http://www.antara.co.id/arc/2009/5/28/ada-suasana-indonesia-di-belanda/

28/05/09 12:30

Ada Suasana Indonesia di Belanda


Oleh Rahma Saiyed

Den Haag (ANTARA News) - "Cinta...Cinta...Cinta...Indonesia..," demikian 
sepenggal lirik lagu "Cinta Indonesia" karya Guruh Soekarnoputra yang 
dilantunkan penyanyi Norma Yunita di hadapan sejumlah investor dan warga negara 
Belanda pada promosi kesenian dan kebudayaan Indonesia di Hotel Kurhaus, Den 
Haag, 26 Mei.

Lagu yang populer pada 1980-an itu telah membuat hadirin, baik warga negara 
Indonesia maupun warga Belanda, serasa berada di tanah air.

Satu per satu, tarian dari beberapa daerah di Indonesia disuguhkan ke para 
hadirin, tak ketinggalan musik angklung binaan Daeng Udjo yang mengalun berpadu 
dengan alat musik moderen sehingga penonton terkesima mendengarnya.

"Terasa seperti di kampung sendiri. Saya rindu ingin balik ke Indonesia," kata 
Malik, keturunan Indonesia yang mengaku sudah 44 tahun tinggal di Belanda.

Kata Malik, semakin lama di perantauan, dia semakin menyadari betapa besar 
kekayaan yang dimiliki Indonesia, tidak hanya sumber daya alamnya, tetapi juga 
kesenian dan kebudayaan.

Suasana serupa ditemukan pada Tong Tong Fair (TTF) 2009.  Pameran terbesar di 
Eropa yang diselenggarakan tiap tahun di Den Haag itu menampilkan sejumlah 
atraksi dan kesenian, juga makanan dan produk-produk khas Indonesia. Pameran 
ini berlangsung dari 21 Mei sampai 1 Juni ini.

Suasana keindonesiaan yang menyemarakan pameran itu telah menghibur masyarakat 
Indonesia, khususnya mereka yang puluhan tahun menetap di Belanda dan tidak 
pernah lagi kembali ke tanah air.

"Kami sangat senang karena masih bisa merasakan suasana Indonesia di tempat 
ini. Sejak pemerintahan Soekarno hingga sekarang ini, saya tidak pernah lagi 
menginjak Indonesia," ujar Piet Haruna, lelaki berusia 61 tahun yang telah 
menjadi warga negara Belanda.

Meski tidak lagi menjadi WNI, Piet mengaku hatinya masih tertambat ke 
Indonesia. Di hadapan pengunjung, dia sempat melantunkan lagu "Torang Semua 
Basudara" dan menari poco-poco.

Selain dibuai atraksi kesenian, para pengunjung juga menikmati makanan khas 
Indonesia seperti gado-gado, empek-empek, cendol, martabak telor, dan pisang 
goreng yang disajikan para peserta pameran yang terdiri dari pelaku industri 
pariwisata dan pengusaha kalangan menengah asal Indonesia itu. Mereka juga 
menjual batik dan berbagai aksesoris khas Indonesia.

Tidak ketinggalan, sejumlah pengusaha dari berbagai negara Eropa seperti 
Belanda, Jerman dan Belgia, berpartisipasi dalam eksibisi tersebut.

Nostalgia

Selain ajang promosi Indonesia, Tong Tong Fair (TTF) juga menjadi media 
bernostalgia dari orang-orang Belanda yang pernah menetap di Indonesia zaman 
dahulu.

"Setidaknya, kehadiran pameran ini akan membuat mereka terkenang dengan masa 
lalunya," kata  Menteri Kebudayaan dan Pariwisata Indonesia Jero Wacik usai 
meresmikan Paviliun Indonesia di TTF.

Tahun depan, promosi Indonesia di ajang ini harus dilakukan lebih besar lagi 
sehingga jenis musik dan tarian Indonesia dari masing-masing daerah pun mesti 
diperbanyak dan ditampilkan.

"Pasar Malam Tong Tong ini adalah pasar malamnya Indonesia," kata dia.

Jero optimistis pameran ini membuat Indonesia mampu menggaet sekitar 500 ribu 
wisatawan asal Belanda, apalagi maskapai nasional Garuda Indonesia diizinkan 
kembali terbang langsung dari dan ke Eropa tahun ini.

Dia mengungkapkan, wisatawan Belanda sangat berminat berkunjung ke Indonesia, 
mengingat kedua negara memiliki ikatan emosional dan kekeluargaan yang kuat.

"Meski diantara mereka ada yang mengunjungi Indonesia dengan alasan hanya untuk 
mengunjungi makam opa-omanya, itu menjadi potensi paket wisata bagi negara 
kita," katanya.

Optimisme juga dilontarkan Duta Besar Indonesia untuk Kerajaan Belanda, JE 
Habibie, yang menyebut 1,7 juta dari 17 juta penduduk Belanda memiliki hubungan 
kekeluargaan dengan orang Indonesia, diantaranya lewat pernikahan.  Apalagi, 
kondisi Indonesia saat ini telah membaik dam aman.

Jero menilai, pada dasarnya, wisatawan enggan berkunjung ke Indonesia karena 
mengkhawatirkan terorisme dan penyebaran penyakit, namun persoalan ini 
diantaranya bisa ditepis dengan promosi besar-besaran oleh Indonesia ke 
negara-negara Eropa, termasuk Jerman, Inggris dan Belanda.

Indonesia, demikian Habibie, berupaya memanjakan dan memudahkan para turis 
mancanegara yang ingin bepergian ke Indonesia, seperti lewat tawaran "visa on 
arrival" yang masa berlakunya hanya sebulan.

"Bila jumlah wisatawan di negara kita naik, maka industri perdagangan pun akan 
turut naik," katanya.

Oleh karena itu, pemerintah mesti serius memberi perhatiaan pada sektor 
pariwisata, mengingat kontribusinya pada pendapatan nasional mencapai 7,5 
miliar dolar Amerika Serikat (Rp78,7 triliun), padahal alokasi dana APBN untuk 
sektor ini hanya sekitar Rp1,1 triliun.

"Kita akan tetap menggenjot wisatawan untuk mau datang ke Indonesia, meski ada 
keterbatasan dana," janji adik mantan Presiden BJ Habibie itu. (*)



      

[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke