http://www.antara.co.id/arc/2009/5/27/menguatnya-rupiah-akibat-pertumbuhan-ekonomi-positif/
27/05/09 19:40
Menguatnya Rupiah Akibat Pertumbuhan Ekonomi Positif
Jakarta (ANTARA News) - Menguatnya nilai tukar rupiah terhadap
dolar AS selama sepekan ini karena investasi dalam pertumbuhan ekonomi
Indonesia sekarang yang lebih baik atau positif, kata Pengamat Ekonomi
BNI, Ryan Kiryanto.
"Kurs rupiah sedang mengalami penguatan dalam sepekan ini berkisar
Rp10.300 per dolar AS, sebelumnya berkisar Rp12.000 per dolar AS," kata
Ryan Kiryanto di Jakarta, Rabu.
Akibat menguatnya rupiah, kata dia, sekarang pada kuartal pertama 2009
pertumbuhan ekonomi positif yakni sebesar 4,4 persen dan tahun
sebelumnya masih tumbuh 6,1 persen, sedangkan negara lain justru
mengalami minus.
Namun, para eksportir yang merasa dengan melemahnya nilai tukar mata
uang dolar, karena mereka tingkat keuntungannya cenderung menurun.
"Tingkat keuntungan eksportir rendah, tapi mereka tidak merugi. Mereka masih
untung," katanya.
Menurut dia, kondisi ini banyak dimanfaatkan atau mendorong pelaku
bisnis yang mengadalkan bahan baku impor akan membeli lebih banyak,
karena harga dolar lagi murah.
"Tapi, mereka diharapkan jangan terus membeli bahan baku yang
berlebihan sehingga terjadi over stok. Itu akan merugikan kita,"
katanya.
Kondisi itu, justru akan merugikan pembeli barang tersebut, karena tidak sesuai
kebutuhan mereka ke depan.
"Kalau suplai barang lebih akan mengakibatkan harga jatuh. Itu hukum ekonomi
berlaku," katanya.
Menurut dia, melemahkan nilai tukar dolar yang diuntungkan masyarakat, karena
harga-harga barang elektronik akan ikut turun.
"Coba jika harga nilai tukar dolar tinggi. Kita beli komputer, telepon
genggam, dan barang elektronik lain pasti mahal," katanya.
Melemahnya nilai tukar dolar AS, tidak berpengaruh dengan perdagangan
dalam negeri. Tapi, sejauh industri domestik tidak mengandalkan
komponen impor perdagangan di dalam negeri aman saja.
Sebaliknya, kalau pelaku bisnis memiliki pasar ekspor pada situasi
dolar melemah, mereka akan diuntungkan karena harga jual produknya
menjadi kompentitif. Beda dengan pelaku bisnis yang menggunakan bahan
baku impor dan dijual di dalam negeri harganya menjadi mahal dan barang
bisa tidak laku.
"Seharusnya, pelaku bisnis beli bahan baku impor dan diolah di dalam
negeri kemudian dipasarkan ke luar negeri sehingga akan seimbang,"
katanya.(*)
[Non-text portions of this message have been removed]