Saling Sindir: Komunikasi yang Tidak Sehat Seorang pakar komunikasi politik Amerika mengemukakan empat syarat penting yang harus dipenuhi seorang politisi untuk bisa memenangi pemilihan presiden.
Pertama,integritas calon yang tinggi. Kedua, program kerja yang ditawarkan calon memikat rakyat.Ketiga, organisasi politik yang efisien sehingga mampu menggerakkan mobilisasi massa.Keempat, dukungan “logistik“ (baca: dana) yang kuat. Untuk merealisasikan syarat pertama hingga ketiga, komunikasi politik sangat dibutuhkan.Bagaimana calon dapat “menjual“ dirinya sedemikian rupa sehingga rakyat bersimpati dan memberikan dukungan menggebu-gebu, jika ia tidak pandai berkomunikasi langsung dengan mereka? Bagaimana rakyat tahu dan tertarik dengan program kerja calon jika tidak ada public exposure secara masif oleh calon dan partainya? Bagaimana mesin partai bisa digerakkan optimal jika para kader partai tidak berkampanye kepada konstituennya, termasuk konstituen lawan? Aristoteles memberikan ilmu kepada mereka—khususnya politisi— yang ingin mempengaruhi orang banyak lewat komunikasi. Sekitar 2.500 tahun yang lalu filsuf ini memperkenalkan dan mengajarkan teori retorika di sekolahnya yang bernama Leceum. Menurut Aristoteles, supaya retorika seseorang bisa efektif, ada 3 persyaratan yang harus dipenuhinya, yaitu etos (integritas, harga diri, kemampuan intelektual), logos (kemampuan menyodorkan argumentasi, nalar) dan pathos(kemampuan membangkitkan emosi orang banyak, sehingga mereka menjadi marah,gembira,atau sedih). Menurut hemat saya, para politisi kita,termasuk calon presiden dan calon wakil presiden,kerap lebih menonjolkan aspek pathos ketika mereka melancarkan komunikasi politik (baca: kampanye).Kecenderungan ini sah-sah saja.Yang perlu diingat,Aristoteles tidak pernah mengatakan bahwa pathos itu dibangkitkan sembarang.Ketika komunikator mencoba membangkitkan emosi pendengarnya, mereka tetap dituntut untuk memakai argumentasi yang kuat. Ingat, kita berbicara dalam konteks proses pemilihan presiden, sehingga unsur argumentasi bertambah penting. Fenomena “saling sindir“ menunjukkan penggunaan pathos yang tidak tepat, bahkan ngawur, karena sangat tidak substantif. Contoh: Kalla berkata, “Lebih cepat,lebih baik.“ Pihak SBY menjawab: “Cepat tidak selalu aman.“ Tudingan Mega bahwa ”BLT membodohkan rakyat,” dibalas, “Daripada Mega yang tidak membantu rakyat.”Prabowo berkilah ”Kenapa puas dengan 7%? Kenapa takut menetapkan 12%?”sebagai reaksi atas pernyataan SBY bahwa pertumbuhan ekonomi pada akhir 2010 bisa mencapai 7%. Kwik Kian Gie menuding Boediono pengikut ekonomi Neoliberal, lalu Chatib Basri membalas,“Kwik tidak bisa bedakan neoliberalisme dan Neozep.” Rakyat, saya kira, tidak suka dengan sindir-menyindir yang kekanak-kanakan ini. Politisi kita kerap lupa bahwa komunikasi politik yang diperlukan haruslah yang berkualitas, bukan asal-asalan.Dalam proses komunikasi politik,pesan diibaratkan peluru.Karena pemilu identik dengan peperangan (election is war), maka peluru-peluru itu tidak boleh dimuntahkan seenaknya, melainkan harus tepat sasaran dan tepat waktu. Begitu juga dengan pemilihan presiden: pesanpesan yang disampaikan kepada rakyat haruslah tepat sasaran dan tepat waktu, sehingga dapat menimbulkan efek yang optimal sesuai yang dikehendaki. Ekonomi neoliberal yang bagaimana? Ekonomi kerakyatan yang bagaimana? Rakyat kita seolah sedang menyaksikan tontonan berjudul “Neoliberal lawan Kerakyatan”. SBY-Boediono digambarkan sebagai representasi kubu neoliberal, sedangkan Mega-Prabowo kerakyatan. JK-Win? Sepertinya berdiri di tengah-tengah,mengambang. Tapi apa itu ekonomi kerakyatan dan bagaimana implementasinya? Mega-Prabowo sampai sekarang tidak pernah menjabarkannya secara eksplisit.Mereka hanya berteriak dan menyerang.Namun, pada akhirnya serangan menampar diri sendiri. *** Sistem ekonomi neoliberal bukan isapan jempol, tapi riil. Penggagasnya adalah John Williamson. Konsepnya disebut juga “Washington Consensus”. Sistem ekonomi ini mengandung dua prinsip dasar, yakni free tradedan free market.Ada sekitar 10 karakteristik ekonomi neolibiral ini, yang utama adalah (a) kebijakan fiskal yang ketat, (b) pencabutan subsidi, (d) privatisasi BUMN, (e) reformasi sistem perpajakan, dan (f) kebebasan investasi modal asing. Tentu, “Washington Consensus” juga mengandaikan “cengkeraman” asing kepada bangsa sedang berkembang. Mereka seperti sinterklas memberikan banyak utang kepada kita.Namun,di balik sikap yang simpatik itu, mereka berusaha mendikte kebijakan perekonomian kita. Neoliberal di negara kita tampaknya mulai berkibar setelah Orde Baru runtuh.Maka,pemerintahan Megawati—juga Habibie dan Gus Dur—sesungguhnya juga berwatak neolib.Penjualan(bahasakerennya: privatisasi) BUMN digenjot habishabisan pada era Megawati.Campur asing dalam perekonomian terasa sekali, misalnya dalam menyusun sebuah undang-undang, atau pengurangan subsidi BBM. Para menteri yang duduk dalam pemerintahan Megawati selalu mengklaim mereka tidak salah. Penjualan BUMN semata-mata implementasi dari amanat rakyat yang dituangkan dalam Ketetapan MPR ketika itu. Memang Bab IV GBHN 1999–2004 dengan jelas memerintahkan pemerintah untuk “mengembangkan persaingan yang sehat dan adil serta menghindarkan terjadinya struktur pasar modal monopolistik dan berbagai struktur pasar yang distortif yang merugikan masyarakat. ”Bukankah amanat MPR ini berwatak neoliberal? Tentang BUMN,GBHN 1999–2004 juga menegaskan, “Bagi badan usaha milik negara yang usahanya tidak berkaitan dengan kepentingan umum didorong untuk privatisasi melalui pasar modal.” Dengan “senjata” TAP MPR tentang GBHN ini pemerintahan Gus Dur dan Megawati pun melego banyak BUMN. Nah, dalam komunikasi politik para calon presiden dan calon wakil presiden, kenapa substansi tidak dijabarkan secara rinci agar rakyat mengetahui duduk persoalan yang sebenarnya? Kenapa yang ditonjolkan hanyalah sindir-menyindir yang hanya membangkitkan rasa kebencian satu sama lain? Jika fenomena sindir-menyindir ini berlangsung terus, kita khawatir massa akar rumput lamakelamaan akan terpancing, kemudian melakukan tindakan-tindakan destruktif yang hanya merugikan rakyat kita.(*) Tjipta Lesmana Pengamat Politik dan Pakar Komunikasi Politik http://www.seputar-indonesia.com/edisicetak/content/view/241973/ my facebook: http://id-id.facebook.com/people/Wahyudi-Yudi/1484406851 Get your new Email address! Grab the Email name you've always wanted before someone else does! http://mail.promotions.yahoo.com/newdomains/aa/ [Non-text portions of this message have been removed]

