http://www.presidensby.info/index.php/fokus/2009/05/27/4339.html
Rabu, 27 Mei 2009, 17:51:38 WIB
Sri Mulyani:
Di Asia, Hanya China, India dan Indonesia Yang Alami Pertumbuhan Positif
*Plt.Menko Perekonomian Sri Mulyani didampingi Kepala Bappenas Paskah
Suzetta memberi keterangan pers usai mengikuti rapat terbatas di Kantor
Kepresidenan, hari Rabu (27/5) sore. (foto: haryanto/presidensby.info)
Jakarta: Presiden Susilo Bambang Yudhoyono kembali
memimpin ratas (rapat terbatas) kabinet di Kantor Presiden, hari Rabu
(27/5) siang. Ratas membahas Rencana Kerja Pemerintah dan Pokok-pokok
kebijakan fiskal dan kerangka ekonomi makro yang akan digunakan sebagai
landasan untuk menyusun RAPBN 2010. Hadir dalam rapat antara lain
Menkeu Plt. Menko Perekonomian Sri Mulyani Indrawati, Kepala Bappenas
Paskah Suzetta, Menko Polhukkam Widodo AS, Mendagri Mardiyanto, Menkes
Siti Fadhillah Soepari, Menhan Juwono Soedarsono serta dua Juru Bicara
Presiden, Dino Patti Djalal dan Andi A. Mallarangeng.
Usai rapat Sri Mulyani menjelaskan, tadi dilaporkan perkembangan
ekonomi yang paling terkini dari sisi perekonomian global maupun
nasional yang akan mempengaruhi indikator ekonomi yang relevan terhadap
penyusunan RAPBN 2010. Baik yang berhubungan dengan prospek
perekonomian di tahun 2010, trend dari harga-harga komoditas, proyeksi
pertumbuhan, harga minyak dan indikator ekonomi seperti inflasi, nilai
tukar dan suku bunga.
"Berdasarkan situasi yang dipantau sampai Mei minggu kedua, kami
melihat suatu confidence dan trend positif karena proyeksi pemulihan
ekonomi muncul secara cukup seragam di semua negara di dunia. Untuk
Asia, kwartal satu ada 3 negara yang hanya memiliki positive growth
yaitu, China, India dan Indonesia. Sedangkan seperti Malaysia,
Singapura dan negara-negara sekitar mengalami negative growth yang
sangat dalam, Singapore minus hampir 10% di kwartal pertama. Sementara
Indonesia masih di tingkat 4,3% . Ini permulaan yang cukup baik bagi
kinerja ekonomi 2009 yang akan menghantar kita terhadap prospek
perekonmian 2010," papar Sri Mulyani.
Ditambahkan, rupiah mengalami apresiasi sebesar 0,5 persen. "Neraca
perdagangan kwartal satu surplus 1,79 miliar Dolar AS, neraca modal dan
keuangan surplus sebesar 1,236 miliar Dolar AS. Total tambahan cadangan
devisa 3,295 milyar Dolar AS. Ini menyebabkan rupiah mengalami
apresiasi 0,5 persen," paparnya.
Sri Mulyani juga mengatakan bahwa pertumbuhan ekonomi kwartal satu,
pada konsumsi rumah tangga meningkat luar biasa cepat. "Dan ini
nampaknya terkait juga dengan pengeluaran pemerintah terutama untuk
mendanai Pemilu dan KPU, Bawaslu dan untuk pengamanan selama pemilu itu
adalah pengeluaran yang langsung dikeluarkan pada kuartal satu ini,
sehingga growth dari konsumsi pemerintah sangat tinggi dibandingkan
kuartal I tahun lalu," ujarnya.
"Selain itu, neraca perdagangan untuk kuartal kesatu adalah surplus
1,79 miliar Dolar AS. Sedangkan neraca modal dan keuangan mengalami
surplus 2,36 miliar Dolar AS. Ini menyebabkan total surplus dari kedua
neraca adalah 1,59 miliar Dolar AS. Total tambahan cadangan devisa
karena adanya surplus dua neraca ini adalah 3,95 miliar Dolar AS. Ini
yang menyebabkan rupiah kita mengalami apresiasi sekitar 6-5 persen
dari awal tahun," ujarnya.
"Total pertumbuhan tahun ini adalah 4,37 persen. Pertanian tumbuh
dengan sehat pada angka 4,79 pesen, pertambangan pada 2,16 persen,
industri pengolahan hanya tumbuh 1,62 persen, sektor listrik air dan
gas tumbuh di atas 11 persen dan sektor konstruksi 6,3 persen. Sektor
keuangan alami perlemahan turun 6,2 persen. Jadi dari sisi ini, dengan
hasil yang kita lihat dari kuartal satu dan proyeksi sampai akhir
tahun, maka untukk 2010 pemerintah memperkirakan kerangka makro yang
akan menjadi landasan menyusun APB adalah growthnya antara 5 sampai 6
persen, inflasi antara 4,5 persen sampai 5,5 persen, suku bunga antara
6 persen sampai 7 persen, nilai tukar Dolar antara Rp. 9.500 sampai
Rp.10.500, harga minyak antara 45 Dolar AS sampai 60 Dolar ASpada 2010
nanti," paparnya.
"Lifting minyak tidak akan bergerak banyak dari tahun lalu, yaitu
antara 950.000 sampai 970.000. Produk domestik bruto kita pada tahun
2010 berkisar antara 5.990 sampai 6.100, jadi kisarannya sekitar Rp 6
ribu triliun. Dengan situasi ini maka APBN 2010 nanti, arah dari
kebijakan 2010 sesuai dengan RKP 2010 adalah prioritas pertama
mendukung dan meneruskan pemulihan ekonomi," tambahnya.
Untuk belanja negara tahun 2010, pemerintah akan mendesain
program-program yang dianggap memiliki fungsi melindungi masyarakat
terutama masyarakat miskin. "Oleh karena itu program-program pemerintah
yang bersifat memelihara kesejahteraan rakyat apakah itu BOS, Raskin,
Jamkesmas, semuanya tetap akan diteruskan bahkan diperluas, ditambah
dengan PNPM yang sekarang akan mencakup semua kecamatan di seluruh
Indonesia," kata Sri Mulyani. Pemerintah juga akan memfokuskan kepada
belanja negara untuk meningkatkan kualitas SDM, tambahnya.
"Hal - hal yang harus dijadikan pegangan dalam menyusun RAPBN 2010
adalah rasio antara anggara untuk gaji karena adanya kenaikan gaji
selama 4-5 tahun terakhir. Terutama gaji untuk pendidikan meningkat
cukup banyak dan dengan pengeluaran pemerintah untuk yang sifatnya
belanja modal dan barang harus dijaga rasionya secara baik," ujarnya.
"Kemudian bagaiman menjaga keseimbangan antara belanja pusat dan
transfer ke daerah, sehingga semangat otonomi daerah tetap terjaga.
Reformasi birokrasi juga direncanakan dengan baik sehingga kinera bisa
meningkat seiring dengan perbaikan di bidang administrasi maupun
pembayaran gaji dan upahnya. Karena ini merupakan proses yang kontinyu,
saya dan Kepala Bappenas akan ke DPR utk menyampaikan ini pada 1 Juni
nanti, dan rapat kerja dengan dewan akan dilakukan pada tanggal 4,"
jelasnya. (mit)
[Non-text portions of this message have been removed]