Refleksi : Akan sangat menarik jawabanya bila ditanyakan kepada para 
capers-cepers buku apa yang sedang atau terakhir dibaca.  

http://www.antaranews.com/view/?i=1245246093&c=NAS&s=PDK

Budaya Baca Indonesia Terendah di Asia Timur
Rabu, 17 Juni 2009 20:41 WIB | 
Surabaya (ANTARA News) - Budaya membaca masyarakat Indonesia terendah di antara 
52 negara di kawasan Asia Timur berdasarkan data yang dilansir Organisasi 
Pengembangan Kerja Sama Ekonomi (OECD).

Menurut Kepala Arsip dan Perpustakaan Kota Surabaya, Arini, dalam seminar 
"Libraries and Democracy" di Surabaya Rabu, OECD juga mencatat 34,5 persen 
masyarakat Indonesia masih buta huruf.

"Karena itu, pengembangan minat baca merupakan solusi yang tepat," kata Arini 
dalam seminar yang diselenggarakan oleh Perpustakaan Universitas Kristen Petra 
Surabaya, Goethe -Institute Indonesien, dan  Ikatan Sarjana Ilmu Perpustakaan 
dan Informasi Indonesia (ISIPII) itu. 

Apalagi, katanya, anak SD yang dibiasakan dengan budaya baca dan tulis memiliki 
prestasi tinggi dibanding anak SD yang selama enam tahun tidak dibiasakan 
dengan budaya baca dan tulis.

Menurut dia, pembiasaan membaca dan menulis itu harus dilakukan dengan program 
pemaksaan pinjam buku di perpustakaan, lalu diberi tugas membuat kesimpulan 
dari buku yang dipinjam.

"SD swasta yang melaksanakan hal itu umumnya memiliki prestasi yang sangat 
memuaskan dibandingkan sekolah negeri yang belum memiliki kebiasaan itu," 
katanya.

Oleh karena itu, katanya, Perpustakaan Kota Surabaya mengembangkan program 
serupa, di antaranya membuka perpustakaan selama tujuh hari dalam seminggu.

"Kami juga mengembangkan program pembinaan perpustakaan yang ada dengan 
pengadaan 157.095 buku setiap tahunnya, sekaligus melatih pustakawan yang ada," 
katanya.

Program lain yang sangat penting adalah pengembangan "Sudut Baca" di berbagai 
kawasan publik seperti puskesmas, balai kelurahan, perkantoran, perusahaan, dan 
pusat-pusat keramaian.

"Karena itu, kami merancang rancangan peraturan daerah untuk penyediaan 
fasilitas sudut baca di berbagai lokasi layanan publik di Surabaya," katanya.

Senada dengan itu, pakar perpustakaan dari Jerman Hermann Rosch menyatakan, 
perpustakaan itu menunjang pembelajaran sepanjang hidup, pengembangan pandangan 
yang tak muncul di permukaan, dan mendukung transparansi.

"Perpustakaan itu tidak hanya berfungsi pendidikan, tapi juga sosial, politik, 
dan informasi. Fungsi sosial terkait dengan pengembangan emansipasi, sedangkan 
fungsi politik terkait dengan kompetisi ide dan transparansi. Untuk fungsi 
informasi terkait dengan upaya mendorong keterbukaan dalam masyarakat," 
katanya. 
(*)

[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke