CELAH - inilah.com

12/06/2009 - 08:27

Satu Putaran?

Rocky Gerung

WACANA Pilpres satu putaran sudah beredar. Tentu itu adalah bagian 
dari kampanye kubu SBY. Teori itu tampaknya 'sesuai' hasil survei 
Lembaga Survei Indonesia (LSI) yang memproyeksikan angka 71% 
perolehan suara SBY.

Politik komunikasi massa ini sebetulnya tidak dimaksudkan untuk 
mempercepat pertandingan agar menghemat biaya pemilu, tetapi untuk 
mengintimidasi lawan agar ciut sebelum bertanding. Dalil inilah yang 
sedang menguasai politik hari-hari ini

Persis konferensi pers seorang petinju yang menjanjikan KO pada ronde 
pertama, wacana pilpres satu putaran ini menimbulkan beragam reaksi. 
Bagi pelatihnya, KO pada ronde pertama bukan saja menang, tapi menang 
secara sensasional.

Bagi pers, sensasi itu adalah headline yang historis. Tapi bagi 
penonton, itu pasti bukan tontonan yang menarik. Penonton ingin 
menyaksikan kualitas permainan dalam ronde yang panjang.

Dalam politik, pilpres adalah peluang sirkulasi elit. Kontestasi 
dalam politik adalah kontestasi untuk mengetahui keseimbangan antara 
penguasa dan oposisi. Artinya, demokrasi selalu memungkinkan 
perubahan demi mencegah pemapanan kekuasaan. Juga demokrasi 
memerlukan oposisi agar kekuasaan tidak menumpuk pada satu orang.

Etika politik ini harus terus ada karena sifat kekuasaan yang 
koruptif. Jadi, demi prinsip dasar demokrasi, pemutlakan kemenangan 
dengan ambisi yang sensasional sudah mengarah pada arogansi kekuasaan.

Memang, politik selalu ingin memutlakkan ambisi kekuasaan. Oleh 
karena itu demokrasi perlu terus menyelenggarakan politik 
kemungkinan. Di sinilah media massa memainkan peran korektif. 
Artinya, kendati media massa modern tidak dapat lepas dari pengaruh 
kapital dan kuasa, tetapi etika keadilan akan memaksa kecerdasan 
media untuk menjalankan politik subversif, yaitu politik yang menjaga 
keseimbangan opini publik.

Di situ, fungsi subversif media justeru dimaksudkan untuk 
mempertahankan ruang bebas demokrasi, yaitu bahwa tidak boleh ada 
monopoli pendapat karena akan mematikan peluang perubahan. Jadi demi 
prinsip kesementaraan kebenaranlah maka media harus mengucapkan opini 
tandingan, opini subversif.

Menjaga ruang bebas demokrasi berarti memungkinkan berbagai 
alternatif pikiran dan proposal politik diedarkan secara seimbang 
dalam masyarakat. Inilah tugas dasar media massa.

Jadi, bila hari-hari ini opini publik sedang dikendalikan oleh 
'politik survei', maka wajiblah pers menjalankan 'politik subversif' 
untuk menyeimbangkan bandul komunikasi publik. Dengan cara itu ruang 
demokrasi dikosongkan kembali agar dapat dihuni lagi secara bersama 
oleh berbagai pikiran yang setara.

Teori pilpres satu putaran harus kita baca sebagai keinginan 'politik 
efisiensi' dari satu fraksi kekuasaan. Tapi kita juga boleh 
membacanya dengan cara terbalik, yaitu sebagai reaksi tersembunyi 
dari kecemasan menghadapi kemungkinan pilpres dua putaran.

Politik komunikasi sebetulnya hanyalah permainan psikologi yang dapat 
di bolak-balik. Maknanya seringkali tersembunyi dalam kecemasan sang 
komunikator. Dan dalam politik, beda antara keyakinan dan kecemasan 
sangat mudah terbaca.

Satu hal yang perlu kita pahami adalah bahwa Indonesia sedang 
berupaya mengkonsolidasikan demokrasi. Instalasi demokrasi telah kita 
bangun: partai, parlemen, mahkamah konstitusi, pers yang merdeka. 
Tapi hal yang lebih penting adalah mendidik mentalitas demokrat, 
yaitu mentalitas yang tidak arogan karena berkuasa, dan tidak 
mendikte publik dengan kapital. Keindahan demokrasi bukan pada 
monopoli kebenaran, tapi pada pertukaran kemungkinan.

Pilpres harus kita maksudkan sebagai upaya pendidikan politik 
warganegara, yaitu pendidikan tentang kesetaraan hak dan kesempatan 
berpartisipasi dalam penyusunan pemerintahan. Politik yang dikuasai 
oleh arogansi kekuasaan dan dikendalikan kekuatan kapital adalah 
politik yang merendahkan akal sehat warganegara.

Satu putaran atau dua putaran, bukan itu soalnya. Ukuran sukses 
pilpres terletak pada kemerdekaan warganegara untuk memakai haknya 
tanpa dicurangi. Menyelenggarakan Pemilu sebagai upaya memungkinkan 
perubahan adalah pelajaran demokrasi paling utama. Itulah yang harus 
kita menangkan di hari-hari ini. [L1]



 
















      

[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke