http://www.republika.co.id/berita/52453/Teori_Evolusi_Ibnu_Miskawaih
Teori Evolusi Ibnu Miskawaih
Teori ilmu pengetahuan yang telah kita pelajari tentang kehidupan yang selalu
berkembang adalah teori evolusi. Teori itu menjelaskan bahwa dunia ini tidak
bersifat statis, namun terus berubah. Sejak dibangku sekolah menengah, kita
diperkenalkan dengan Charles Darwin (1809 M-1882 M) yang diklaim peradaban
Barat sebagai pencetus teori evolusi.
Sejatinya, peradaban Islam di era kekhalifahan telah mengenal teori evolusi.
Sekitar sembilan abad sebelum Darwin mencetuskan teori itu, seorang Ilmuwan
Muslim asal Persia bernama Ibnu Miskawaih (932 M-1030 M) telah mengungkapkan
teori evolusi itu. Menurut Muhammad Hamidullah dan Afzal Iqbal dalam karyanya
bertajuk The Emergence of Islam: Lectures on the Development of Islamic
World-view, Intellectual Tradition and Polity, Ibnu Miskawayh merupakan orang
pertama yang memaparkan ide tentang evolusi secara jelas dan gamblang.
Menurut Hamidullah, ide teori evolusi telah ditemukan dalam karya Ibnu
Miskawah yang berjudul al-Fawz al-Asghar. Ibnu Miskawaih mengemukakan teori
evolusi makhluk hidup yang secara mendasar sama dengan Ikhwan al-Shafa’. Teori
itu terdiri atas empat tahapan, yakni evolusi mineral, evolusi tumbuhan,
evolusi hewan dan evolusi manusia.
Evolusi pertama adalah evolusi mineral, yakni bentuk kehidupan yang dihuni
makhluk-makhluk rendah, misalnya batu, air, tanah. Dalam karya tersebut Ibnu
Miskawaih mengungkapkan, "(Buku ini) menyatakan bahwa Allah merupakan yang
pertama kali menciptakan zat dan diinvestasikan dengan energi untuk
perkembangan. Zat diadopsi dari bentuk uap yang dianggap bentuk air karena
waktu.''
Hamidullah menambahkan, dalam kitabnya itu, Ibnu Miskawaih juga menjelaskan
tahapan selanjutnya dalam perkembangan adalah mineral kehidupan. Berbagai jenis
batu dikembangkan oleh waktu. Bentuk tertinggi mereka berasal mirjan
(karang/coral). Ini merupakan batu yang memiliki cabang di dalamnya seperti
yang pohon. Setelah mineral kehidupan barulah perkembangan vegetasi dimulai.
Proses evolusi kedua yang dijelaskan Ibnu Miskawaih adalah evolusi tumbuhan,
yang pada awalnya hanya rerumputan spontan yang muncul, kemudian barulah muncul
tanaman, lalu pepohonan tingkat tinggi. Di antara tumbuhan dan hewan terdapat
satu bentuk kehidupan tertentu. yang tidak dapat digolongkan tumbuhan maupun
hewan, namun memiliki ciri-ciri tumbuhan dan hewan, yaitu koral, dan euglena.
Selain itu, papat Hamidullah, Ibnu Miskawaih juga mengatakan evolusi tumbuhan
mencapai puncaknya dengan pohon yang menghasilkan hewan-hewan yang berkualitas.
Ini adalah palem kurma. Ini terbagi menjadi jantan dan betina. Pohon itu tak
akan layu jika semua cabangnya dipotong, tapi tanaman ini mati ketika kepalanya
dipotong.
Ibnu Miskawaih menganggap pohon palem kurma sebagai pohon tertinggi di antara
pohon lainnya dan mirip dengan bintang terendah, kemudian lahirlah bintang
terendah. Setelah itu, papar Ibnu Misawaih, tahapan berikutnya muncullah
evolusi hewan, dimana dicirikan oleh adanya daya gerak dan indera peraba dan
pada hewan yang lebih tinggi mulai adanya inteligensi. Hewan paling tinggi
adalah kera.
"Teori evolusi bukanlah dicetuskan Darwin, tapi Ibnu Miskwaih seperti yang
ditulis di dalam Ikhwan al-Safa,'' papar Hamidullah. Pemikir Muslim dari abad
ke-10 nitu menyatakan bahwa monyet berkembang menjadi jenis terendah dari
seorang Barbar. Dia kemudian menjadi manusia yang unggul. Manusia menjadi
seorang suci dan seorang nabi.
Ibnu Miskawaih mengatakan, semua mahluk bearasal dari Allah SWT dan semua
kembali kepada-Nya," papar Hamidullah dan Iqbal. Karena hal itulah, tutur Ibnu
Miskawaih, kemunculan evolusi manusia ditandai oleh adanya inteligensi dan daya
pemahaman.
Hamidullah dan Iqbal menegaskan, manuskrip Arab al-Fawz al-Asghar yang ditulis
Ibnu Miskawaih, telah tersedia di universitas-universitas Eropa pada abad
ke-19 M. Karya itu diyakini telah dipelajari Charles Darwin.
Sepanjang hidupnya, Ibnu Miskawaih meninggalkan banyak karya penting, misalnya
kitab tahdzibul akhlaq (kesempurnaan akhlak), tartib as-sa’adah (tentang akhlak
dan politik), al-siyar (tentang tingkah laku kehidupan), dan jawidan khirad
(koleksi ungkapan bijak).
Keruntuhan Teori Evolusi
Teori evolusi yang dikembangkan Charles Darwin dinilai penuh dengan kekeliruan
dan kebohongan. Adalah intelektual Muslim dari Turki, Harun Yahya yang
menentang teori yang dikembangkan Darwin itu. Lewat karyanya bertajuk The
Evolution Deceit (Keruntuhan Teori Evolusi), Harun Yahya mengungkapkan
fakta-fakta kekeliruan pemikiran Darwin, yang telah lama menjadi dasar bagi
semua filsafat anti-Tuhan (Darwinisme).
"Darwinisme menolak fakta penciptaan, dan lebih jauh lagi, penciptaan Allah,
dan selama 140 tahun terakhir filsafat ini telah membuat banyak orang
meninggalkan kepercayaannya atau jatuh ke dalam keraguan. Oleh karena itu,
sangat penting kiranya menunjukkan bahwa teori ini merupakan suatu kekeliruan
dan penipuan, dan menyebarkannya kepada semua orang," tungkap Harun Yahya.
Harun menjelaskan bahwa teori evolusi bukan hanya sekedar konsep biologi, tapi
juga memiliki pengaruh. "Teori evolusi telah menjadi pondasi sebuah filsafat
yang menyesatkan sebagian besar manusia," ujarnya menegaskan.
Filsafat tersebut, imbuh Harun, adalah materalisme, yang mengandung sejumlah
pemikiran palsu tentang mengapa dan bagaimana manusia muncul di muka bumi.
Apakah merupakan produk dari evolusi atau diciptakan?
Materialisme mengajarkan bahwa tidak ada sesuatu pun selain materi dan materi
adalah esensi dari segala sesuatu, baik yang hidup maupun tak hidup. Berawal
dari pemikiran itu, Harun memaparkan bahwa materialisme mengingkari keberadaan
Sang Maha Pencipta Allah SWT.
"Dengan mereduksi segala sesuatu ketingkat materi, teori ini mengubah manusia
menjadi makhluk yang hanya berorientasi kepada materi dan berpaling dari
nilai-nilai moral. Ini adalah awal dari bencana besar yang akan menimpa hidup
manusia," ujarnya.
Menurut Harun, makhluk hidup muncul bukan akibat proses evolusi, melainkan
muncul tiba-tiba dalam bentuk yang sempurna. Mereka diciptakan sendiri-sendiri.
Oleh karena itu, jelaslah bahwa "evolusi manusia" juga merupakan sebuah kisah
yang tak pernah terjadi.
Para evolusionis menyusun skenario evolusi manusia dengan menyusun sejumlah
tengkorak yang cocok dengan tujuan mereka, berurutan dari yang kecil hungga
ynag terbesar, lalu menempatkan dinatara mereka tengkorak manusia yang telah
punah.
Menurut skenario ini, manusia dan kera modern memiliki nenek moyang yang sama.
Nenek moyang ini berevolusi sejalan dengan waktu. Sebagian dari mereka menjadi
kera modern, sedangkan kelompok lain berevolusi melalui jalur yang berbeda,
menjadi manusia masa kini.
"Akan tetapi, semua temuan paleontologi, anatomi dan biologi menunjukkan bahwa
pernyataan evolusi ini fiktif dan tidak sahih seperti semua pernyataan evolusi
lainnya. Tidak ada bukti-bukti kuat dan nyata untuk menunjukkan kekerabatan
antara manusia dan kera. Yang ada hanya pemalsuan, penyimpangan, gambar-gambar
serta komentar-komentar menyesatkan," jelas Harun.
Menurut Harun, catatan fosil mengisyaratkan kepada kita bahwa sepanjang
sejarah, manusia tetap manusia, dan kera tetap kera. Sebagian fosil dinyatakan
evolusionis sebagai nenek moyang manusia berasal dari ras manusia yang hidup
hingga akhir-akhr ini sekitar 10 ribu tahun lalu dan kemudian menghilang.
Selain itu, banyak orang masa kini memiliki penampilan dan karakteristik fisik
yang sama dengan ras-ras manusia yang punah, yang dinyatakan evolusionis
sebagai nenek moyang manusia. "Semua ini adalah bukti bahwa manusia tidak
pernah mengalami proses evolusi sepanjang sejarah," tuturnya.
Bukti terpenting lainnnya, kata Harun, adalah perbedaan anatomi yang besar
antara kera dan manusia, dan tidak satupun di antara perbedaan tersebut muncul
melalui proses evolusi.
Evolusionis Rusia, Alexander I Oparin dalam karyanya bertajuk "The Origin of
Life" menyatakan teori evolusi Darwin tak bisa menjelaskan asal-usul sel.
"Sayangnya, asal usul sel masih menjadi pertanyaan, yang merupakan titik
tergelap dari teori evolusi yang utuh," paparnya.
Ketidakjelasan itu mengundang banyak evolusionis melakukan penelitian dan
pengamatan untuk membuktikan bahwa sebuah sel dapat terbentuk secara kebetulan.
Akan tetapi, setiap upaya hanya memperjelas desain sel yang kompleks sehingga
semakin menggugurkan hipotesis mereka.
Profesor Kaluse Dose, kepala Institus Biokimia di Universitas Johanes Gutenberg
menyatakan, "Percobaan tentang asal-usul kehidupan di bidang kimia dan evolusi
molukuler selama lebih dari 30 tahun, menghasilkan persepsi yang lebih baik
tentang kompleksitas asal usul kehidupan di bumi ini, dan bukannya memberikan
jawaban yang mereka harapkan. Saat ini, semua diskusi mengenai teori-teori
dasar dan penelitian di bidang ini berakhir dengan kebuntuan atau pengakuan
atas ketidaktahuan."
Di sini jelas sudah bahwa evolusinis tidak mampu menjelaskan proses pembentukan
sel. Baik hukum probabilitas, hukum fisika, mapun kimia tidak memberikan
peluang sama sekali bagi pembentukan kehidupan secara kebetulan.
"Jika satu protein saja tidak dapat terbentuk secara kebetulan, apakah masuk
akal jika jutaan protein menyatukan diri membentuk sel, lalu milyaran sel
secara kebetulan pula menyatukan diri menjadi orga-organ hidup, lalu membentuk
ikan, kemudian ikan beralih ke darat menjadi reptil, dan akhirnya menjadi
burung? Begitukah cara jutaan spesies di bumi ini terbentuk," kata Harun.
she/des/taq
[Non-text portions of this message have been removed]