http://www.republika.co.id/berita/54165/Etika_Kedokteran_di_Era_Turki_Usmani
Etika Kedokteran di Era Turki Usmani
Dari dulu hingga kini, dokter merupakan profesi yang sangat dihormati. Dunia
kedokteran yang mulai berkembang pesat pada era kejayaan Islam telah menetapkan
aturan atau kode etik bagi para dokter. Para dokter Muslim diwajibkan untuk
memegang teguh etika kedokteran dalam membantu mengobati pasiennya.
Dunia kedokteran Islam mengalami masa kejayaannya hingga era kekhalifahan Turki
Usmani. Pada masa ini, dalam menjalankan tugasnya, para dokter juga diatur oleh
sebuah etika kedokteran yang sangat ketat. Menurut Akdeniz (Sari) N dalam
karyanya Osmanlilarda Hekim ve Hekimlik Ahlaki (Dokter Ottoman dan Etika
Kedokteran), kode etik merupakan panduan bagi para dokter dalam menjalankan
tugasnya.
''Setiap dokter harus mematuhi etika kedokteran dalam setiap tindakannya,''
tutur Akdeniz. Menurut dia, secara garis besar ada empat hal yang harus
dipegang teguh seorang dokter di era kekhalifahan Turki Usmani, yakni;
kesederhanaan/kesopanan, kepuasan, harapan dan kesetiaan. Seorang dokter yang
baik, papar Akdeniz, akan mematuhi keempat aturan dalam menjalankan praktiknya.
Para dokter di zaman Turki Usmani bersama-sama menyusun kode etik kedokteran.
Mereka mengusulkan apa yang harus dilakukan serta yang tak boleh dilakukan
dalam menjalankan praktik medis. Menurut Akdeniz, berdasarkan catatan para
dokter di zaman itu, etika kedokteran mengatur perilaku dokter saat
berinteraksi dengan pasiennya.
Elemen moral seorang dokter menjadi hal utama yang diatur dalam etika
kedokteran pada masa Turki Usmani.. Menurut Prof Nil Sari, di zaman modern ini
telah terjadi perubahan yang begitu besar, akibat pesatnya perkembangan
pengetahuan dan teknologi medis. Akibatnya, kata Prof Nil Sari, nilai-nilai
moral dipegang teguh para dokter dahulu mulai terkikis dan tergantikan dengan
nilai-nilai baru.
"Kebaikan telah mengalami kemunduran,'' papar Prof Nil Sari dalam karyanya
bertajuk "Tip Deontolojisi". Akdeniz menambahkan, pada era kekhalifahan
Turki Usmani, etika kedokteran dibuat untuk menjaga agar moralitas dan tingkah
laku seorang dokter tetap terjaga.
Menurut Akdeniz, kesederhanaan, kepuasan, kesetiaan dan harapan merupakan
empat hal penting yang harus dipegang teguh seorang dokter dalam berhubungan
dengan pasiennya di era kekhalifahan Turki Usmani. Sayangnya, kata Akdeniz,
keempat hal yang sangat penting itu kerap diabaikan para dokter di era modern
ini.
Pada abad ke-20 M, kemajuan besar telah dicapai di bidang studi etika medis.
"Etika medis saat ini terkonsentrasi pada pemecahan pilihan moral sesuai dengan
prinsip-prinsip etika dan peraturan," ungkap Beauchamp LT dalam karyanya
Childress FJ: Principles of Biomedical Ethics.
Inilah empat etika kedokteran yang dijalankan para dokter di zaman kekuasaan
kekhalifahan Turki Usmani.
Kesopanan/kesederhanaan
Kesopanan merupakan nilai kebaikan tertinggi yang sangat berharga, karena tugas
dokter telah ditentukan sebagai khalifah dari Allah SWT, yang dipercaya bisa
menyembuhkan. Dokter Turki Usmani diharapkan mengetahui dirinya sebagai
khalifah Tuhan yang bertugas dalam penyembuhan dan tidak menganggap dirinya
sebagai seorang penyembuh nyata.
Kala itu, masyarakat percaya bahwa penyakit dan penyembuhan adalah kehendak
Tuhan, dan menghaluskan nilai kesopanan. Masyarakat percaya bahwa seorang
dokter hanya sarana dan penyembuh nyata adalah Allah. Tanpa kehendak hati-Nya,
tidak ada obat yang dapat menyembuhkan. Untuk itu, haruslah mengembangkan
kesopanan sebagai nilai kebaikan.
Banyak penulis bidang pengobatan Turki Usmani menganjurkan dokter untuk tidak
bangga dan tidak percaya diri atas diri mereka. Menurut Akdeniz, dokter
diasumsikan menyembuhkan pasien tidak harus menyombongkan diri. Hal itu
tercantum dalam literatur medis di zaman Turki Usmani.
Akdeniz mengutip kisah seorang dokter bijak dan terkemuka di kekhalifahan Turki
Usmani bernama Nidai. Dokter dari abad ke- 16 M itu, mencoba memberikan
nasihat kepada rekan-rekannya, "Jangan katakan saya telah menyembuhkan pasien,
sebab asumsi itu adalah dusta, Penderitaan dan obat berasal dari Pencipta, Dia
lakukan apa yang jadi kehendak-Nya, Allah-lah yang berkendak," tutur Nidai.
Pesan yang sama juga dituturkan dokter Muslim lainnya Emir Celebi, "Dokter
memahami dirinya menjadi rendah hati, tidak harus menghubungkan efek pengobatan
dengan pengetahuan dan keterampilan. Ia tidak harus memahami dirinya untuk
bisa, tidak boleh bangga kepada seni dan praktiknya, apapun dapat diambil dari
tempatnya. Ia harus percaya bahwa kebaikan Allah akan selalu membantunya.''
''Seorang dokter tidak boleh bersikap bangga di samping pasien, bahkan ia harus
berusaha untuk menolong dan menghibur pasien." papar Emir Celebi karyanya
Enmuzec-i Tib. Makna kesopanan tecermin dari aspek-aspek lain dari perilaku
seorang dokter yang baik. Kesopanan telah tercatat bermanfaat dalam
pengembangan pengobatan.
Kepuasan
Prof Nil Sari dalam karyanya Osmanli Darussifalarina Tayin Edilecek
Görevlilerde Aranan Nitelikler menjelaskan bahwa keadilan dan kesetaraan hak
dalam penyembuhan medis merupakan norma etika penting dan nilai keadilan
membantu perkembangan kepuasan sebagai kebaikan utama yang diharapkan dari
dokter.
Akdeniz menambahkan, seorang dokter yang berambisi untuk mencari uang dalam
pekerjaannya, maka akan jauh dari keadilan dan kebenaran, akibatnya pasien
tidak hanya akan dirugikan atau dibahayakan, tetapi rasa percaya pada dokter
dan pengobatan akan hilang. Hal ini juga tercatat di dalam manuskrip pengobatan
Turki Usmani. Manuskrip itu juga menjelaskan masalah belas kasihan dokter
terhadap pasien, dan dokter ini dianggap sebagai dokter yang dipercaya dengan
baik.
Serafeddin Sabuncuoglu, seorang ahli bedah di abad ke 15 M, juga menyarankan
agar seorang dokter tidak boleh mengobati penyakit untuk tujuan mendapatkan
uang. "Jangan mencoba untuk melakukan penyembuhan pasien yang sia-sia. Ketika
Anda dianggap baik, hati-hati dianggap tidak sopan, dianggap sangat gila uang.
Tindakan murah hati akan melebihi kemuliaan dan ambisi Anda," tuturnya dalam
Cerrahiyetul Haniye.
Dokter bernama Nidai, menjelaskan, seorang dokter harus bisa melawan imbalan
uang yang ditawarkan kepadanya. "Jangan gemar uang, puaslah dengan apa yang
menjadi hakmu. Jangan menggilai keberadaan yang sementara ini. Hati-hati
mengamati tujuan Anda. Bertingkah laku sewajar nyalah, sehingga Anda tidak akan
menderita," pesan Nidai kepada para dokter.
Abbas Vesim juga menuturkan bahwa seorang dokter harus melawan uang yang bukan
haknya dengan alasan pengobatan. Ia mengajarkan seorang dokter agar melawan,
tidak menjadi ambisius dan tekun mengumpulkan uang. "Ambisi terhadap harta
benda dan uang akanmenurunkan penghormatan terhadap dokter dan tingkat
kepercayaan pengobatannya," ujarnya menegaskan.
Kesetiaan dan Optimisme Cermin Perilaku Dokter Muslim
Kesetiaan merupakan nilai kebaikan yang harus dipegang teguh seorang dokter di
zaman Kekhalifahan Turki Usmani dalam mengobati pasiennya. Seorang dokter
harus melanjutkan pengobatan kepada pasiennya selama dia mampu. Meski
perilaku pasien yang ditanganinya sangat menjengkelkan dan mengganggu, seorang
dokter harus tetap berusaha mengobatinya dengan penuh kesetiaan.
“Inilah etika yang mengatur seorang dokter agar tidak meninggalkan pengobatan
kepada pasiennya,'' papar jelas Akdeniz (Sari) N. Menurut dia, kesetiaan
adalah bentuk tanggung jawab yang harus dijalankan seorang dokter.
Menurut dokter terkemuka di era kekhalifahan Turki Usmani, Vesim Abbas,
menjelaskan aturan kesetiaan seorang dokter. Menurutnya, dokter harus membuka
hati terhadap kelakuan buruk pasiennya. Dokter tidak boleh membalas dendam
kepada pasien, meskipun pasien berkelakuan tidak sopan.
"Dokter harus mengabaikan tindakan tidak sopan pasien. Dokter tidak akan
bereaksi terhadap perilaku buruk pasien, sebaliknya ia harus bertindak dalam
rangka pengobatan dan keterampilannya, yang seharusnya ia tidak condong untuk
menghentikan pengobatan, tidak merasa terhina, tetapi mencoba untuk melanjutkan
perawatan. Kesabaran dari dokter yang efisien adalah salah satu cara untuk
pengobatan," jelas Abbas Vesim..
Sebagai gantinya, pasien diharapkan bertanggung jawab untuk mencoba cara
pengobatan, resep obat yang ditetapkan dokter. Pasien diharapkan bertindak
sesuai dengan nasihat dari dokter untuk pengobatan, ini baik untuk dokter dan
pasien.
"Tak mengindahkan nasihat dari dokter mungkin dapat merusak, baik untuk dokter
dan pasien," ujar Siyahi, dokter di abad ke-16 M. "Beberapa pasien melakukan
sebagian dari saran dokter, karenanya tidak dapat disembuhkan, malah
menyalahkan dokter. Jangan melakukan dosa dengan mencampakkan kerja dokter,"
kata Siyahi Larendevi dalam karyanya Mecma'-i Tibb-i Siyahi.
Optimisme
Seorang dokter diharapkan merawat pasiennya secara jujur. Namun, seorang dokter
tak boleh menyebabkan pasiennya mengalami keputusasaan. Ibnu Shareef, seorang
dokter dari abad ke-15 M, mengajarkan kepada para dokter untuk mengmbangkan dan
menumbuhkan rasa optimisme kepada pasiennya.
"Jika seorang bertanya kepada dokter, apakah pasien itu akan mati dan kapan?
Maka, dokter tidak boleh memberitahukan kepada pasien terkait kematiannya,
dokter tidak harus mengatakan bahwa pasien akan mati hari ini atau besok,"
tutur Ibnu Shareef. Menurut dia, keputusan dokter untuk tak mengungkapkan hal
itu akan sangat bermanfaat bagi pasiennya.
Sikap itu akan menumbuhkan optimisme bagi si pasien untuk sembuh. ''Kami
merasakan banyak denyutan dari mereka. Hal itu menjadi pertanda kematian.
Namun, mereka tidak mati, mereka kembali dan bangun. Jadi tidak tepat untuk
memberi tahu keluarga dan teman-teman tentang kematian pasien, bahkan jika
dokter itu hanya menduga.''
''Hanya Allah saja yang tahu kebenaran. Apapun penyakit yang mungkin, pasien
harus dirawat dengan baik. Pasien harus jauh dari kegelisahan dan kesedihan
dengan cara pengobatan apapun yang mungkin. Tolong lakukan dengan memotivasi
dan dengan harapan bahkan dengan pemberian hadiah. Ia harus bergembira dengan
teman dekatnya dan orang yang baik hati mengunjunginya. Jadi, pasien akan
merasa bahagia dan semangat yang semakin meningkat," papar Ibnu Shareef dalam
karyanya Yadigar.
Para dokter disarankan untuk tidak berbicara kepada pasien tentang kepastian
prognosa penyakitnya. Haci Pasa, seorang dokter Muslim dari abad ke-15 M,
dalam karyanya Kitabu'l Teshil fi't Tib, mengatakan, tidak benar
mengekspresikan kebohongan bahwa pasien sudah tentu akan mati atau sembuh.
Abbas Vesim mengatakan hal serupa. Dokter, kata dia, seharusnya tidak
mengatakan bahwa seorang pasien pasti akan terus hidup. Hati-hati mencatat
periode pasti, berapa lama kira-kira sakit pasien. Ahmed bin Bali Fakih
mengungkapkan, nasihat seirang dokter harus mendorong meningkatkan pasiennya,
dengan memberinya harapan bahwa penyakitnya akan sembuh Begitulah para dokter
Muslim di era Kekhalifahan memegang teguh etika kedokteran dalam menyembuhkan
pasiennya.
Aturan berperilaku yang dikembangkan para dokter di zaman kejayaan Islam,
penting kiranya dihidupkan kembali para dokter Muslim di era modern ini.
-des/she/taq
[Non-text portions of this message have been removed]