahid (Gus Dur). "Buku ini adalah salah satu buku yang bisa menggugah kesadaran kita," kata Prof. Dr. A. Syafii Maarif, yang juga merupakan salah seorang narasumber dan penasehat seri televisi Lautan Wahyu. Sedangkan seri video Lautan Wahyu: Islam sebagai Rahmatan lil-Alamin adalah hasil interview dengan para ulama dan intelektual dalam dan luar negeri mengenai beberapa aspek ajaran Islam, terutama yang selama ini telah dipahami dan dipraktikkan secara salah kaprah. Seri Lautan Wahyu ini diharapkan bisa membuka pikiran dan hati serta memperluas wawasan tentang ajaran Islam, agar tujuan utama Kanjeng Nabi Muhammad saw. diutus, yakni sebagai wujud kasih-sayang Tuhan bagi seluruh makhluk yang akhir-akhir ini seperti dibantah oleh aksi-aksi beberapa kelompok umat Islam sendiri, bisa terwujud sebagaimana mestinya. "Pesan al-Qurân memang luar biasa, sebesar kesadaran manusia sendiri. Kalau kesadaran manusianya barbarian, apalagi (al-Qurân) hanya dibaca untuk pembenaran berkelahi," ungkap Moeslim Abdurrahman, maka Islam tidak akan bisa menjadi rahmat bagi seluruh makhluk-Nya. Dan, "Setiap dakwah yang bertentangan dengan prinsip-prinsip al-Qurân (hikmah, peringatan yang baik, perdebatan yang lebih baik), adalah dakwah yang salah. Para ulama dan intelektual wajib mengingatkan pelaku dakwah yang demikian, dan jika mereka menolak maka pemerintah wajib menangkap dan menghukum mereka sesuai dengan aturan yang berlaku," jelas Syeikh al-Akbar al-Azhar, Dr. Muhammad Sayid Thanthawi, salah seorang narasumber dan penasehat program Lautan Wahyu. Buku dan seri TV/video ini menegaskan pentingnya melestarikan nilai-nilai luhur agama, tradisi dan budaya bangsa yang santun serta toleran, dan sekaligus menyajikan counter teologis atas idiom-idiom dan term-term keagamaan yang selama ini sering digunakan oleh gerakan extremis transnasional untuk merekrut simpati dan dukungan dari umat Islam, seperti dakwah, amar maâruf nahy munkar, Khilafah Islamiyah, dan lain-lain. Secara khusus, dalam buku ini juga dilampirkan dokumen SKPP Muhammadiyah No. 149/Kep/I.0/ B/2006 yang merupakan keputusan untuk membela diri dari infiltrasi partai politik seperti PKS, dan Keputusan Majlis Bahtsul Masaâil NU bahwa Khilafah Islamiyah maupun negara Islam tidak mempunyai rujukan teologis baik di dalam al-Qurân maupun hadits. Dokumen-dokumen ini adalah peringatan tegas dan kuat bahwa gerakan transnasional yang mengancam Pancasila, UUD 1945, dan NKRI, serta praktik dan tradisi keberagamaan bangsa Indonesia. Usaha untuk mengatasai ancaman ini harus dilakukan secara damai dan bertanggung jawab, khususnya melalui pendidikan dan pembinaan kebebasan beragama dan berkeyakinan. Maka tanpa mengesampingkan pentingnya pembangunan ekonomi, pengelolaan pendidikan dan aspek-aspek keagamaan yang mengutamakan tradisi dan budaya bangsa Indonesia berdasarkan nilai-nilai luhur agama, dalam jangka panjang merupakan hal yang sangat penting bagi bangsa Indonesia. Buku Ilusi Negara Islam: Ekspansi Gerakan Islam Transnasional di Indonesia dalam bentuk e-book dapat diperoleh secara gratis melalui mengunduhnya (download) melalui alamat berikut: http://www.bhinnekatunggalika.org/galeri.html . ------------------------------------ *************************************************************************** Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. http://groups.yahoo.com/group/ppiindia *************************************************************************** __________________________________________________________________________ Mohon Perhatian: 1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik) 2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari. 3. Reading only, http://ppi-india.blogspot.com 4. Satu email perhari: [email protected] 5. No-email/web only: [email protected] 6. kembali menerima email: [email protected] Yahoo! Groups Links <*> To visit your group on the web, go to: http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/ <*> Your email settings: Individual Email | Traditional <*> To change settings online go to: http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/join (Yahoo! ID required) <*> To change settings via email: mailto:[email protected] mailto:[email protected] <*> To unsubscribe from this group, send an email to: [email protected] <*> Your use of Yahoo! Groups is subject to: http://docs.yahoo.com/info/terms/

