"Pilpres
sekarang ini memang seperti perang antarjenderal. Sipil hanya jadi
penonton," kata pengamat politik dari LIPI, Siti Zuhro, kepada Wawasan.
Lihat saja, kata Siti Zuhro, Susilo Bambang Yudhoyono (SBY), Wiranto dan
Prabowo itu adalah mantan jenderal. Begitu juga para tim sukses mereka
kebanyakan dari pensiunan jenderal.Mereka, katanya, akan saling mengadu 
strategi. Ketiganya akan menggunakan
strategi cara militer dalam memenangkan pertempuran dalam pilpres nanti.
"Sipil hanya bisa jadi penonton saja," katanya. Dipetik dari laporan 
wawasandigital.com 26 Mei 2009, Perang Jenderal Bahaya.Komitmen HAM 
Capres-Cawapres, Hanya Basa-basi   Komisi untuk Orang Hilang dan Korban Tindak 
Kekerasan dan
korban/keluarga pelanggaran HAM menyambut baik komitmen para calon presiden dan
calon wakil presiden tentang upaya penegakan HAM yang disampaikan oleh tim
sukses mereka. Namun kami sungguh menyesalkan pernyataan mereka yang berupaya
untuk menutup pertanggungjawaban atas pelanggaran berat HAM masa lalu.
Pernyataan tersebut merupakan upaya sabotase terhadap proses peradilan yang
sedang berlangsung. Secara tidak langsung, mereka menyatakan setuju akan upaya
penegakan HAM dan penghukuman bagi pelaku pelanggaran HAM, kecuali bagi diri
mereka sendiri. Pernyataan mereka ini merupakan sebuah inflasi HAM, yaitu
sebagai upaya untuk lari dari pertanggungjawaban, meski seolah-olah menghormati
HAM. Menolak dan menyangkal pertanggungjawaban masa lalu pertanda bahwa
komitmen mereka terhadap HAM hanyalah basa-basi.Dipetik dari Siaran Pers 
Kontras (28 Mei 2009)salam Andreas 
Iswinartoselengkapnya http://lenteradiatasbukit.blogspot.combaca juga

















Neoliberalisme
dan Militer Di Panggung Politik, Kasihan Indonesia! 

 

 




      

[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke