Celah

Kenapa Politik Harus Santun?


Hamid Basyaib


Seiring menghangatnya persaingan pilpres, mencuat isu "kesantunan politik".
Pesan yang sering disampaikan: para kontestan dan tim sukses
masing-masing perlu bersikap santun dalam menyampaikan pendapat dan
kritik mereka (jangan menyerang pribadi, jangan gunakan kata-kata
kasar, lebih baik mawas diri sebelum berkata-kata, dan seterusnya).

Yang berbuat seperti itu, tepatnya: yang dipersepsikan bertindak
seperti itu, dikecam. Yang bersikap santun dan seterusnya itu
dipuji-puji – dipandang sebagai politisi yang baik, atau sebagai tim
sukses yang bertindak semestinya.

Tokoh sentral yang terlalu sering menekankan hal itu adalah Presiden
SBY. Ia mengungkapkan hal yang sama pada banyak kesempatan dalam
kampanye presidensial 2004, terutama di pekan-pekan terakhir masa
kampanye di tahun itu.

Penekanannya kali ini terasa berlebih-lebihan, sampai ke tingkat
yang mengharuskan kita merenungkan kembali apa dan bagaimana cara
berpolitik yang benar. Penekanan yang berlebihan itu bisa membuat orang
lupa atau abai pada substansi karena berfokus pada sekadar cara
kontestan atau tim suksesnya berbicara atau menyampaikan pendapat
maupun kritik terhadap lawan politik.

Sudah tentu keharusan berkata dan bersikap santun adalah norma
sosial umum yang universal. Di Barat dan di Timur, di Utara dan di
Selatan, demikianlah adanya. (Karena itu kritik terhadap sikap dan kata
tak santun dengan 'argumen' bahwa 'kita menjunjung tinggi budaya Timur'
adalah menyesatkan; 'budaya Barat' pun tak menerimanya sebagai norma;
di sana pun, jika ada tokoh politik yang bersikap seperti itu, masih
dianggap abnormal).

Namun jika norma sosial universal yang sudah diajarkan sejak kita
masih anak-anak ini terlalu ditekankan dalam diskusi politik, apalagi
dalam konteks pilpres yang akan berpengaruh besar pada kehidupan bangsa
di masa depan, maka publik tidak akan mendapatkan apa yang semestinya
mereka peroleh dari para kontestan dan politisi.

Dari mereka, publik tentu mengharap – atau seharusnya mengharap –
sesuatu yang penting dan relevan dalam konteks kampanye politik. Yaitu:
visi yang jelas tentang arah yang ingin ditempuh kontestan dalam
perjalanan bangsa lima tahun ke depan. Jika mungkin visi itu mencakup
semua bidang utama kehidupan, meski situasi mutakhir mengharuskan kita
memprioritaskan sektor ekonomi.

Jika penyajian visi itu dilengkapi paparan tentang cara-cara
mencapai tujuan besar itu secara gamblang, sistematis, mudah dipahami
oleh rata-rata rakyat dan bisa diukur, publik tentu akan melihatnya
sebagai bonus penting yang melegakan. Landasan semua itu adalah:
analisis yang tepat terhadap situasi hari ini. 

Sudah tentu analisis itu bisa berbeda di antara para kontestan,
tergantung pola pendekatan dan garis argumen yang mereka pegang. Tak
apa. Memang tak harus sama. Realitas memang selalu lebih kompleks
daripada teori. 

Yang penting: ada paparan jelas tentang hal itu, dan ada argumen
penopangnya. Dengan segala keterbatasan pemilih, karena mereka pasti
tak akan pernah memiliki seluruh data dan informasi yang diperlukan
untuk mengambil keputusan, biarlah pada akhirnya mereka yang memutuskan
di bilik suara. 

Apapun yang mereka pilih, hal itu pasti merupakan pengetahuan dan
pengalaman yang berharga buat mereka. Sebab dalam prosesnya, yang diisi
dengan masa kampanye yang bisa mereka saksikan selama beberapa pekan,
wawasan politik mereka telah diperkaya oleh kompetisi visi dan argumen
yang bermutu dari para kontestan.

Soal kesantunan, itu masuk wilayah kehidupan sosial umum. Jika ada
kontestan yang dianggap tidak santun, boleh juga dikritik seperlunya –
tanpa perlu menekankannya secara berlebih-lebihan sehingga sampai
mengacaukan definisi tentang politisi yang baik.

Jadi, siapakah politisi yang baik itu? Jawabannya: politisi yang
mengemukakan visi dan metode yang jelas, sistematis dan bisa diukur
itu. Bukan politisi yang santun.
Kesantunan bicara juga bisa menyesatkan. Sikap dan tindakan, seperti
juga bahasa, bukan hanya berfungsi mengungkapkan suara hati dan
pikiran. Ia juga bisa menyembunyikannya. Fakta ini paling jelas
terlihat dalam norma basa-basi dalam pergaulan. 

Kalau saya ingin tamu saya cepat-cepat pergi dari rumah atau kantor
saya, saya tidak akan mengatakan demikian – karena norma sosial
melarang saya bertindak begitu. Saya justeru akan mencegahnya sambil
mengingatkan sang tamu bahwa hari masih cukup pagi, jalanan toh masih
macet, jadi sebaiknya kita lanjutkan obrolan, dst.

Politisi santun pun bisa begitu. Di balik kesantunannya, ia mungkin
mengidap rencana tindakan yang berkebalikan daripada apa yang selama
ini dikatakannya dengan penuh kesantunan.

Kesantunan juga salah satu saja dalam daftar nilai sosial yang
disepakati keluhurannya. Selain santun, kita mengenal jujur, amanah,
tegas, adil, berani, dsb. Dan dalam gelanggang politik, nilai-nilai
lain di luar santun itulah yang lebih penting.

Penulis adalah Direktur Eksekutif Strategic Political Intelligence (SPIN) 



 
















      

[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke