http://www.antara.co.id/arc/2009/5/29/pengamat--ekonomi-indonesia-sudah-terdesain/
29/05/09 01:29
Pengamat : Ekonomi Indonesia Sudah Terdesain
Jakarta (ANTARA News) - Pengamat Pasar Modal, Poltak Hotradero, mengungkapkan,
Indonesia merupakan sebuah negara yang ekonominya sudah berbentuk secara
spesisfik.
"Ekonomi Indonesia sudah punya `picture` (gambaran) tersendiri. Ibaratnya,
seperti mobil VW (vorkswagen) kodok, bangungan, desain, isi dan kekuatannya
sudah terbentuk. Jadi sulit jika ingin digunakan untuk balapan ataupun dibawa
ke hutan," ungkapnya pada talkshow menelaah visi ekonomi capres dan cawapres di
Intiland Tower, Wisma Dharmala Sakti, Jakarta, Kamis.
Desain ekonomi Indonesia kata pengamat Pasar Modal itu telah diatur dalam
Undang-undang No. 17 tahun 2003 tentang Keuangan Negara yang menyatakan, utang
Indonesia tidak boleh bertumbuh lebih besar dari pertumbuhan ekonomi Indonesia,
total defisit anggaran tidak boleh lebih besar daripada tiga persen PDB (Produk
Domestik Bruto) serta rasio utang total terhadap PDB tidak boleh melebihi 60
persen.
"Itulah kerangka ekonomi Indonesia. Jadi bagaimana bisa visi capres yang akan
mengubah secara radikal konsep ekonomi Indonesia tanpa berbenturan dengan
konstitusi," katanya.
"Konstitusi sudah menyaratkan rambu-rambu itu sehingga jika suatu visi ekonomi
yang dijanjikan itu bertolak belakang, berarti dilakukan secara
inkonstitusional," ungkap Poltak Hotradero.
UU keuangan Negara tersebut kata dia, bukan mengekang pertumbuhan ekonomi
Indonesia, tetapi hanya sebagai kontrol agar pemerintah menggunakan `budget`
(angaran) seefisien mungkin.
"Justru baik sebab pemerintah tidak seenaknya mencetak uang. Dengan UU itu
pula, BI (Bank Indonesia) sebagi bank sentral akan lebih independen dan fukos
pada fungsinya yakni menjaga inflasi, mengendalikan nilai tukar serta stimulus
pertumbuhan ekonomi," katanya.
Ditanya terkait janji salah satu pasangan capres yang akan meningkatkan
pertumbuhan ekonomi Indonesia hingga tujuh persen, pengamat Pasar Modal itu
mengilai janji tersebut masih logis.
"Kalau dilihat kemampuan pemerintah itu bisa saja sebab masih ada beberapa
stimulus ekonomi yang belum digarap maksimal seperti pada sektor pajak.
Pertumbuhan ekonomi hingga delapan persen masih bisa diterima secara logis,
kecuali jika pertumbuhan hingga 10 persen itu yang sulit sebab sama artinya
pertumbuhan investasi Indonesia setara dengan 100 persen," ungkap Poltak
Hotradero. (*)
[Non-text portions of this message have been removed]