BROTOWALI (DAN PILPRES ?)
Pilpres tak bagus kalau mencerabut keseharian kehidupan bangsa. Tak bagus
pula bila memilih presiden yang tak punya apresiasi kesehatan rakyat : hanya
membangun puskesmas atau bungkus lain, namun melupakan substansi zat dan
pengetahuan
obat cerminan kejeniusan lokal sendiri.
Kita bersyukur bangsa ini tetap eling-lan-waspada, walau diterpa segala
angin puting-beliung asing yang kerap menjerembabkan, juga dalam hal kesehatan.
Makin banyak orang sadar dan menempuh perawatan kesehatan serta pengobatan
secara lebih bijak dan alami.
Beberapa lama di desa, ternyata masih banyak didapati tanaman BROTOWALI,
salah satu tanaman obat yang terukir di ingatan sepanjang hayat karena
pengalaman dijamoni SUPRA-PAHIT di masa kanak-kanak. BROTOWALI adalah jagonya,
si pahit, penumpas bakteri tiada dua. Herbal familia Menispermaceae yang amboi
pahit ini memang jagonya obat sejak dulu kala.
Nama alias brotowali beraneka : daun gadel, andawali (Sunda), antawali
(Bali), putrawali (Jawa). Tak hanya daunnya, bahkan batangnya yang
bintil-bintil memanjati pohon-pohon besar itupun sumber obat. Daunnya tunggal,
bertangkai menjantung agak membundar, berujung lancip mirip daun pohon BODHI
sekilas. Bunga kecil, warna hijau muda atau putih kehijauan. Brotowali menyebar
merata di seluruh arsipelago Nusantara tropis tercinta.
Gangguan pegal linu, rematik, luka, sampai sakit kuning dan cacingan,
bahkan peningkat nafsu makan anak-anak, brotowali-lah jagonya. Air rebusannya
sangat manjur untuk mencuci luka atau penyakit kulit parah semisal kudis dan
gatal, jadi selaku antiseptik dahsyat.
Pada penderita diabetes, brotowali dapat mengontrol kadar gula darah.
Bahkan penyakit malaria juga hengkang disikat. Kulit diboreh air rebusan
brotowali, tak bakalan nyamuk berani menghampir walau tidur di kebun luar
rumah.
Dalam brotowali terkandung senyawa kimia beraneka macam :
pikrotin-barberin, klorofil, alkaloid, aporfin, palmatin, tinokrisposid, dan
banyak lagi. Tinokrisposid anti virus malaria, berberine dll anti bakteri.
NAFSU MAKAN. Ambil 3 helai daun dan 30 g batang. Rebus dengan 2 gelas air
sampai separoh. Dinginkan dan saring.
Tambah gula batu atau madu, minum. Bagi balita, CEKOKAN brotowali amat
bagus.
PEGAL LINU> Ambil 10 cm batang,
cuci, potong kecil-kecil, rebus dengan 3 gelas air sampai separoh, saring.
Boleh tambah jahe dan madu.
MALARIA. 20 cm batang brotowali dan daun, dicuci, rebus dengan 1 liter air,
saring dinginkan, minum. Sebaiknya orang bermasalah ginjal atau wanita hamil
tak terlalu banyak meminumnya.
LUKA LUAR. Rebusan batang daun dipakai sebagai antiseptik. Bisa juga daun
ditumbuk halus dan ditempelkan ke luka. Sebaiknya luka baru yang belum
terinfeksi parah.
GATAL-GATAL. Tak usah bingung, atau cari salep rumahsakit internasional.
Cukup rebus batang lalu pakai untuk mandi atau berendam. Bisa juga buat bobok
dari daunnya.
Brotowali datang, penyakit hilang.
Maka sekaitan masa pilpres, patut juga evaluasio kinerja kurang efektif
substansial misalnya bidang KESEHATAN dan PERTANIANnya. Tanpa visi misi tepat
dan konsisten, kenapa mesti memilih seseorang dengan mengharubiru ? Hehe.
Ekstra catatan :
Bawang putih (obat pilek), pala (obati rasa cemas kuatir), cengkeh (obati
sakit/nyeri), jahe (atasi pusing lantaran stres), kayumanis (tingkatkan
kekuatan otak).
[Non-text portions of this message have been removed]