Revrisond Baswir : 
Ketiga Pasangan Penganut Ekonomi Neoliberal
 
Jakarta - Dari ketiga calon presiden dalam Pemilu Presiden 2009, tak ada satu 
pun yang merupakan pembela sejati ekonomi kerakyatan. Selama menjabat atau 
pernah menjabat, baik Megawati Soekarnoputri, Susilo Bambang Yudhoyono, maupun 
M Jusuf Kalla mempraktikkan ekonomi neoliberal. Hal itu dikatakan pakar ekonomi 
dari Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta, Revrisond Baswir, dalam diskusi 
membongkar ideologi politik dan ekonomi calon presiden di Pusat Pengkajian 
Strategi dan Kebijakan di Yogyakarta, Jumat (22/5).

”Masyarakat jangan terlalu banyak berharap, siapa pun yang menang belum tentu 
terjadi perubahan yang benar-benar mendasar yang mengarah pada tegaknya ekonomi 
rakyat,” kata Revrisond, seperti dilaporkan Kompas. Ia menuturkan, selama 
menjabat atau pernah menjabat, ketiga kandidat sulit mengelak disebut 
mempraktikkan ekonomi neoliberal. Misalnya, pada era Megawati terjadi 
privatisasi badan usaha milik negara (BUMN). Padahal, dalam ekonomi kerakyatan, 
BUMN harus dijaga dalam penguasaan negara.

Yudhoyono dan Kalla, selama pasangan ini menjabat, menaikkan harga bahan bakar 
minyak beberapa kali. Artinya, subsidi kepada rakyat dikurangi. Satu ciri 
ekonomi neoliberal adalah penghapusan subsidi.

Menurut dia, sosok Boediono, calon wakil presiden pendamping Yudhoyono, juga 
tak bisa mengelak disebut sebagai pendukung neoliberal. Dari rekam jejaknya, 
sangat tampak Boediono mendukung privatisasi BUMN saat menjabat sebagai menteri 
keuangan.

Revrisond menuturkan, ekonomi kerakyatan sebenarnya diatur dalam Pasal 33 
Undang-Undang Dasar 1945 dan diperkuat pada Pasal 34. Dalam ekonomi kerakyatan, 
negara wajib menyusun perekonomian berdasarkan asas kekeluargaan.

Tidak hitam putih
 
 Secara terpisah, Boediono menyebutkan, dalam menghadapi tuntutan kalangan 
swasta, terkait dengan sebuah proyek, segala sesuatu tidak bisa dilihat secara 
hitam putih saja. Namun, jangan sampai dikorbankan sistem yang sudah dibangun 
hanya untuk menyelesaikan kasus yang dihadapi hari ini.

”Saya pragmatis. Namun, jangan sampai kita mengorbankan sistem untuk menangani 
suatu kasus yang kita hadapi hari ini. Membentuk sistem dan aturan main yang 
baik itu adalah salah satu tujuan utama, tidak hanya agar proyek jalan. Bentuk 
sistem sesuai dengan aturan yang baik itu penting. Jangan selalu dikorbankan,” 
papar Boediono kepada Kompas di rumahnya, Jakarta,  Kamis.(rif)
 
http://www.satunews.com/read/2419/2009/05/24/ketiga-pasangan-penganut-ekono-html


      

[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke