Jawa Pos
[ Senin, 15 Juni 2009 ] 

Investasi Gerakkan Ekonomi 


Perdebatan tentang bagaimana mengelola ekonomi bangsa ini seolah tak ada 
habis-habisnya. Kita masih saja mencari sistem ataupun mazhab yang dianggap 
terbaik untuk menyelesaikan masalah ekonomi. Khususnya terkait dengan masih 
tingginya pengangguran dan kemiskinan serta semakin tertinggalnya kita 
dibandingkan negara-negara tetangga. Tak heran bila banyak warga negara kita 
yang terpaksa mengais rezeki di luar negeri untuk menjadi pembantu rumah tangga.

Berbagai perdebatan publik terkait pengelolaan ekonomi juga masuk ke kampus. 
Tentu saja, itu bagus untuk perkembangan daya pikir anak muda kita. Namun, 
banyaknya benturan kepentingan yang mewarnai perdebatan di ranah publik, kalau 
tidak hati-hati, juga akan memengaruhi daya kritis anak-anak muda. 

Sangat tidak baik bagi anak-anak di kampus kalau dalam pemikiran akademik, 
analisis yang mereka buat sudah sarat dengan berbagai kepentingan. Dengan 
begitu, anak-anak muda tersebut tidak bisa menganalisis sesuatu masalah secara 
objektif.

Investasi Swasta 

Saya yakin banyak di antara kita yang cukup memahami bahwa investasi sangat 
penting bagi pembangunan ekonomi. Demikian pula, mahasiswa ekonomi sejak 
tingkat pertama tentu sudah belajar bagaimana pentingnya investasi dalam 
pembangunan ekonomi suatu bangsa. 

Investasi, baik yang dilakukan pemerintah maupun swasta, akan memacu aktivitas 
ekonomi dan meningkatkan kesempatan kerja (pendapatan bagi masyarakat). Bahkan, 
bisa meningkatkan penerimaan pajak negara. Selain itu, ekonomi yang semakin 
maju banyak ditentukan oleh besar kecilnya investasi. Karena itu, pembangunan 
ekonomi suatu bangsa ataupun di daerah memerlukan investasi agar masyarakat 
semakin maju dan sejahtera.

Dampak investasi pemerintah maupun swasta secara umum tidak banyak berbeda. 
Meski, tentu saja hal tersebut juga bergantung pada pengaturan dan pengawasan 
dari otoritas terkait. Jika pengaturan dan pengawasan pada dunia usaha swasta 
berjalan baik, kita tidak perlu khawatir atas timbulnya eksploitasi atau dampak 
negatif lainnya yang dapat merusak alam, ekonomi, dan sosial.

Sayangnya, berbagai perdebatan pada tingkat elite sering membuat masyarakat, 
khususnya di daerah, cenderung anti terhadap peran swasta dalam dunia usaha 
(juga investasi), khususnya asing. Hal tersebut juga muncul dalam suatu diskusi 
di Universitas Jenderal Soedirman, Purwokerto, pekan lalu. 

Yakni, generasi muda kita cenderung tidak percaya terhadap investasi asing. 
Pada kesempatan lain, kadang muncul ketidaksenangan pada usaha swasta domestik 
besar (investasi swasta dalam negeri). Sentimen negatif itu, jika terus 
berkembang tanpa kendali, akan membahayakan masa depan ekonomi Indonesia.

Sebab, berkurangnya investasi di Indonesia dalam satu dekade terakhir telah 
membuat kualitas pembangunan ekonomi merosot. Demikian pula, berbagai 
infrastruktur dasar yang penting untuk menggerakkan ekonomi tidak tersedia 
dengan cukup. Tanpa investasi yang memadai, ekonomi Indonesia tidak akan maju. 
Demikian juga, kehidupan masyarakat tidak akan sejahtera.

Keuangan Negara Cekak 

Berbagai proyek pembangunan infrastruktur dasar (jalan, jembatan, pelabuhan, 
irigasi, pasar, waduk, dan listrik) atau berbagai pelayanan dasar yang 
diperlukan masyarakat (pendidikan, kesehatan, dan sebagainya) sebaiknya memang 
didanai negara. Namun, kita ketahui bahwa keuangan negara terbatas. Bahkan, 
tiap tahun masih terus defisit yang dibiayai dari utang luar negeri atau 
melalui pasar modal dengan penerbitan surat perbendaharaan negara (SPN). 

Selain itu, sejak reformasi, banyak kebijakan publik kita yang tersandera 
kepentingan jangka pendek untuk kepentingan politik, baik dari pusat sampai ke 
daerah. Karena itu, berbagai prioritas pengeluaran pemerintah mulai pusat 
hingga daerah cenderung bersifat populis, khususnya yang menyenangkan rakyat 
dalam jangka pendek.

Hal tersebut membuat berbagai program atau proyek yang bersifat jangka panjang. 
Misalnya, pembangunan infrastruktur kurang mendapatkan prioritas. Tak heran 
bila krisis listrik masih saja berlangsung (dunia usaha dipaksa beroperasi pada 
hari libur secara bergiliran). Kondisi jalan, pelabuhan, atau infrastruktur 
terkait dengan irigasi pun sangat memprihatinkan.

Karena keuangan negara mulai pusat sampai daerah terbatas dan tuntutan 
pembangunan ekonomi yang berkualitas agar dapat memberikan kesejateraan bangsa 
terus meningkat, tidak bisa tidak, investasi swasta diperlukan. Jika investor 
dalam negeri kekurangan dana serta memiliki hambatan dalam teknologi, pasar, 
produksi, ataupun manajemen, itu bisa dipenuhi investor asing. Kehadiran 
investor asing diperlukan, meski perlu pengaturan dan pengawasan supaya 
berdampak positif bagi masyarakat.

Kabupaten Purbalingga termasuk salah satu daerah di Indonesia yang sukses 
memanfaatkan investor asing (khususnya dari Korea) dalam membangunan ekonomi 
daerahnya. Tingkat pengangguran di sana hanya 3 persen (bandingkan dengan 
Indonesia yang lebih dari 8 persen). 

Rakyatnya juga semakin sejahtera karena banyak industri yang berkembang yang 
banyak didukung investor asing. Kehadiran investor asing yang disertai 
pengaturan serta pengawasan yang baik terbukti bisa memajukan Kabupaten 
Purbalingga hingga saat ini. Karena itu, kita jangan melihat investasi swasta 
yang dilakukan asing secara negatif. (*)

Jogjakarta, 13 Juni 2009 



[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke