http://regional.kompas.com/read/xml/2009/05/28/09292030/sejumlah.tokoh.agama.kumpul.di.maluku.utara


Sejumlah Tokoh Agama Kumpul di Maluku Utara

Kamis, 28 Mei 2009 | 09:29 WIB
Laporan wartawan KOMPAS Imam Prihadiyoko


JAKARTA, KOMPAS.com - Sekitar 30 pemuka atau tokoh lintas agama tingkat pusat 
sedang melakukan Dialog Pengembangan Wawasan Multikultural antara Pemuka Agama 
Pusat dan Daerah di Ternate, dan Halmahera, Maluku Utara. Dialog yang dimulai 
kemarin akan berakhir besok.

Pusat Informasi Departemen Agama di Jakarta, Kamis (28/5), menyebutkan, tokoh 
agama yang ikut dalam pertemuan itu antara lain Ketua Pimpinan Pusat 
Muhammadyah Goodwil Zubir, Ridwan Lubis dari Pengurus Besar Nahdlatul Ulama, I 
Nengah Dana dari Parisada Hindu Dharma Indonesia, Romo Benny Susetyo dari 
Konferensi Waligereja Indonesia, Pendeta Kumala Setiabrata dari Persatuan 
Gereja-gereka di Indonesia, Slamet Effendi Yusuf dari Majelis Ulama Indoneisa, 
Sudjito Kusumo dari WALUBI, serta Herlianti Widagdo dari MATAKIN.

Rombongan disambut Wagub Maluku Utara Abdul Ghani Kasuba serta sejumlah tokoh 
dan pemuka agama Maluku Utara. Goodwil Zubir menegaskan bahwa sepanjang sejarah 
konflik horizontal yang pernah terjadi di Indonesia, tidak pernah bermula atau 
berawal dari agama sebagai pemicunya. Misalnya kasus di Poso, Aceh, Sampit, dan 
di Maluku ini, bukan merupakan konflik agama. "Namun konflik kepentingan yang 
kemudian dibungkus atau dikemas dengan agama," ujarnya.

Menurut Goodwil, salah satu tujuan penyelenggaraan dialog antartokoh agama 
pusat dan daerah ini, antara lain untuk menyerap kearifan-kearifan lokal yang 
terdapat di Maluku Utara.

"Ini juga kita lakukan di daerah-daerah lain. Bisa saja kearifan lokal yang ada 
di Maluku Utara ini kemudian bisa diterapkan di daerah lain. Demikian juga 
sebaliknya," ujarnya.

Abdul Ghani Kasuba mengakui bahwa konflik yang terjadi di Maluku dan Maluku 
Utara beberapa tahun silam, di tingkat masyarakat sendiri tidak mengetahui apa 
pemicunya. "Yang jelas sampai hari ini, kita semua berupaya untuk melupakan 
peristiwa itu. Kita sekarang hidup damai, bersatu dan saling menghargai satu 
sama lain," ujarnya.  


[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke