Seluk-beluk dan hiruk-pikuk pemilu 2009 ( 16)
Berikut di bawah ini bisa disimak kumpulan terbaru berita atau tulisan
tentang seluk-beluk pemilihan legislatif dan pemilihan presiden 2009, yang
diambil dari berbagai sumber, Di samping disajikan di berbagai milis,
kumpulan berita ini juga bisa dibaca selanjutnya dalam website
http://umarsaid.free.fr/  Harap para pembaca maklum hendaknya.


=  =  =n

LP3ES: Yudhoyono-Boediono Bakal Dipilih 54,9 Persen
Senin, 08 Juni 2009

TEMPO Interaktif, Jakarta: Pasangan calon presiden dan wakil presiden,
Susilo Bambang Yudhoyono-Boediono, diperkirakan menarik 54,9 persen dukungan
dalam Pemilihan Presiden 8 Juli 2009. Tingkat keterpilihan atau
elektabilitas pasangan ini mengungguli pasangan Megawati
Soekarnoputri-Prabowo Subianto dan Jusuf Kalla-Wiranto.

Survei Lembaga Penelitian, Pendidikan dan Penerangan Ekonomi dan Sosial
(LP3ES) menunjukkan elektabilitas Yudhoyono-Boediono mencapai 54,9 persen.
Sementara pasangan Megawati-Prabowo memperoleh 9,7 persen dan pasangan Jusuf
Kalla-Wiranto hanya memperoleh 6,8 persen.

"Namun ini masih bisa berubah karena angka swing voter masih sekitar 27
persen," kata Kepala Divisi Penelitian LP3ES, Fajar Nursahid, dalam jumpa
pers di kantornya, Senin (8/6).

Meski menduduki peringkat pertama, elektabilitas pasangan Yudhoyono-Boediono
jeblok dibanding bulan April lalu. Direktur LP3ES Suryadi Soehardi
mengatakan survei yang dilakukan pada bulan April lalu menunjukkan
elektabilitas Yudhoyono mencapai 71,6 persen.

"Jauh menurun karena tidak mencapai 55 persen," kata Suryadi.

LP3ES telah melaksanakan survei telepon mengenai preferensi politik
masyarakat menjelang pemilihan presiden. Responden adalah pengguna telepon
rumah tangga di 15 kota besar di Indonesia yaitu Jakarta, Surabaya, Malang,
Semarang, Bandung, Cirebon, Yogyakarta, Medan, Padang, Palembang, Makassar,
Manado, Balikpapan, Banjarmasin, dan Denpasar.

Pengumpulan data dilakukan pada 3-4 Juni dengan 1.994 responden yang
ditentukan secara acak sistematis dari buku telepon yang diterbitkan PT.
Telkom. Ambang kesalahan (margin of error) diperkirakan +/- 2 persen pada
tingkat kepercayaan 95 persen.

"Survei melalui telepon ini ada kelemahan, yaitu bias kota, kelas ekonomi,
dan tingkat pendidikan responden," kata Fajar. "Rata-rata pemilik telepon
berasal dari kelas menengah ke atas."

* * *

Badan Pengawas Pemilu Laporkan SBY ke Polisi
Minggu, 07 Juni 2009

TEMPO Interaktif, Jakarta: Badan Pengawas Pemilu melaporkan tim kampanye
Susilo Bambang Yudhoyono-Boediono dan calon presiden Yudhoyono ke Mabes
Polri kemarin, Sabtu (6/6). Laporan didasarkan atas dugaan pelaksanaan
kampanye di luar jadwal.

"Laporan yang diajukan Bawaslu terkait dengan acara silaturrahmi nasional
koalisi parpol SBY-Boediono pada 30 Mei 2009 di Pekan Raya Jakarta," kata
Ketua Bawaslu Nur Hidayat Sardini saat jumpa pers di Hotel Sahid Jaya
Jakarta, Minggu (7/6). Acara yang disiarkan oleh TVRI dan Metro TV tersebut
menurut Badan Pengawas, telah memenuhi unsur pelanggaran pidana kampanye di
luar jadwal sebagaimana diatur dalam pasal 213 UU Nomor 42 tahun 2008
tentang pemilu presiden dan wakil presiden.

Badan Pengawas menilai acara silaturrahmi nasional tersebut termasuk
kategori kampanye dalam bentuk kegiatan lain. Sebab dalam acara calon
presiden, Yudhoyono menyampaikan visi, misi, dan program dari pasangan
capres SBY-Boediono. "Di situ juga terdapat alat peraga atau atribut
pasangan calon," ujar Nur Hidayat. Penyiaran luas acara tersebut secara utuh
oleh TVRI dan sebagian oleh Metro TV juga menjadi bukti yang kuat bahwa
siaran tersebut merupakan kampanye. "Dalam bentuk penyiaran melalui radio
dan televisi".

Sebelum melapor kepada Mabes Polri, Badan Pengawas kata Nur Hidayat
menyampaikan klarifikasi kepada beberapa pihak terkait. Yaitu Komisi
Penyiaran Indonesia, General Manajer Berita Lembaga Penyiaran Publik TVRI,
pemimpin redaksi Metro TV serta komisaris Trans 7. Klarifikasi kepada satu
TV pemerintah dan dua TV swasta ini dilakukan karena Badan Pengawas juga
melaporkan mereka kepada Mabes Polri.

"Hanya TVRI dan Metro TV yang kami laporkan karena diduga turut serta dalam
pelanggaran," kata Nur Hidayat. "TVRI menyiarkan utuh dan Metro TV tidak
melakukan pemotongan atau sensor pada visi, misi dan program aksi. Sedangkan
Trans 7 tidak dilaporkan karena tidak menayangkan visi, misi dan program
aksi."

Badan Pengawas juga telah menyampaikan undangan klarifikasi kepada ketua tim
kampanye nasional SBY-Boedinono. "Undangan dilakukan dua kali, yaitu untuk 5
dan 6 Juni namun yang bersangkutan tidak hadir," ujar Nur Hidayat. Bawaslu
memastikan bahwa undangan yang disampaikan telah diterima oleh staf lembaga
yang bersangkutan.

Laporan Bawaslu tersebut telah diterima oleh Mabes Polri dengan surat
bernomor TBI/03/VI/2009/Gakumdu. "Kami sudah mendapat tanda bukti
penerimaan," ujar Nurhidayat. Pihak terlapor dalam laporan ini adalah SBY,
ketua tim kampanye nasional Hatta Radjasa, direktur program dan berita
lembaga penyiaran publik TVRI dan pemimpin redaksi Metro TV.

Dalam laporan disertakan 18 barang bukti. Antara lain dua keping VCD
pemberitaan TVRI dan Metro TV yang diperoleh dari Komisi Penyiaran
Indonesia, Surat Teguran dari KPI ke Metro TV, surat undangan klarifikasi
dan surat laporan dugaan pelanggaran dari Sigma Indonesia tertanggal 1 Juni
2009.

Badan Pengawas, kata Nur Hidayat optimis kasus ini akan ditangani dengan
baik oleh polisi. "Kami tak mau berprasangka buruk, yang pasti saat melapor
kami diterima dengan baik," ujarnya.


* * *

Deklarasi Mega-Prabowo di Kali Code Meriah
Minggu, 7 Juni 2009

TEMPO Interaktif, Yogyakarta: Deklarasi tim kampanye pemenangan Mega-Prabowo
yang dihadiri calon wakil presiden Prabowo Subianto berlangsung meriah.
Seorang ibu hamil, Ika Irawati (23), naik ke panggung dan minta diberi nama
anaknya oleh Prabowo.

Prabowo pun memberi nama anak ibu hamil itu Joko Margono. "Margono itu nama
eyang kakung saya," kata Prabowo di panggung deklarasi Kali Code, Ahad,
(7/6).

Atas pemberian nama sang calon wakil presiden, Ika pun tersenyum. Nama
Margono, menurut Prabowo, memiliki arti yang baik. "Margono itu dalam
kesulitan selalu ada jalan. Pasti Tuhan memberi jalan yang terbaik," kata
Prabowo kepada ratusan massa yang hadir.

Sementara untuk anak perempuan, Prabowo menyatakan akan pikir-pikir dulu.
"Karena nggak bisa sembarangan," katanya.

Prabowo lantas menanyakan kepada Ika nomor berapa sang jabang bayi yang
masih dalam kandungannya. Ketika si ibu menjawab anak pertama, Prabowo
segera memberikan nasihat. "Setelah anak kedua, harus ikut KB ya. Janji ya
jangan lupa ikut KB," kata Prabowo. Dengan ber-KB, kata dia, nanti tidak
repot dalam menyelesaikan sekolah.

Sebelum di panggung, Prabowo juga dicegat oleh sepasang suami-istri yang
tengah membawa anaknya. Melihat si anak, Prabowo minta agar di belakang nama
si anak ditambahkan nama Margono.

Yuli Kriswati, ibu si anak tersipu-sipu. "Nama anak saya Aria Putra Wijaya
Kusuma, sudah punya akte kelahiran," kata Yuli yang mengaku tak akan
menambahkan nama Margono.

Sementara sang ayah Kristriawanto tampaknya ingin menambahkan nama atas
keinginan Prabowo. Dia lantas bertanya kepada Tempo, apakah akte kelahiran
bisa diganti. "Kalau bisa diganti saya akan menambahkan Margono," kata Kris.

Pada deklarasi ini, Prabowo menaiki getek yang diseret puluhan Pasukan
Pemenangan Mega-Prabowo Presiden (Paspampres). Berpeluh keringat, berpeci
hitam, berbaju krem, sepanjang sungai Prabawo sumringah menyalami warga.

Panitia menebarkan bibit ikan lele seberat 1 ton sebagai wujud kepedulian
mereka dengan lingkungan. Di atas panggung sederhana yang melintasi sungai
Code, dihiasi sayur-sayuran mulai dari sawi, jagung, kacang panjang. "Ini
sebagai bentuk kepedulian ekonomi kerakyatan Mega-Prabowo," kata anggota tim
kampanye, Suryanto.

Adapun Megawati, tidak hadir ke acara deklarasi karena tengah berada di
Bandung. "Jadi Pak Prabowo dan Bu Mega berbagi tugas satu di Jogja, satu di
Jawa Barat, karena ada beberapa titik yang harus disinggahi," kata Suryanto.


* * *

PKS Akui Ada Bagi-bagi Kursi Menteri
Minggu, 07 Juni 2009

TEMPO Interaktif, Surabaya: Presiden Partai Keadilan Sejahtera (PKS) Tifatul
Sembiring mengakui adanya kesepakatan bagi-bagi kursi menteri dalam koalisi
mendukung pasangan Susilo Bambang Yudhoyono-Boediono.  "Koalisi di mana pun
pasti ada power sharing," kata dia usai menghadiri deklarasi PKS untuk
pemenangan SBY-Boediono di Juanda Sidoarjo, Jawa Timur, Minggu (7/6).

Tifatul  enggan menyebutkan pos kementerian yang diinginkan partainya.
Pembagian kursi, menurut dia, tidak layak dibicarakan secara terbuka di
depan publik. Hanya saja, dia menegaskan pembagian kekuasan ini dilakukan
secara proporsional sesuai dengan kekuatan pendukung koalisi.
"Ibaratnya kita ramai-ramai mendorong mobil, masak setelah mobil berjalan
terus cukup bilang good bye," kata dia.

Salah satu alasan PKS bersedia berkoalisi mendukung pasangan SBY-Boediono,
kata dia, karena Partai Demokrat adalah partai reformis. PKS tidak ingin
berkoalisi dengan partai yang mengakomodir nilai buruk masa lalu.

Selain itu, kata Tifatul, Partai Demokrat dinilai cukup akomodatif dengan
platform PKS yang ditawarkan dalam kontrak politik.  Tifatul yakin jumlah
dukungan suara terhadap SBY-Boediono akan lebih besar dari perolehan suara
yang dikumpulkan seluruh partai koalisi pendukung.

Berdasarkan penelitian sebuah lembaga survei, disebutkan sebagian pemilih
Partai Golkar dan PDI  Perjuangan pada pemilihan legislatif lalu menyatakan
lebih pas memilih SBY sebagai presiden. "Ini bisa menjadi tambahan suara,"
kata dia.

PKS  mentargetkan dukungan untuk pasangan SBY-Boediono minimal tetap sama
sesuai dengan perolehan suara yang didapat pada pemilihan legislatif lalu.
Ketua Dewan Pengurus Wilayah PKS Jawa Timur Ja'far Tri Kuswahyono mengatakan
pada pemilihan legislatif partai yang berbasis umat Islam ini  memperoleh
dukungan 853 ribu suara untuk seluruh Jawa Timur. "Minimal tetap, tapi kalau
bisa bertambah," kata dia.

* * *

Golkar: Kegiatan Mega di Rengasdengklok Masih Wajar

Minggu, 7 Juni 2009


JAKARTA, KOMPAS.com — Juru Bicara Tim Kampanye Nasional pasangan
capres-cawapres M Jusuf Kalla-Wiranto, Yudi Chrisnandi, mengatakan, kegiatan
capres PDI-P Megawati di Rengasdengklok kemarin, jika didasarkan UU Pilpres,
dapat digolongkan pelanggaran aturan. Pasalnya, kegiatan kampanye di tempat
terbuka baru dapat dilaksanakan pada tanggal 11 Juni.
"Kegiatan kemarin sebenarnya di luar internal partai yang bersangkutan,"
ujar Yudi, Minggu (7/6) di sela-sela nonton film Capres bersama Jusuf Kalla
di Plaza EX, Jakarta.
Kendati demikian, Yudi juga menilai kegiatan tersebut tetap memiliki
momentum hari lahir Bung Karno, Bapak Proklamator Indonesia. "Jadi, hari
kelahiran tersebut digunakan untuk bersilaturahmi dengan warga sekitar.
Jadi, itu masih berada pada batas-batas kewajaran," ujarnya. Acara tersebut,
lanjut Yudi, tidak jauh berbeda dengan kegiatan JK bertemu dengan
konstituen-konstituennya di lembaga-lembaga pengajian.

* * *

Ribuan Orang Hadiri Peringatan Harlah Bung Karno
Sabtu, 6 Juni 2009

KARAWANG, KOMPAS.com - Ribuan massa pendukung PDI Perjuangan dan Gerindra
memenuhi Lapangan Tugu Monumen Kebulatan Tekad, Rengasdengklok, untuk
mengikuti peringatan Hari Lahir Proklamator, Soekarno, Sabtu (6/6), yang
dihadiri oleh capres cawapres Megawati Soekarnoputri-Prabowo.

Prabowo sendiri tiba pukul 14.00 disambut keluarga Bung Karno yang telah
hadir lebih dulu. Sementara Mega, diinformasikan masih dalam perjalanan.
Ribuan massa yang memenuhi lapangan, langsung menyambut Ketua Dewan Pembina
Partai Gerindra itu. Prabowo pun tampak menyalami massa yang berebut
bersalaman dengannya.

Diluar lapangan, warga sekitar juga tampak berjubel, meskipun cuaca panas
terik sangat terasa menyengat kulit. Di arena peringatan terdapat 3
panggung, yaitu panggung bagi pengisi acara, panggung paduan suara, dan
panggung utama bagi keluarga Bung Karno.

Selain peringatan hari lahir Bung Karno, Mega dan Prabowo juga akan
mendengarkan aspirasi kaum buruh yang menyuarakan penghapusan outsourcing
dan menjadikan hari buruh 1 Mei sebagai hari libur nasional.

 * * *

Mega-Guntur Lanjutkan Cita-cita Bung Karno
Sabtu, 6 Juni 2009

KARAWANG, KOMPAS.com - Putra putri Bung Karno, Guntur Soekarnoputra dan
Megawati Soekarnoputri , menyimpan keinginan kuat melanjutkan cita-cita
ayahnya, Presiden I RI.

Mega, mantan Presiden ke-5 RI, yang kini menjadi capres, berharap dapat
mewujudkan cita-cita Sang Proklamator bersama cawapresnya, Prabowo Subianto.

"Apa yang kami lakukan (dalam pilpres) serius. Kami ingin melanjutkan
cita-cita Bung Karno yang tertunda, karena Indonesia suka coba-coba.
Sehingga apa yang sebenarnya sudah disediakan para pendiri bangsa untuk
mengisi kemerdekaan tidak memberikan kesejahteraan bagi rakyat," kata Mega,
dalam sambutan peringatan 108 tahun Bung Karno, di Rengasdengklok, Karawang,
Jawa Barat, Sabtu (6/6).

Sebagai negara yang gemah ripah loh jinawi, menurut Mega, Indonesia
seharusnya bisa memberikan kehidupan yang baik bagi rakyatnya. "Manusia bisa
menikmati kehidupan baik buruh, petani, nelayan, pelajar, dan mahasiswa atau
seluruh rakyat Indonesia. Sehingga, mereka bisa merasakan dari semua untuk
semua, dan itu akan kita lakukan dan dapat kita lakukan," kata Mega dengan
berapi-api.

Untuk mewujudkannya, ia menyebutkan Trisakti, yang juga merupakan konsep
Bung Karno. Trisakti yaitu berdaulat secara politik, berdikasi secara
ekonomi dan berkepribadian secara kebudayaan. "Dan itu semua belum terwujud,
belum memberikan kesejahteraan dan keadilan bagi seluruh rakyat," ujarnya.




[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke