maaf telat mengikuti.
salam
---
Pers Release
Peluncuran buku dan dvd
The Wahid Institute, Gerakan Bhinneka Tunggal Ika, dan The Maarif Institute
Tokoh Islam Moderat Meluncurkan Buku—
"Ilusi Negara Islam: Ekspansi Gerakan Islam Transnasional di Indonesia,"
dan
Seri TV/Video--"Lautan Wahyu: Islam sebagai Rahmatan lil-Alamin," untuk
Mewujudkan Islam sebagai Rahmatan lil-Alamin
Jakarta, 16
Mei 2009
JAKARTA, INDONESIA (16 Mei 2009)Tiga tokoh besar Islam moderat meluncurkan
buku dan seri video untuk melestarikan tradisi dan budaya bangsa Indonesia yang
santun dan toleran berdasarkan nilai-nilai luhur agama, serta mewujudkan dunia
yang aman, damai, dan sejahtera. Program ini juga bertujuan membantu dunia
mengatasi krisis kesalahpahaman tentang agama dan kesalahkaprahan pengamalannya
yang mengancam kedamaian di mana-mana.
Mantan Presiden Indonesia, KH. Abdurrahman Wahid (Gus Dur), bersama mantan
Ketua
Umum Muhammadiyah, Prof. Dr. Ahmad Syafii Maarif (Buya), dan tokoh terkemuka
Nahdlatul Ulama, KH. A. Mustofa Bisri (Gus Mus), bersama-sama mengajak dan
berusaha mengilhami masyarakat dan para elit untuk bersikap terbuka, rendah
hati, dan terus belajar agar bisa memahami agama secara spiritual dan mendalam.
Karena dengan cara demikian pemahaman agama kelompok garis keras yang dangkal
dan sempit tidak akan bisa menginfiltrasi dan menghasut bangsa Indonesia untuk
mengkhianati nilai-nilai luhur ajaran agama serta tradisi dan budaya bangsanya.
Saya tidak khawatir terhadap non-Muslim atau siapa pun selama mereka terus
belajar; yang saya khawatirkan adalah ketika seseorang berhenti belajar dan
menganggap kebenaran sudah ada di tangannya dan kemudian menganggap yang lain
salah. Sebab, sabda Nabi saw., Orang akan tetap baik-baik saja, tetap pandai
selama mau belajar. Ketika orang itu berhenti belajar karena sudah merasa
pandai, mulailah dia bodoh(Gus Mus).
Sebagai negara berpenduduk Muslim terbesar di dunia, Indonesia menjadi salah
satu medan pertarungan ideologi yang signifikan. Kelompok-kelompok garis keras
telah menggunakan simbol-simbol agama untuk merekrut dukungan umat Islam.
Dengan
menggunakan bahasa yang sama dengan umat Islam pada umumnya, mereka berusaha
meraih dukungan atas nama agama sebanyak-banyaknya. Padahal, makna yang mereka
pahami jauh berbeda dari makna yang lazim dipahami oleh umat Islam Indonesia.
Ketiga tokoh ini menegaskan pentingnya melestarikan Pancasila, UUD 1945, dan
NKRI, serta nilai-nilai luhur agama yang menjiwai bangunan bangsa dan negara
Indonesia, yang kini dibayang-bayangi oleh infiltrasi paham dan aksi-aksi
gerakan transnasional yang meresahkan. Demi tujuan ini, mereka menyerukan
persatuan dan kerjasama semua pihak dan lapisan masyarakat, karena kebenaran
yang tidak terorganisai bisa dikalahkan oleh kejahatan maupun kezhaliman yang
terorganisasi.
The Wahid Institute, Maarif Institute, dan Gerakan Bhinneka Tunggal Ika
bersama-sama menerbitkan buku Ilusi Negara Islam: Ekspansi Gerakan Islam
Transnasional di Indonesia, yang merupakan hasil penelitian lapangan dan
konsultasi selama lebih dari dua tahun. Penelitian lapangan yang meliputi 24
kabupaten di 17 propinsi ini melibatkan tak kurang dari 30 peneliti yang
kebanyakan berasal dari jaringan UIN/IAIN. Mereka telah melakukan wawancara
mendalam terhadap 591 responden yang berasal dari 58 kelompok dan organisasi
yang berbeda.
Buku ini juga dilengkapi dengan hasil konsultasi dengan para ulama,
intelektual,
aktivis ormas Islam, para pengusaha, praktisi pendidikan, dan pejabat
pemerintahan yang merasa prihatin dengan perkembangan gerakan Islam
transnasional di Indonesia. Penelitian lapangan dan konsultasi dengan para
tokoh
ini berhasil mengungkap asal-usul, ideologi, agenda, dana, sistem, dan jaringan
gerakan Islam transnasional dan kaki tangannya di Indonesia. Di samping
rekomendasi untuk menghadapi dan mengatasi gerakan garis keras, buku ini juga
menyajikan counter teologis atas klaim-klaim teologis mereka.
“Studi ini kami lakukan dan publikasikan untuk mengbangkitkan kesadaran
seluruh komponen bangsa, khususnya para elit dan media masa, tentang bahaya
ideologi dan paham garis keras yang dibawa ke Tanah Air oleh gerakan
transnasional Timur Tengah dan tumbuh seperti jamur di musim hujan dalam era
reformasi kita tulis KH. Abdurrahman Wahid (Gus Dur).
Buku ini adalah salah satu buku yang bisa menggugah kesadaran kita, kata
Prof. Dr. A. Syafii Maarif, yang juga merupakan salah seorang narasumber dan
penasehat seri televisi Lautan Wahyu.
Sedangkan seri video Lautan Wahyu: Islam sebagai Rahmatan lil-Alamin adalah
hasil interview dengan para ulama dan intelektual dalam dan luar negeri
mengenai
beberapa aspek ajaran Islam, terutama yang selama ini telah dipahami dan
dipraktikkan secara salah kaprah. Seri Lautan Wahyu ini diharapkan bisa membuka
pikiran dan hati serta memperluas wawasan tentang ajaran Islam, agar tujuan
utama Kanjeng Nabi Muhammad saw. diutus, yakni sebagai wujud kasih-sayang Tuhan
bagi seluruh makhluk yang akhir-akhir ini seperti dibantah oleh aksi-aksi
beberapa kelompok umat Islam sendiri, bisa terwujud sebagaimana mestinya.
Pesan al-Quran memang luar biasa, sebesar kesadaran manusia sendiri. Kalau
kesadaran manusianya barbarian, apalagi (al-Quran) hanya dibaca untuk
pembenaran berkelahi, ungkap Moeslim Abdurrahman, maka
Islam tidak akan bisa
menjadi rahmat bagi seluruh makhluk-Nya. Dan, Setiap dakwah yang bertentangan
dengan prinsip-prinsip al-Quran (hikmah, peringatan yang baik, perdebatan
yang lebih baik), adalah dakwah yang salah. Para ulama dan intelektual wajib
mengingatkan pelaku dakwah yang demikian, dan jika mereka menolak maka
pemerintah wajib menangkap dan menghukum mereka sesuai dengan aturan yang
berlaku jelas Syeikh al-Akbar al-Azhar, Dr. Muhammad Sayid Thanthawi, salah
seorang narasumber dan penasehat program Lautan Wahyu.
Buku dan seri TV/video ini menegaskan pentingnya melestarikan nilai-nilai luhur
agama, tradisi dan budaya bangsa yang santun serta toleran, dan sekaligus
menyajikan counter teologis atas idiom-idiom dan term-term keagamaan yang selama
ini sering digunakan oleh gerakan extremis transnasional untuk merekrut simpati
dan dukungan dari umat Islam, seperti dakwah, amar ma‘rûf nahy munkar,
Khilafah Islamiyah, dan lain-lain. Secara khusus, dalam buku ini juga
dilampirkan dokumen SKPP Muhammadiyah No. 149/Kep/I.0/ B/2006 yang merupakan
keputusan untuk membela diri dari infiltrasi partai politik seperti PKS, dan
Keputusan Majlis Bahtsul Masail NU bahwa Khilafah Islamiyah maupun negara
Islam tidak mempunyai rujukan teologis baik di dalam al-Quran maupun hadits.
Dokumen-dokumen ini adalah peringatan tegas dan kuat bahwa gerakan
transnasional
yang mengancam Pancasila, UUD 1945, dan NKRI, serta praktik dan tradisi
keberagamaan bangsa Indonesia.
Usaha untuk mengatasai ancaman ini harus dilakukan secara damai dan bertanggung
jawab, khususnya melalui pendidikan dan pembinaan kebebasan beragama dan
berkeyakinan. Maka tanpa mengesampingkan pentingnya pembangunan ekonomi,
pengelolaan pendidikan dan aspek-aspek keagamaan yang mengutamakan tradisi dan
budaya bangsa Indonesia berdasarkan nilai-nilai luhur agama, dalam jangka
panjang merupakan hal yang sangat penting bagi bangsa Indonesia.
Buku Ilusi Negara Islam: Ekspansi Gerakan Islam Transnasional di Indonesia
dalam
bentuk e-book dapat diperoleh secara gratis melalui www.bhinnekatunggal ika.org
[Non-text portions of this message have been removed]