Refleksi : Mau cetak ORBA jilid II? Siap!!!!! Setia dijalankan terus dan dipertahankan sampai mati! hehehehe
Jawa Pos [ Minggu, 07 Juni 2009 ] Organisasi Purnawirawan usulkan Pertemukan Capres Asal Militer Untuk Turunkan Tensi Pilpres JAKARTA - Sebulan menjelang hari pemungutan suara pilpres 8 Juli, eskalasi pertarungan di antara tim sukses dipastikan terus meningkat. Untuk sedikit menurunkan tensi politik yang menghangat, sejumlah organisasi purnawirawan disarankan untuk mempertemukan tiga jenderal yang terlibat dalam pilpres, yaitu Susilo Bambang Yudhoyono (SBY), Wiranto, dan Prabowo. ''Mumpung suasananya relatif masih adem ayem. Masih sebatas sindiran-sindiran dan ketawa-ketawa kecut. Berkumpulah mereka semua, konteksnya silaturahmi kekeluargaan,'' kata anggota Dewan Penasihat Tim Pandu 57 Bidang Intelijen Mayjen (pur) Kivlan Zen di sekretariatnya, Jalan HOS Cokroaminoto, Jakarta Pusat, kemarin (6/6). Tim Pandu 57 merupakan salah satu ''tim sukses bayangan'' duet SBY-Boediono. Menurut Kivlan, ada institusi purnawirawan yang bisa memainkan peran mediasi tersebut. Di antaranya, Ketua Umum Dewan Harian Nasional Angkatan 45 Letjen TNI (pur) R Soeprapto, Ketua Umum DPP Pengurus Pusat Pensiunan ABRI Pepabri Jenderal TNI (pur) H Agum Gumelar, dan Ketua Umum PPAD (Persatuan Purnawirawan TNI Angkatan Darat) Letjen TNI (pur) Soeryadi. Kivlan menjelaskan, lembaga-lembaga itu memiliki wibawa di kalangan purnawirawan. Dengan mengundang dalam bungkus makan malam atau nostalgia bersama sebagai mantan prajurit, dia yakni, ketiga purnawirawan yang kini terpecah afiliasi politiknya itu bersedia hadir. ''Kalau mereka mengingat sama-sama datang dari TNI atau ABRI, kemudian masih memegang sumpah prajurit sebagai prajurit cadangan, apalagi yang mengundang orang tua, pasti ampuh itu. Mereka semua hormat kepada angkatan 45 yang melahirkannya,'' ungkap mantan kepala staf Komando Cadangan Strategis TNI-AD (Kostrad) itu. Memangnya potensi chaos pascapilpres sangat besar? Kivlan menjelaskan, saat ini potensi chaos memang belum kelihatan atau reklatif kecil. Sebab, semua bentuk ketidakpuasan sudah memiliki saluran masing-masing. Belum lagi, sambung Kivlan, tentara sudah memutuskan untuk ''ditarik ke kandang'' dengan diasramakan dua hari sebelum hari pemungutan suara. Begitu juga Polri yang memastikan akan mengamankan pilpres. ''Kalau tentaranya tidak ikut-ikutan, pasti aman,'' tandasnya. Meski begitu, suasana yang kondusif bisa berubah saat muncul histeria massa karena salah satu calonnya kalah. Itu akan terakselerasi dengan dimunculkannya data-data kekisruhan pelaksanaan pilpres dan KPU dianggap tidak mampu menyelesaikan dengan cepat. (pri) [Non-text portions of this message have been removed]

