http://www.gatra.com/artikel.php?id=126549


Seruan AJI
Upah Layak Jurnalis Minimal Rp4,5 Juta


Jakarta, 27 Mei 2009 09:26
Aliansi Jurnalis Independen (AJI) kembali menyerukan, upah layak minimal 
jurnalis di Jakarta Rp 4,5 juta, berdasarkan besaran kebutuhan hidup tahun 2009.

"Angka itu diperoleh dari hasil survei di lapangan, terkait dengan harga-harga 
kebutuhan pokok selama dua bulan yaitu Februari hingga April," kata Ketua AJI 
Jakarta, Wahyu Dhyatmika, di Jakarta, Selasa (26/5) malam.

Besaran upah layak minimal tersebut, kata Wahyu, mengalami kenaikan dari tahun 
2008 yang berada pada angka Rp4,1 juta.

Dari survei terbaru tersebut, kebutuhan sandang mengalami peningkatan, 
sedangkan kebutuhan lainnya termasuk makan dan akomodasi relatif tetap.

Kebutuhan tersebut dibagi ke dalam enam kelompok besar menjadi kebutuhan pangan 
(makanan), papan (kebutuhan tempat tinggal), kebutuhan sandang (pakaian), 
kebutuhan lain (transportasi, komunikasi, kesehatan, toiletries, rekreasi, 
sosial kemasyarakatan, atau bacaan), kebutuhan alat kerja (laptop), atau 
kebutuhan tabungan serta asuransi.

Penentuan standar upah layak tersebut, menurutnya, sangat penting sehingga 
perusahaan media sekaligus serikat pekerja mempunyai nilai tetap dalam 
merumuskan upah bagi karyawan perusahaan media khususnya di Jakarta. "AJI 
menyadari belum semua media telah memenuhi standar upah itu, berbagai alasan 
termasuk menghindar dari kebijakan ini," ujar Wahyu.

Sementara, Koordinator Divisi Serikat Pekerja AJI Jakarta, Riky Ferdianto, 
mengatakan bahwa perusahaan yang masuk kategori pertama dihimbau untuk 
menyampaikan kinerja dan laporan keuangan perusahaan secara transparan kepada 
perwakilan karyawan melalui serikat perkerja. "AJI Jakarta akan memfasilitasi 
serikat pekerja media yang berencana untuk membicarakan standar upah tersebut 
dengan manajemen perusahaan," ujarnya.

Upah layak bagi pekerja media, menurutnya, sangat penting untuk membangun pers 
yang berkualitas di Indonesia.

Riky menambahkan, tanpa jaminan pendapatan yang memadai, jurnalis akan terjebak 
pada praktek suap dengan mengorbankan idealisme dan independensi berita. 
"Akibatnya publik akan memperoleh informasi yang bias kepentingan dan cenderung 
menipu," ujar Riky.

Pada saat yang sama hadir pula, aktivis pekerja, Rieke Diah Pitaloka, yang 
memberikan dukungan kepada AJI untuk mengkampanyekan upah layak bagi pekerja 
media. "Seperti kampanye AJI pada hari buruh 1 Mei lalu, saya menyerukan tolak 
amplop dan sejahterakan wartawan," kata Rieke dalam orasinya.

Dengan penetapan tersebut, diharapkan berbanding lurus dengan kualitas dan 
profesionalisme para pekerja media di lapangan. [TMA, Ant] 


[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke