Wawancara dengan ekonom Faisal Basri sangat menarik. Faisal menduga, SBY memilih Boediono karena SBY memilih cawapres yang tidak punya ambisi untuk mencalonkan diri sebagai presiden. Karena keluarga Sarwo Edhie sedang menyiapkan untuk 2014, yaitu Danjen Kopasus sekarang (Mayjend Pramono Edhie Wibowo). Kata Faisal: "Masih bintang dua, tentu tidak disiapkan menjadi wapres. Dia yang sedang dipersiapkan ke depan. Mau apa lagi, di republik ini memang ada oligarki."
======================== Dipetik dari http://www.koran- jakarta.com/ ver02/detail- news.php? id=8775&& idkat=106 ++++++++++++ ++++++++ "Faisal Hasan Basri" Minggu, 24 Mei 2009 01:54 WIB Posting by : ega Ekonom kritis ini bercerita tentang tuduhan dia merapat ke tim ekonomi Yudhoyono, dikotomi ekonomi neoliberal dan kerakyatan yang dia sebut norak, dan sering menolak tawaran jabatan. Kaum intelektual dan politik kerap ditempatkan pada kutub yang selalu berhadapan. Intelektual yang merapat ke kubu politik selalu saja dikecam, seperti yang dialami Faisal Basri akhir-akhir ini. Tulisannya berjudul "Pak Boed yang Saya Kenal" yang tersebar lewat internet membuat Faisal menjadi bulan-bulanan. Dia dituding sangat membela Boediono, cawapres Susilo Bambang Yudhoyono, yang perspektif ekonominya selama di eksekutif sangat neoliberal. Kepada Alfred Ginting, Adhiyanto, Teguh Nugroho dan Sari Handini, ekonom berambut tipis ini tenang-tenang saja menanggapi tudingan itu. Faisal menemui tim. Koran Jakarta di restoran Hotel Sultan, Senayan Jakarta, Kamis (21/5) lalu. "Saya mengajak ke sini bukan karena apa-apa. Nanti jam 5 saya diminta orasi di acara Federasi Serikat Pekerja Metal Indonesia di Gelora Bung Karno, tempat ini paling dekat," kata dia. Dalam wawancara, tabiat Faisal tak pernah berubah dari 10 tahun lalu. Di tengah wawancara dia akan membuka komputer jinjingnya untuk menunjukkan data. Berikut petikan wawancaranya: Saat ini semakin jelas ekonom siapa saja yang merapat ke calon presiden. Dan Anda disebutkan bergabung dalam tim ekonomi SBY-Boediono? Saya bukan tim sukses, bukan tim apa-apa. Memang saya diminta tapi saya tidak mau. Tapi Anda dekat dengan Boediono? Saya memang kenal dengan Pak Boed (Boediono), masa´ bilang saya nggak kenal. Pak Boed bukan sahabat saya, dia jauh lebih tua. Tapi kalau dibilang seperti itu mau bagaimana lagi. Ini buktinya, SMS belum lama. (Faisal menunjukkan isi pesan pendek di ponselnya yang berasal dari anggota tim sukses SBY-Boediono) "Bang saya berpikir menurut saya Bang Faisal harus masuk ke dalam tim inti Pak Boed. Karena saya lihat memang Pak Boed perlu dukungan orang-orang pihak bank" Jadi saya memang belum masuk dan saya tidak mau. Tawaran datang darimana saja? Macam-macam. Termasuk Rizal Malaranggeng telepon ke rumah, tidak pernah saya tanggapi. Kalau dihubungi ke ponsel tidak pernah saya angkat. Kalau saya ingin bisa telepon balik, tapi saya tidak mau. Karena apa? Kalau sudah dibujuk, saya orangnya lemah, susah menolak. Jadi saya tidak tanggapi. Bu Mega juga pernah meminta. Saya datang dua kali ke Mega Institute dan datang juga ke Rakornas PDI-P di Solo, saya sudah dibilang orang Mega. Ya sudahlah. Tulisan Anda "Pak Boed yang saya Kenal" dinilai mendongkrak pencitraan Boediono saat dia tengah dituding karena perspektif ekonomi neoliberal? Ceritanya itu, saya sedang di Singapura, 14 Mei. Pagi-pagi di stasiun MRT, saya buka berita (tudingan terhadap Boediono) lewat ponsel. Mau menangis saya, kok orang zalim sekali, terutama Mas Amien (Rais) yang mengatakan Pak Boed simbol neoliberal dan segala macam. Padahal saya tahu Pak Boed tidak seperti itu. Tapi saya kan tidak bisa berbuat apa-apa. Saya pikir, nanti di feri menuju Batam saya ingin menulis. Akhirnya setelah di Batam, saya menulis, 1,5 jam, dan kirim ke Kompasiana. Berangkat dari kesedihan saya saja karena seorang kawan diperlakukan begitu. Tidak adilnya kan Pak Boed diserang semua orang, dan tidak ada yang menulis tentang dia. Saya cuma menulis seprintil, dan saya sebut "sisi lain seorang Boediono." Hanya sisi lain, tidak semuanya. Kabar itu sangat kuat, dan Anda belum pernah membantah? Ada yang menyebut saya pantas saja menulis seperti ini karena (saya) tim opininya Bara Hasibuan. Memang Bara teman dekat saya dulu di PAN. Sekarang ketemu saja tidak pernah. Jadi bagaimana lagi, sepertinya semua orang sudah dibingkai. Padahal saya menulis itu plong dari hati saya. Banyak tawaran, kenapa Anda selalu menolak? Salah satu ekonom yang saya kagumi Paul Krugman, pemenang hadiah Nobel 2008. Latar belakanganya sama dengan Lawrence Summers (menteri keuangan Amerika di era Bill Clinton). Summers selalu di birokrasi. Krugman tidak pernah bercita-cita jadi apa-apa, kecuali jadi akademisi dan dia bangga karena merasa lebih berguna di situ. Dia menulis rata-rata dua kali seminggu di New York Times, kolomnya ringkas, tapi membentuk opini yang lebih dahsyat daripada opini Summers. Saya memang tidak bisa meniru Krugman, karena saya bukan seorang Doktor, dan tidak pernah penelitian lagi. Dan selama ini kesannya saya dianggap Mr. No, No melulu. Sejak zaman Pak Tanri Abeng jadi meneg BUMN, Sofyan Djalil telepon, "Faisal kamu jadi komisaris Angkasa Pura II dua ya." Saya bilang, "saya pikir-pikir seminggu, Bang." Seminggu kemudian dia telepon, saya bilang: "Maaf deh Bang saya nggak cocok jadi komisaris." Bukan karena komisaris Angkasa Pura terlalu kecil. Bukan itulah intinya. Waktu Ani (Menteri Keuangan Sri Mulyani) baru seminggu jadi menkeu, saya diundang sarapan ke rumahnya, ada Pak Darmin Nasution. "Bang Faisal jadi dirjen Bea Cukai ya," katanya. Waktu itu saya ada alasan karena ingin ikut pencalonan gubernur DKI. Lalu dia mengundang lagi ke kantornya, "Bang jadi staf khusus saya ya," kata dia. Saya bilang, saya di luar saja. Belum lama ini diminta lagi jadi komisaris oleh dirut PLN. Tapi bukan berarti saya tidak masuk tim pemerintahan. Waktu jaman Gus Dur saya jadi Tim Asistensi Ekonomi Presiden. Tapi itu tidak ada gaji, SK (pengangkatan) saja tidak ada. (tertawa) Selama ini Anda kritis tentang pencapaian ekonomi pemerintahan. Tulisan tentang Boediono itu menimbulkan nuansa yang sangat lain? Ya, 24 April lalu saya menulis "Menakar Kinerja SBY-JK." Sampai waktu itu ada orang dari kubu SBY bilang, "Bang sebulan ke depan jangan keras-keras lah kritiknya!" Sebetulnya yang saya tulis masih konsisten, tentang apa yang dicapai pemerintah itu stabilitas makro. Pak Boed ketika di kabinet Mega juga keberhasilannya stabilitas makro. Yang saya kritik adalah sektor riil yang tidak jalan. Siapa yang membuatnya tidak jalan? Menteri-menteri teknis. Fahmi Idris kemana saja? Menteri ESDM kemana? Dalam menganalisa ekonomi, seperti dokter saja. Sebelum dokter tahu tentang kondisi tubuh kita yang diperiksa: detak jantung, tekanan darah dan suhu tubuh. Kalau tiga ini tidak beres, baru bisa ketemu apa yang sakit. Temperatur itu inflasi, detak jantung itu nilai tukar dan tekanan darah itu suku bunga. Tiga ini ukuran makronya. Dan sekarang memang semakin baik. Itulah kontribusi Pak Boed. Inflasi Januari-April 0.05 persen, masa´ saya bilang makin buruk? Kan tidak mungkin. Tapi sektor riilnya tidak jalan, mengakibatkan pengangguran dan kemiskinan. Tapi saya juga harus klarifikasi, Pak Bud bukan tidak pernah membuat kesalahan kebijakan. Kesalahan bagaimana? Saya pernah sekali kritik Pak Boed, terbuka di koran. Waktu itu Menkeu menutupi beban pemerintahan dari surat utang yang diteken Bambang Subiyanto, SU 1-4 yang bunganya tinggi. Waktu memberi penjelasan tidak dicantumkan tentang bunga itu. Waktu itu saya rektor Perbanas. Ada kongres Perbana dibuka Bu Mega. Dia datangi saya, klarifikasi. Katanya saya salah pengertian. Tapi saya tahu dia menutup-nutupi. Kenapa saat ini 'perang dagang' para capres adalah ekonomi, tidak ada lagi isu politik? Yang agak unik Jusuf Kalla, karena dia menempatkan diri bukan sebagai orang pemerintah selama ini. Dia ingin membuat paradigma baru. Menurut saya positif-negatif dari kondisi sekarang ada kontribusi JK juga. Dia wapres bahkan dia yang mengelola ekonomi secara keseluruhan. Pertanyaannya, selama ini dia diberi hak berdasarkan perjanjian hitam di atas putih, sebagaimana yang diminta Prabowo ke Ibu Mega. Mirip posisi perdana menteri yang diminta Prabowo. Ruwet politik kita kalau tidak ada etika. Tidak ikut fatsoen politik yang salah satunya kalau Anda atasan saya, Anda presiden dan saya wapres, Anda maju lagi, saya tidak akan maju lagi. Karena saya meyakini Anda lebih baik dari saya, maka saya mau jadi wakil Anda. Sekarang tiba-tiba saya bilang saya yang lebih baik, saya yang paling banyak kontribusi, saya yang jadi bumper. Di negara lain tidak ada seperti ini. Coba lihat (Abdullah) Badawi, kan dia menghormati Mahatir. Anwar Ibrahim coba lihat, jadi begitu. Di AS, Al Gore, dia mencalonkan presiden sebelum Clinton ada. Akhirnya dia menjadi wapres Clinton dan kemudian dia tidak mencalonkan diri waktu Clinton calon presiden. Tunggu sampai Clinton selesai. Ini hebatnya Obama, kompetitor dia yang paling hebat siapa? Hillary. Hillary dia taruh di posisi menlu. Sehingga tunggu 4 tahun lagi, iris kuping saya kalau dia maju, tidak bakalan. Tidak mungkin Hilary menantang Obama lagi. Challenger itu harus orang baru, bukan bekas orang nomor dua, apalagi pembantu atau menteri. SBY dulu menkopolkam di masa Mega? SBY tidak melakukan fatsoen politik. Agum Gumelar juga begitu. Bedanya kalau yang lain minta izin ke Bu Mega, SBY tidak. Kalau saya menteri, saya tidak akan mencalonkan diri jadi presiden, kalau bos saya mencalonkan. Anda geram sekali pada JK? Sekarang keluar kata-kata yang paling membedakan JK dengan SBY adalah kemandirian. Kalau Ibu Mega pro ekonomi kerakyatan. Jadi dua pihak ini menempatkan diri sebagai antitesa dari yang sedang memerintah. Kalau penantang memang harus menunjukkan beda dari incumbent. Menawarkan sesuatu yang baru, yang memberi harapan. Seolah-olah pemerintahan SBY ini neolib dan terwakili pada sosok Pak Boed. Dan dilawanlah dengan jargon kemandirian- kerakyatan. Nah pertanyaannya sekarang, apa itu neolib dan apa ekonomi kerakyatan. Tidak ada itu sistem ekonomi neolib, dia bukan mainstream dalam sistem ekonomi. Dia cabang dari liberalisme. Neolib muncul tahun 1970an karena dipandang sebagai bentuk liberalisme baru dengan karakteristiknya yang lebih ekspansif. Tidak ada negara di dunia ini yang murni bebas dari campur tangan negara. Amerika negara yang paling banyak campur tangan negaranya, pada bidang jaminan sosial, insentif pertanian, macam-macam. Lebih berat intervensi negara di AS daripada di Indonesia. Ujung tombak neolib yakni free trade dan free movement of capital. Negara-negara maju mengusung neolib karena mereka tidak bisa lagi kompetisi bikin ini bikin itu, upah buruh sudah mahal. Jadi mereka mempertahankan hegemoni ekonominya dengan cara agar dunia membuka diri supaya mereka bisa bikin pabrik dimana-mana. Supaya lancar ekspansi mereka, syaratnya harus ada perdagangan bebas dan modal harus bebas gentayangan kemana-mana. Lalu, ekonomi rakyat bukan sistem, tidak bisa dikontraskan dengan neolib. Ekonomi rakyat bisa diterapkan di sistem ekonomi apapun. Definisinya kebijakan ekonomi yang berorientasi pada pemenuhan kebutuhan dasar rakyat. Secara maksimal diterapkan di negara komunis seperti Kuba, semua bisa gratis. Jadi ekonomi rakyat tidak mengenal ideologi? Ya, saya selalu membantah, karena perspektif itu diterapkan di negara liberal seperti Norwegia, Swedia, negara-negara Skandinavia dengan level yang lebih canggih kebutuhan dasar rakyatnya. Jadi ekonomi rakyat adalah orientasi dasar yang bisa diaplikasikan pada semua sistem ekonomi. Penerapan jargon ekonomi kerakyatan sekarang ini norak. Negara Skandinavia menerapkan pajak pogresif yang begitu berat bagi orang kaya, sementara di Indonesia pajak masih menyenangkan kelompok kecil orang kaya. Skandinavia memang gila, pada level pendapatan tertentu pajak bisa 70%. Tapi ada resikonya. Negara-negara bersistem welfare state sudah kolaps. Kalau tidak ada bencana dalam sistem ekonomi, baik-baik saja. Tapi ekonomi dunia kan fluktuatif. Pajak kan fungsi dari kegiatan ekonomi. Kalau kegiatan ekonomi nyungsep, pendapatan dasar negara ikut nyungsep. Padahal pelayanan dasar tidak bisa nyungesep tiba-tiba. Dana kesehatan dipangkas 50%, tidak mungkin. Pelayanan kesehatan harus jalan terus, padahal APBN jebol. Makanya ada reformasi di negara-negara Skandinavia. Di Jerman (Gerard) Schroeder kalah oleh Angela Merkel, karena reformasi sistem keuangannya tidak populer. Tidak bisa apa yang sudah dikasih ke rakyat diambil atau dikurangi, pasti tidak terpilih lagi. Itulah kelemahan welfare state. Jadi tidak ada yang sempurna di dunia ini. Isme yang ekstrim, liberalisme atau komunisme itu hanya suatu model berpikir. Tidak ada kenyataan hidup yang murni komunis atau liberal. Ada indeks kebebasan dalam ekonomi, siapa paling tinggi? Bukan AS tapi Hongkong. Itulah wujud negara yang ekonominya paling bebas, tidak ada yang mengalahkan. Indonesia berada di tengah-tengah di antara 170 negara. Bagaimana Anda melihat latar belakang SBY memilih Boediono yang teknokrat? Agar tidak mengulangi pengalaman perbenturan kepentingan politik? Itu urusan Pak SBY, saya tidak tahu. Ini analisa saya. Dia memilih cawapres yang tidak punya ambisi untuk mencalonkan diri sebagai presiden. Karena keluarga Sarwo Edhie sedang menyiapkan untuk 2014. Siapa dia? Danjen Kopasus sekarang (Mayjend Pramono Edhie Wibowo). Masih bintang dua, tentu tidak disiapkan menjadi wapres. Dia yang sedang dipersiapkan ke depan. Mau apa lagi, di republik ini memang ada oligarki. [Non-text portions of this message have been removed]

