Tulisan ini juga disajikan dalam website http://umarsaid.free.fr/

Sumbangan fikiran untuk renungan bersama




Memperingati HUT Bung Karno 6 Juni



Perubahan besar dengan

jiwa revolusioner Bung Karno



 Memperingati Hari Ulang Tahun Bung Karno pada tiap tanggal 6 Juni adalah
suatu hal yang amat penting, mengingat tempatnya yang amat tinggi dan begitu
terhormat dalam sejarah rakyat Indonesia berkat jasa-jasanya yang besar
dalam perjuangan untuk kemerdekaan, dan mengingat pula betapa pentingnya
ajaran-ajaran revolusionernya untuk mempersatukan seluruh bangsa. Di antara
ajaran-ajarannya yang teramat penting itu adalah Pancasila, yang sudah
menjadi dasar negara Republik Indonesia dan hari lahirnya pada tanggal 1
Juni juga diperingati oleh berbagai kalangan



Kalau kita renungkan dalam-dalam, dengan mengingat perjalanan sejarah
perjuangan bangsa Indonesia, maka setiap orang yang mempelajari  - walaupun
sedikit  - sejarah dengan baik, akan melihat dengan jelas bahwa Bung Karno
adalah benar-benar sosok yang paling besar dan tidak ada tandingannya di
Indonesia selama ini. Memang, dalam sejarah bangsa terdapat juga orang-orang
besar lainnya  yang berjasa untuk bangsa, namun tidak satu pun (!) yang bisa
menyamai (apalagi melampaui !) kehebatan Bung Karno dalam mengabdi kepada
kepentingan rakyat banyak, terutama rakyat kecil, atau “wong cilik”.



Sudah banyak sekali berbagai tulisan tentang Bung Karno, yang dalam bentuk
buku (besar atau kecil)  maupun artikel dalam majalah, termasuk yang banyak
sekali diterbitkan oleh berbagai kalangan di luar negeri. Tetapi, karena
permusuhan rejim militer Orde Baru terhadap Bung Karno selama 32 tahun, maka
dalam waktu yang begitu panjang itu hanya sedikit sekalilah yang diketahui
oleh orang banyak tentang sejarah perjuangan Bung Karno bagi kepentingan
rakyat. Kalaupun pada waktu itu ada tulisan tentang Bung Karno, maka
sebagian besar adalah hanya yang bersifat serba negatif saja, atau bahkan
berupa fitnahan.



Jiwa besar adalah jatidiri Bung Karno


Padahal, barangkali, tidak ada pemimpin Indonesia lainnya yang telah bisa
menunjukkan karya yang begitu besar, gagasan yang begitu luhur, wawasan yang
begitu luas,  dan ajaran yang begitu revolusioner bagi bangsa, seperti yang
telah diperlihatkan oleh Bung Karno. Kebesaran karya atau keluasan
gagasannya sudah kelihatan jelas dalam pleidooi-nya yang amat bersejarah
dalam tahun 1930 di depan Pengadilan kolonial Belanda (di Bandung) yang
berjudul “Indonesia menggugat”. Karya besarnya “Indonesia Menggugat” ini
didahului oleh karyanya dalam tahun 1926 (ketika ia baru berumur sekitar 25
tahun!) yang berupa tulisan “Nasionalisme, Islamisme, Marxisme” (yang
menjadi dasar gagasannya di  kemudian hari dengan penamaan Nasakom).



Karya raksasa yang dibuatnya dalam usia 25 dan 29 tahun ini kemudian
disusulnya dengan hasil pemikirannya yang maha besar dan gemilang lainnya,
yaitu dengan lahirnya Pancasila pada tanggal 1 Juni  tahun 1945. Kemudian,
selama menjadi presiden dan sekaligus juga sebagai pemimpin besar revolusi
rakyat Indonesia ia telah melahirkan berturut-turut ajaran-ajarannya tentang
Manipol-Usdek (tahun 59), Trisakti (tahun 64) , dan Berdikari (tahun 1965).



Kalau kita baca kembali, dan kita kaji dengan dalam-dalam pula, segala bahan
tentang berbagai karya, pemikiran, dan ajaran-ajarannya, maka akan bisa kita
lihat dengan gamblang sekali bahwa Bung Karno adalah pemimpin rakyat yang
berhaluan revolusioner atau berjiwa kiri. Boleh dikatakan bahwa sebagian
terbesar dari pidato dan tulisannya sejak muda sampai ia menduduki jabatan
sebagai presiden RI selalu dijelujuri benang merah yang berisi jiwa atau
jatidiri Bung Karno, yaitu (yang terutama) : kegandrungannya mempersatukan
seluruh bangsa untuk perjuangan, kecintaannya kepada rakyat kecil,
kegigihannya dalam menentang nekolim, keteguhannya dalam menjalankan visi
politiknya yang revolusioner.



Tokoh besar di tingkat nasional dan internasional


Bung Karno adalah orang besar. Ia adalah pemimpin bangsa yang paling
terkemuka dibandingkan dengan yang lain-lain. Selama perjuangan untuk
merebut kemerdekaan dari kekuasaan kolonial Belanda dan kemudian
iteruskan  - setelah Republik Indonesia diproklamasikan dalam tahun 1945 –
Bung Karno memimpin perlawanan terhadap nekolim (neokolonialisme dan
imperialisme, terutama imperialisme AS).



Bung Karno adalah besar di tingkat nasional dan juga di tingkat
internasional berkat pemikiran-pemikirannya atau jiwanya yang revolusioner,
yang kiri, yang anti-imperialisme, yang mendambakan masyarakat adil dan
makmur di Indonesia (yang oleh Bung Karno juga dinamakan sosialisme à la
Indonesia). Oleh karena itu, ia selalu dengan tekun, gigih, dan tak
jemu-jemu menganjurkan persatuan seluruh bangsa untuk meneruskan revolusi
yang belum selesai. Tidak banyak pemimpin Indonesia lainnya (bahkan,
mungkin tidak ada !) yang bicara tentang perlunya rakyat mengadakan
revolusi,  sesering yang dikatakan oleh Bung Karno dalam banyak pidatonya
dalam berbagai kesempatan. (sangat seringnya penyebutan revolusi olehnya ini
dapat dibaca dalam buku “Dibawah Bendera Revolusi” dan “Revolusi belum
selesai”).



Bung Karno adalah satu-satunya pemimpin Indonesia yang mendapat dukungan
sukarela dan tulus dari rakyat banyak (jadi bukan karena dikerahkan atau
digiring dengan paksa) melalui dan bersama-sama berbagai macam organisasi
atau gerakan massa yang sangat luas dari bawah.



Sosok Bung Karno juga besar dan terhormat di luar negeri, terutama di
kalangan rakyat berbagai negeri di Asia, Afrika, Amerika Lartin, dan di
kalangan progresif di Amerika, Eropa, dan Australia. Singkatnya, nama Bung
Karno dikenal oleh kebanyakan kaum kiri, nasionalis, dan progresif di banyak
negeri di dunia. Juga di bidang ini keunggulan Bung Karno tidak bisa
disaingi, apalagi dikalahkan oleh pemimpin-pemimpin Indonesia yang lain,
baik Suharto maupun lainnya



Berjasa besar karena Konferensi Bandung dll.



Pemimpin-pemimîn terkemuka di dunia, terutama yang kiri, atau yang
nasionalis, dan yang anti-imperialisme (seperti Nehru, Nasser, Ho Chi Min,
Kwame Nkrumah, Fidel Castro, Che Guevara, Mao Tsetung dan Chou En-lai ) pada
umumnya menaruh hormat, atau simpati besar, kepada Bung Karno. Bukan hanya
Bung Karno telah berjasa besar kepada rakyat-rakyat di dunia dengan
terselenggaranya Konferensi Bandung, yang merupakan peristiwa internasional
yang amat bersejarah di dunia, melainkan juga berbagai politik dan
tindakannya di bidang internasional.



Bung Karno dengan gigih berusaha menggalang solidaritas antara berbagai
negara dan rakyat Asia dan Afrika (juga  Amerika Latin), sehingga pernah
dianggap sebagai mercu suar bagi perjuangan rakyat berbagai negeri.
Tindakannya untuk menyelenggarakan GANEFO dan juga gagasannya untuk
melangsungkan CONEFO  (Conference of the Emerging Forces) di Jakarta
menunjukkan bahwa Bung Karno mengajak bangsa Indonesia untuk memainkan peran
yang penting dalam bidang internasional.

Itulah sebabnya, mengapa para Duta dan Dutabesar Indonesia di luarnegeri
pada umumnya waktu itu mempunyai kebanggaan mewakili negara dan rakyat yang
mempunyai citra revolusioner yang sangat tinggi.( Ini bertentangan sama
sekali dengan masa Orde Baru yang dalam waktu begitu lama  banyak  orang
merasa malu menjadi orang Indonesia karena banyaknya kutukan atau kecaman
terhadap tindakan-tindakan Suharto bersama para pendukung setianya)



Bung Karno adalah pemimpin besar rakyat Indonesia, bukan hanya karena ia
memiliki berbagai kelebihan atau keunggulan, dibandingkan dengan
pemimpin-pemimpin Indonesia yang lain, sampai sekarang. Ia bisa menggunakan
bahasa Indonesia dengan baik sekali, atau bahkan secara amat indah, dalam
pidato-pidatonya yang banyak diucapkannya tanpa teks . Dalam
pidato-pidatonya di berbagai kesempatan selama lebih dari 20 tahun memimpin
negara ini kelihatan jelas sekali bahwa ia menguasai banyak pengetahuan di
berbagai bidang, melebihi pemimpin-pemimpin Indonesia lainnya.



Bung Karno adalah pemimpin Indonesia yang menguasai juga bahasa Belanda
dengan baik sekali, disusul oleh bahasa Inggris dan Jerman, dan (barangkali
agak kurang) bahasa Perancis. Penguasaaannya dalam bahasa Inggris boleh
dikatakan sangat menakjubkan, sehingga ia bisa berpidato tanpa teks dengan
lancar sekali dan dengan nada atau irama indah  dan lafal yang bagus pula.
Dalam banyak kesempatan ia sering menunjukkan pengetahuannya yang banyak
tentang sejarah bangsa Indonesia, sejak jaman purba sampai jaman perjuangan
rakyat melawan kolonialisme Belanda.



Karena sejak muda ia sudah terjun langsung dan secara dekat  dalam arus
pergerakan nasional (ingat : masa tinggalnya di rumah HOS Tjokroaminoto dan
perkenalannya di situ dengan tokoh-tokoh nasionalis, komunis dan Islam yang
kiri  maka berbagai masalah yang berkaitan dengan nasionalisme dan
kerakyatan dikenalnya sejak dini sekali. Dari sini pulalah mulainya titik
berangkat perjalanan hidup Bung Karno sebagai pemimpin nasionalis terkemuka
sampai ia diangkat bersama oleh berbagai  kalangan menjadi presiden.



Sebagai penganut agama Islam ia pernah menjadi tokoh Muhammadiyah, dan
walaupun tidak setara dengan sejumlah kyai yuang ternama, pengetahuannya
tentang agama Islam tidaklah sedikit, sehingga sebagai kepala negara ia bisa
sering memberikan ceramah atau kuliah mengenai berbagai hal yang berkaitan
dengan Islam. Oleh berbagai pemimpin terkemuka Islam di dunia Bung Karno
mendapat penghargaan atau kehormatan yang tinggi,  termasuk gelar Honoris
Causa oleh Universitas Al Azhar




Karena sejak muda (sekitar tahun 1925) ia sudah belajar tentang Marxisme
maka pengetahuannya tentang teori-teori Marx Engels, Lenin, Trotsky dan
lain-lainnya, bisa dikatakan melebihi rata-rata pemimpin Indonesia lainnya.
Ini kelihatan sekali dalam pidato-pidatonya tanpa teks, yang sering
menjelaskan apa artinya  kapitalisme, imperialisme, tentang revolusi Prancis
dengan sering-sering menyebut Danton, Jean Jaures, atau gerakan sosialis di
dunia (umpamanya tentang peran Rosa Luxemburg, atau berbagai aspek dari
revolusi Bosyewik di Rusia). Kiranya, karena itu pulalah maka Bung Karno
berhak dan juga pantas menyebut  dirinya sebagai marxist, berbeda dari
kebanyakan pemimpin Indonesia lainnya.



Kebesaran jiwa Bung Karno : revolusi !



Dengan mengingat itu semua maka kita bisa melihat  dengan jelas dan juga
mengerti dengan gamblang pula  bahwa Bung Karno adalah pemimpin revolusioner
rakyat yang besar  , yang tiada taranya dalam sejarah bangsa sampai sekarang
(!!!). Bung Karno adalah pemimpin besar, bukan hanya karena ia pandai
berpidato hingga sering mengagumkan banyak orang, dan bukan hanya karena
banyak menguasai soal-soal sejarah Indonesia dan sejarah dunia, dan juga
bukan pula hanya karena ia mengenal baik Islam dan marxisme, melainkan
karena KEBESARAN JIWANYA.



Kebesaran jiwa Bung Karno-lah yang telah melahirkan tulisan  “Nasionalisme,
Islam dan Marxisme” (tahun 1926), menyuarakan “Indonesia menggugat” (tahun
1930), melahirkan Pancasila sebagai dasar negara (tahun 1945), dan membuat
berbagai ajaran penting lainnya bagi rakyat, antara lain Nasakom,
Manipol-Usdek, Trisakti, Berdikari, yang terkandung dalam Panca Azimat
Revolusi.



Kebesaran jiwa Bung Karno adalah pengabdiannya dan susah-payahnya untuk
mengajak dan membimbing diteruskannya revolusi - yang belum selesa (!)  i -
untuk mengadakan terus-menerus perubahan-perubahan besar di segala bidang,
menuju masyarakat adil dan makmur, atau masyarakat sosialis à la Indonesia.



Pada kesempatan memperingati Hari Ulang Tahunnya  tanggal 6 Juni, maka
sedikit bahan dalam uraian singkat  tentang sosok, peran dan jasa  Bung
Karno seperti tersebut di atas bisalah kiranya membantu kita semua
sekedarnya untuk mengenang kembali, dan juga merenungkan dalam-dalam, betapa
besar arti  Bung Karno dan ajaran-ajarannya bagi bangsa Indonesia. Bung
Karno adalah milik yang berharga sekali bagi bangsa. Ajaran-ajarannya, yang
bisa disimak dalam buku-buku “Dibawah Bendera Revolusi” dan “Revolusi belum
selesai”  adalah senjata bagi perjuangan bersama untuk mengadakan
perubahan-perubahan besar, menuju masyarakat adil dan makmur.



Bung Karno adalah sumber inspirasi revolusioner


Jiwa besar Bung Karno adalah sumber insipirasi revolusioer yang besar bagi
mereka yang berjuang untuk kepentingan rakyat banyak. Ajaran-ajaran
revolusionernya mempunyai nilai-nilai abadi yang penting bagi bangsa dewasa
ini dan juga untuk generasi yang akan datang.. Jelaslah bahwa bangsa
Indonesia patut bangga mempunyai putra yang begitu besar jiwa perjuangan
revolusionernya, yang dipertahankannya dengan gigih selama hidupnya, sampai
akhir hayatnya semasa dalam tahanan Orde Barunya Suharto.



Bagi mereka yang sungguh-sungguh mencintai rakyat kecil, atau yang
benar-benar mendambakan persatuan dan kesejahteraan bangsa, atau yang ikut
mengadakan perubahan-perubahan besar untuk melapangkan jalan menuju
masyarakat adil dan makmur, maka akan menghargai dan mencintai ajaran-ajaran
revolusioner Bung Karno. Ajaran-ajaran revolusioner Bung Karno adalah
senjata dan pembimbing bagi mereka yang mau sungguh-sungguh berjuang untuk
kepentingan rakyat, untuk  melawan kapitalisme atau neo-liberalisme beserta
kaki-tangan atau antek-anteknya di dalam negeri.Ajaran-ajaran revolusioner
yang begitu besar dan begitu penting bagi banyak orang tidaklah bisa didapat
dari orang lain, kecuali dari Bung Karno.



Hanyalah mereka yang anti-rakyat, yang reaksioner, yang tidak menginginkan
masyarakat adil dan makmur, maka tidak bisa menghargai atau  tidak mau
melihat kebesaran jiwa Bung Karno.  Dan juga hanya mereka yang cupet
nalarnya dan picik fikirannya-lah  yang menentang ajaran-ajaran revolusioner
Bung Karno atau bersikap anti-Sukarno, seperti kebanyakan pendukung
Suharto..Dan hanyalah mereka yang kerdil jiwanya yang  tidak mau mengakui
jasa-jasa besar Bung Karno bagi  perjuangan revolusioner bangsa.



Kalau sama-sama kita perhatikan, maka nyatalah bahwa sejak dikhianatinya
Bung Karno oleh Suharto beserta para  jenderal pendukungnya  - bersama-sama
imperiailisme AS  - dengan menggulingkannya sebagai presiden RI dan akhirnya
membunuhnya  dan mencoba mengubur ajaran-ajarannya yang besar, maka tidak
pernah seorang pun yang bisa muncul sebagai pemimpin besar rakyat yang
memiliki citra seagung dan seluhur seperti Bung Karno, sampai sekarang. !!!



Perubahan besar dengan jiwa revolusioner Bung Karno


Memang, kalau direnungkan dalam-dalam, dengan mengingat berbagai segi
sejarah dan persoalan besar yang dihadapi bangsa Indonesia , maka jelaslah
bahwa sosok dan jiwa besar dan revolusioner Bung Karno tidaklah bisa
digantikan atau ditiru oleh pemimpin Indonesia yang lain, apalagi oleh orang
yang mempunyai jiwa kerdil seperti Suharto, atau mereka lainnya yang
sejenisnya.



Oleh karena itu, apapun hasil pemilihan Presiden di bulan Juli yad, atau
siapa pun yang akan jadi presiden RI,  kita tetap perlu mengibarkan
tinggi-tinggi panji-panji “Dibawah Bendera Revolusi” karena jelas bahwa
“Revolusi belum selesai”. Memegang teguh dan mentrapkan secara kreatif inti
sari atau isari pati ajaran-ajaran revolusioner Bung Karno adalah jalan
untuk mengadakan perobahan, atau perombakan, atau reformasi total, terhadap
situasi negara dan bangsa yang sedang ambrul-adul dewasa ini. Adalah omong
kosong besar sekali (!) , kalau ada kalangan yang berkoar-koar menginginkan
perubahan besar demi kepentingan rakyat tetapi sekaligus bersikap anti
ajaran-ajaran Bung Karno.



Berdasarkan pengalaman selama lebih dari 40 tahun, sejak Bung Karno
digulingkan sampai sekarang,  kita bisa menyaksikan bagaimana hasil-hasil
di bidang politik, sosial, ekonomi, kebudayaan dan moral bagi bangsa, yang
telah dilakukan oleh pemerintahan-pemerintahan Orde Baru dan berikutnya,
dengan meninggalkan sama sekali ajaran-ajaran revolusioner Bung Karno, dan
bahkan memusuhinya.



Padahal,  jiwa atau inti ajaran-ajaran Bung Karno adalah perjuangan untuk
perubahan-perubahan besar dan fundamental yang terus-menerus demi
kepentingan rakyat banyak, dan meneruskan dengan teguh tugas-tugas revolusi
yang belum selesai, menuju masyarakat adil dan makmur. Demikianlah arah
jalan yang ditunjukkan oleh pemimpin besar rakyat dan revolusi Indonesia,
Bung Karno.



Paris, 5 Juni 2009


















[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke