http://www.dw-world.de/dw/article/0,,4283108,00.html
Provokasi Berkesinambungan Korea Utara Pojokkan AS
*Korea Utara mengkui telah melakukan ujicoba atom
AS tetap mengupayakan dialog dengan Korea Utara, walaupun negara itu melakukan
ujicoba atom dan roket. Tapi tanpa perubahan kebijakan, Korea Utara akan
merasakan dampak dari langkah mereka.
Beberapa jam sebelum Korea Utara meluncurkan roket jarak pendeknya, jurubicara
Kementrian Luar Negeri AS, Ian Kelly masih bersikap optimis. Dikatakannya:
"Pintu perundingan masih tetap terbuka."
Tetapi peluncuran roket yang ketiga setelah ujicoba nuklir hari Senin lalu,
menunjukkan bahwa rejim penguasa di Pyongyang menutup semua pintu perundingan.
"Korea Utara semakin mengucilkan diri dari masyarakat internasional." Demikian
tandas jurubicara Obama, Robert Gibbs. Tetapi nampaknya rejim di Pyongyang
tidak peduli. Walaupun begitu Kementrian Luar Negeri AS mengemukakan akan tetap
mempertahankan perundingan internasional dengan rejim Kim Jong Il. Pemerintah
AS juga menyadari, bahwa baik perundingan enam pihak maupun sejumlah resolusi
Dewan Keamanan PBB selama ini tidak berdampak pada keputusan yang diambil
Pyongyang. Kini Presiden Obama memusatkan harapannya pada Cina dan Rusia.
Dikatakannya: "Kita akan bekerja sama dengan semua sahabat dan sekutu untuk
menghadapi sikap Korea Utara. Selain itu saya mengimbau bagi diperkuatnya
tekanan internasional."
Tetapi yang dapat melakukan sedikit tekanan hanyalah Beijing dan Moskow. Kepala
staf militer Obama, Rahm Emanuel dengan perasaan lega melihat bahwa Cina dan
Rusia kali ini pun mengecam ujicoba nuklir Korea Utara. Berbeda dengan di masa
lampau kedua negara itu tidak lagi hanya sekedar berbasa-basi secara diplomatis.
"Masyarakat internasional mengecam tindakan Korea Utara." Demikian dikemukakan
pula oleh dutabesar AS pada PBB, Susan Rice. Tetapi yang meresahkan para
penasehat Obama adalah semakin berkurangnya pengaruh Beijing pada Pyongyang.
Diktator Korea Utara Kim Jong Il memang menerima kredit bernilai jutaan dari
Cina, kiriman pupuk dan minyak, tetapi menunjukkan sikap kebal terhadap
anjuran-anjuran Beijing di bidang politik.
"Kami tidak mengakui Korea Utara sebagai negara nuklir." Begitu ditegaskan oleh
jurubicara kementrian luar negeri AS, Ian Kelly. Saat ini dari pangkalan
militer di Jepang pesawat-pesawat pengintai AS mengukur kadar gas radioaktif di
udara. AS ingin mengetahui berapa kekuatan bom Korea Utara itu sebenarnya.
Menurut sepengetahuan AS, Iran, Suriah dan Libya sudah lama menjadi penerima
teknik roket Korea Utara. Washington kuatir, diktator Pyongyang, Kim Jong Il
dapat pula menyalurkan bahan-bahan nuklir kepada jaringan teror Al Qaida.
Menurut harian New York Times, para penasehat Obama hanya melihat satu cara
untuk mencegahnya. Yaitu, semua kapal dari dan menuju Korea Utara harus
diperiksa. Untuk itu, AS memiliki wewenang berdasarkan resolusi PBB. Tetapi
Korea Utara mengancam akan melakukan aksi militer terhadap Korea Selatan,
seandainya kapal-kapal Korea Utara diperiksa dalam kerangka "Prakarsa Keamanan
Proliferasi" (PSI) yang dipimpin AS.
Ralph Sina / Dewi Gunawan-Ladener
Editor: Hendra Pasuhuk
[Non-text portions of this message have been removed]