Posted by: "kalamdari" [email protected]   kalamdari 
Sun Jun 21, 2009 5:32 am (PDT) 
(dikutip dari milis Jurnalisme)

CATATAN: Berikut analisa politik Iran dari rekan Musa Kazhim. Dia anggota milis 
ini, pernah tinggal cukup lama di Iran, sebagai pelajar filsafat di Qom. 
Analisanya ini bisa menjadi pelajaran berharga untuk kita, kalangan wartawan. 
Dia membahas premis2 salah yang menyebabkan Barat selalu gagal memahami Islam 
dan Iran. Thanks untuk MK yang mau membagi tulisan ini untuk Jurnalisme.

AH 

------------ --------- --------- --------- ---

Premis-Premis Salah tentang Iranisme

Oleh Musa Kazhim

Sebagai orang yang pernah tinggal di Iran, beberapa hari terakhir ini saya 
menerima banyak pertanyaan tentang situasi Iran pasca pilpres 12 Juni. Ada yang 
hanya ingin mendengar kabar terakhir. Ada yang khawatir dan mulai panik. Dan 
sebagian besar lebih karena bingung. Yang bingung ini tentu saja mereka yang 
menyantap informasi dari media Barat. 

"Apa betul republik Islam Iran akan tumbang?" 

"Apa protes ini akan berakhir dengan Perang Bubat?" 

"Apakah akan ada revolusi baru di Iran?"

Tentu saya tak bisa menjawab satu demi satu pertanyaan itu. Tapi saya menemukan 
sejumlah premis yang salah di balik pertanyaan2 tadi. Di bawah saya akan 
mencoba mengurai premis2 yang salah itu secara sekilas.

Namun, sebelum bicara soal premis2 tadi, saya ingin pertama2 menegaskan bahwa 
gerakan populer dalam masyarakat religius seperti Iran tak bisa terjadi tanpa 
dukungan ulama. Atau minimal kepemimpinan ulama kharismatik seperti Imam 
Khomeini. Revolusi beludru (velvet revolution) seperti yang terjadi di negera2 
Eropa Timur agaknya sulit terwujud. Mayoritas masyarakat Iran hanya mau 
berkorban untuk keuntungan duniawi yang jelas atau perintah agama (ulama) yang 
dipercaya. Tanpa komando ulama, rasanya yang mungkin terjadi hanyalah kericuhan 
sporadis yang tak mungkin bertahan lama. 

Poin inilah yang secara tegas dikemukan oleh pemikir Iran, Jalal-e Ahmadi, 
puluhan tahun sebelum revolusi Islam tahun 79. Dia menjelaskan bahwa gerakan2 
marksis, sosialis dan komunis di Iran tak akan mendapat sambutan luas 
masyarakat selama Shah masih bermesra2an dengan ulama. Dia dan Shariati 
kemudian membuat serangkaian tulisan yang menggugat peran ulama yang seolah 
menjadi stempel kekuasaan Shah. Dan kedua pemikir Iran ini benar. Begitu Shah 
mulai bermasalah dengan lembaga2 keulamaan yang disimbolkan oleh Imam Khomeini, 
rezimnya pun tampak begitu rapuh.

Lalu, protes2 ini akhirnya benar2 menjadi kericuhan massal—seperti yang diduga 
banyak pengamat dan media Barat—rasa2nya para demonstran pro-Mousavi yang 
berasal dari Tehran utara yang umumnya kaya dan suka berfoya2 tak mungkin mampu 
menandingi kesiapan-berkorban ratusan ribu warga miskin Tehran selatan yang pro 
Ahmadinejad. Massa demonstran Tehran utara itu jelas bukan lawan tanding warga 
miskin Tehran selatan yang pro Ahmadinejad.

Ini belum lagi ditambah pasukan basij (paramiliter) , polisi, militer, Pasukan 
Pengawal Revolusi dan lain yang takkan membiarkan kericuhan massal terjadi di 
luar kendali. Bila kekuatan massa pro Ahmdinejad dan pro Khamenei ini, maka 
bisa dipastikan massa pendemo pro Mousavi atau anti pemerintahan Islam itu 
bakal kalang kabut. "They will stand no chance of winning street battles," kata 
Nader Mothari dari koran The Kayhan.

Lebih dari itu, Mousavi bukanlah orang yang berwibawa. Dibanding Ahmadinejad 
saja Mousavi sudah kalah wibawa. Retorikanya lemah, kepribadiannya introvert 
(bayangkan, sudah sekitar 20 tahun dia tidak muncul di pentas politik 
nasional), aristokrat sehingga hanya disenangi kalangan elit di Tehran utara, 
dan sebagainya. 

Tentu ada sejumlah ulama senior, seperti Muntazeri, Sanei, Ardebili, dan 
mungkin juga Rafsanjani dan Khatami yang mendukung Moussavi. Tapi gabungan 
ulama yang tak populer ini tak bisa menandingi wibawa dan rekam jejak Khamenei 
seorang—apalagi di belakang Khamenei masih ada Taqi Mesbah, Muhammad Yazdi, 
Jannati, Ka'bi, dan hampir semua guru agama di Qom.

Nah, sekarang mari kita bahas premis2 keliru itu satu demi satu.

PREMIS PERTAMA: MANUSIA PADA DASARNYA TAK RELIGIUS
Menurut premis ini, manusia itu tak lebih dari makhluk biologis yang hasrat dan 
cita2nya juga biologis. Sistem (individual/ sosial) yang religius, bagaimana 
pun kuatnya, cepat atau lambat pasti tumbang dan punah. Premis ini paling 
banyak membekam benak politisi dan wartawan Barat atau orang yang terobsesi 
dengan Barat. Padahal, fakta dan argumen filosofis menunjukkan sebaliknya: 
manusia adalah makhluk yang pasti memiliki aspirasi-aspirasi religius, 
spiritual dan transendental. Sistem yang tak memberi ruang aktualisasi potensi2 
adiluhung manusia justru sangat rapuh. Cepat atau lambat sistem yang sama 
sekali profan itulah yang bakal hancur.

Barangkali memang tak mudah berbicara tentang rasa sawo dengan orang yang sama 
sekali tak pernah merasakan buah sawo. Sangat melelahkan dan membuat putus asa. 
Tapi untungnya, dalam hal ini, orang hanya perlu sejenak melihat ke dalam 
hatinya, dan meminta pandangan yang sepenuhnya jujur: Apakah cita2 hidup yang 
sempurna, dekat dengan Sang Maha Kuasa, Maha Sempurna, Maha Pengasih lebih kita 
senangi ketimbang hidup yang sementara dan palsu? Kalau orang menjawab lebih 
suka yang sementara, semu, palsu dan berubah2 sebentar enak dan sebentar lagi 
menjijikkan, maka saya rasa kita tak mungkin bertemu. Sederhananya, kita 
berasal dari dua spesies yang berbeda lahir dan batin. 

Tapi, kebanyakan orang yang jujur pasti menjawab bahwa di dalam hatinya ada 
kerinduan pada Sesuatu yang lain, yang Sempurna, yang Abadi, yang Mengasihi 
tanpa kebutuhan akan imbalan dan sebagainya. Kerinduan inilah yang dipenuhi 
oleh agama. Meskipun kita harus segera tambahkan bahwa sebagian besar manusia 
tak mau melewati segala kesulitan untuk menemukan Sesuatu yang didambakan dan 
dirindukannya. Kebanyakan orang lebih mengutamakan junk food yang di depan mata 
ketimbang menunggu agak lama datangnya makanan yang lebih bergizi. Itulah 
kelemahan nyata dalam diri manusia, tapi kelemahan itu tak membuat kerinduannya 
bisa dihilangkan atau dimusnahkan—bagaiman apun caranya.

PREMIS KEDUA: DASAR2 AGAMA TAK SEJALAN DENGAN KEMAJUAN MANUSIA
Premis ini kelanjutan dari premis utama di atas. Bahwa agama itu adalah 
peninggalan masa lalu, masa ketika manusia masih tinggal di celah2 gunung 
berbatu atau di padang pasir yang tandus. Iya, itulah masa ketika manusia belum 
mengenal keajaiban sains dan teknologi, belum merasakan hebatnya kekuatan pasar 
dan media, belum merasakan pengaruh uang dan ketenaran dan sebagainya. 

Tapi di zaman ini, zaman yang sarat godaan dan kesenangan ini, zaman ketika 
manusia tergila2 pada benda2 dan uang, agama menjadi rongsokan. Tak ada lagi 
orang yang waras-modernitas atau lebih kerennya lagi sadar-ilmu dan 
rindu-kemajuan sudi kembali ke agama. Bagi orang yang mau sedikit meredakan 
kepenatan akibat rutinitas hidup di zaman modern ini, mungkin agama bisa 
menjadi alternatif relaksasi yang murah meriah. Meski jelas relaksasi 
berlebihan dapat menumbuhkan satu atau saraf primordial yang masih tersisa 
dalam gen manusia modern. Di luar fungsi itu, menurut premis ini, agama 
hanyalah lelucon yang tak menyenangkan.

Benarkah demikian? Benarkah Islam, misalnya, membuat manusia mundur, kuper, 
kikuk, gagap menghadapi dinamika zaman ini? Benarkah Islam ikut 
bertanggungjawab atas segala pembantaian massal di Hiroshima-Nagasaki, kematian 
lebih dari 15 juta jiwa sepanjang Perang Dunia II di benua Eropa? Benarkah 
Islam ikut bertanggungjawab membangun sistem ekonomi dunia yang memperkaya 
segelintir orang dan memiskinkan sebagian besar dari sekitar 7 milyar penduduk 
bumi? Benarkah Islam yang membuat sejumlah ilmuwan terpikir membangun bom 
nuklir yang amat mematikan? Benarkan Islam mengilhami kerakusan sejumlah negara 
indutri untuk mengeksploitasi sumber2 daya alam sehingga timbul bencana2 
kemanusiaan yang mengerikan? Benarkah kerusakan lingkungan hidup yang sudah 
sampai pada tingkat sangat mencemaskan ini bersumber dari kesalehan religius 
orang atau masyarakat yang menjalankan ajaran2Islam?

Ayolah … tolong hargai sedikit sejarah dan informasi yang tersedia bagi siapa 
saja yang mau mengetahui berkenaan dengan ideologi dan ajaran apa yang 
sebenarnya mendorong semua prahara selama 100 tahun terakhir ini? Saya jadi 
teringat pada ungkapan ini: "You can fool some people sometime, but you cannot 
fool all the people all the time!"

Pelajaran selama 100 tahun terakhir menyimpulkan bahwa Islam meninggalkan 
jejak2 kemuliaan di hampir semua aspek peradaban manusia. Sebaliknya, jejak2 
kerusakan timbul manakala materialisme, liberalisme, kapitalisme dan 
industrialisme menemukan momentumnya di Era Renaisans. Orang tak perlu jadi 
jenius atau profesor untuk meramal apa yang akan terjadi bila trend yang 
dominan saat ini dibiarkan merasuki dan mengharu biru semua ruang kehidupan 
manusia tanpa ada alternatif lain.

PREMIS KETIGA: AGAMA DAN POLITIK BAK AIR DAN MINYAK
Menurut premis ini, agama tak boleh bercampur dengan politik. Pasalnya, agama 
atau agamawan akan merusak atau dirusak oleh permainan politik, sehingga 
kehilangan kesuciannya. Bukan hanya itu, agama juga kemudian tak boleh dibawa 
dalam bisnis karena bisnis itu juga kotor. Dan saat kekotoran itu ada di semua 
sudut dunia, maka tak ada jalan lain kecuali memindahkan urusan agama sebagai 
urusan pribadi. 

Lalu, lantaran sudah tentu tak mungkin ada garis-pemisah yang tegas antara 
urusan pribadi dan publik, maka ujung2nya muncul pikiran untuk mengubur agama 
atau membawanya ke kuburan saja. Di antara mayat2 itulah agama mungkin ada 
gunanya. Tapi, di tengah masyarakat yang bernyawa dan dinamis, agama itu tentu 
bakal menjadi gangguan yang tak perlu. 

Nah, dari mana datangnya kekonyolan ini? Simpelnya, selain datang dari premis2 
yang salah di atas, juga ditambah dengan faktor kedangkalan memahami agama. Ada 
anggapan bahwa lantaran agama itu datang dari Tuhan nun jauh di singgasana 
langit ketujuh sana, maka semuanya menjadi tak layak dipakai di dunia ini. 
Kalaupun dipaksakan, maka agama itu akan melahirkan ekstremisme, fanatisme, 
absolutisme dan segala isme2 horor lain. 

Dalam praktik politiknya, anggapan ini lantas disebut dengan sekularisme. 
Selain empat isme di atas (materialisme, liberalisme, kapitalisme dan 
industrialisme) , sekularisme menjadi hegemon kerusakan dunia saat ini. 
Sekularisme bukan saja gagal membuat orang rendah hati dan tak mutlak2an 
seperti yang diklaimnya saat berusaha menggusur agama dari ranah politik, tapi 
malah sering mengukuhkan monolitisme dan ekstremisme yang lebih kasar. 

Beberapa contoh bisa kita temukan pada sekularisme militeristik ala Turki, 
pemberangusan FIS di Aljazair, penggusuran hasil kemenangan demokratis Hamas di 
Palestina, Islamofobia di Barat, dan sebagainya. 
Lebih dari itu. Akibat represi yang berlebihan pada aspirasi Islam politik di 
era modern ini, kita malah sering menyaksikan ledakan gerakan2 Islam di 
bawah-tanah. Banyak orang2 bawah-tanah tadi yang akhirnya mengangkat senjata 
untuk mengimplementasikan syariah dalam kehidupan.

Itulah ironi dan paradoks yang harus kita terima sebagai akibat dari hegemoni 
sekularisme dalam realitas politik global saat ini. Sedikit koreksi, revisi dan 
kerendahan hati pada sisi kelompok sekuler bakal membantu lahirnya dunia yang 
lebih damai dan sejahtera. Jelasnya, biarkan saja—jika tak mau mendukung—tumbuh 
dua jenis sistem politik: yang satu berdasarkan kontrak sosial yang murni 
profan-sekuler dan yang lain berdasarkan kontrak sosial yang bersumber pada 
ajaran2 agama. 

PREMIS KEEMPAT: REVOLUSI DAN REPUBLIK ISLAM IRAN ADALAH KECELAKAAN
Banyak yang beranggapan bahwa revolusi Islam Iran tahun 1979 adalah kecelakaan. 
Revolusi yang bersumber pada aspirasi religius dan spiritual itu murni 
merupakan penyimpangan dari evolusi bangsa Persia yang 10 ribu tahun lampau 
sudah menjadi pijar peradaban manusia. Sangat aneh bilamana bangsa yang sekian 
ribu tahun lampau sudah maju dan beradab tiba2 kini malah menganut sistem yang 
terbelakang. Menurut premis keempat ini, yang secara silogistik merupakan 
turunan dari premis2 sebelumnya, Islam dan segala perkakasnya tak mungkin 
menjadi kendaraan ideal menuju cita2 manusia modern. 

Jika revolusi Islam itu terjadi pada masyarakat2 primitif, tentu bisa dimaklumi 
dan bisa direlakan. Tapi, jika ia terjadi pada bangsa yang ribuan tahun silam 
sudah memuncaki peradaban, maka seolah-olah sedang berlangsung sesuatu yang 
aneh dan menyimpang. Intinya, revolusi Islam tahun 79 itu semata-mata kecelakan 
historis yang segera berlalu. 

Benarkah begitu? Mungkinkah revolusi dan republik Islam yang dilahirkannya itu 
adalah deviasi, dan bukan evolusi alamiah dari bangsa yang memiliki khazanah 
intelektual, filosofis, spiritual, ilmiah yang besar? Para ideolog revolusi 
Islam Iran sudah menjawab tuntas semua masalah itu. Alih-alih membaca literatur 
mereka yang kaya dan berlimpah itu, sebagian besar pengamat/wartawan Barat 
sayangnya justru berfantasi bahwa stigma itulah yang sebenarnya sedang terjadi. 

Bahan bacaan lain yang juga menarik seputar revolusi Islam Iran adalah 
rangkaian tulisan tak lain dan tak bukan, Michel Foucault. Ya, Michel Foucault, 
salah satu pionir gerakan posmodernisme Eropa. Filosof yang dikenal anti 
narasi-besar atau utopia ini ternyata menemukan revolusi Islam sebagai sebuah 
wacana yang singular dan otentik. 

Dalam serial tulisannya di koran Italia Corriere della Sera, kemudian di Le 
Monde dan Nouvel Observateur, Foucault menandaskan bahwa gagasan revolusi itu 
bisa menjadi wacana tandingan yang serius bagi dunia modern Barat. Sayangnya, 
tulisan2 Foucault itu justru kurang diminati. Tentu saja karena semua tulisan 
itu tak sejalan dengan stereotip yang berkembang (atau dikembangkan) di Barat 
ihwal revolusi Islam Iran. Baru tahun 2005 lalu rangkaian tulisan itu 
diterjemahkan dan dipublikasikan dalam bahasa Inggris.

PREMIS KELIMA: KEPEMIMPINAN RELIGIUS PASTI OTORITER
Premis salah kaprah kelima yang saya sarikan dari berbagai tulisan pengamat dan 
media Barat adalah ketakpercayaan mereka pada kemungkinan—meskipun hanya 
secuil—lahirnya kepemimpinan religius yang demokratis dan benar2 merakyat. Bagi 
mereka, ini adalah kemustahilan yg tak mungkin bisa ditawar2 lagi. Sekalipun 
kita membawa bukti2 sebanyak bintang di langit, kepemimpinan religius bagi 
mereka tetap tak mungkin merakyat, empatik, egaliter, rasional apalagi 
demokratis. 

Kalaupun mereka terpaksa melihat fakta2 positif, maka sistem saraf mereka akan 
otomatis membangkitkan trauma2 historis tentang otoriterianisme Gereja Barat 
pada Abad Kegelapan. Sebanyak apapun fakta kita hadirkan belum tentu akan 
mengobati trauma2 itu. Akibat trauma historis yang sudah menjadi memori 
kolektif itu, semua fakta terkait demokrasi religius akan mereka hadapi secara 
hiperkritis dan oversimplistis. Inilah menurut saya yang membuat mereka tak 
pernah bisa memahami demokrasi Iran sejak tahun 1979 atau kemungkinan gerakan2 
model Hizbullah dan Hamas dalam mengadopsi proses2 demokratis. 

Jadi, sebaiknya kita hadapi saja stereotip mereka ini sebagai penyakit—bagi 
yang mau berobat mesti terlebih dahulu menghapus sebagian besar memori penuh 
prasangkanya. Barangkali neuralyzer yang dipakai oleh agen2 dalam film Man in 
Black bisa kita pinjam untuk menghapus memori massal di benak publik Barat.

PREMIS KEENAM: DEMOKRASI ADALAH NILAI UNIVOK
Ada dugaan umum di kalangan media Barat bahwa demokrasi itu bukan istilah yang 
multi tafsir. Semua selain demokrasi liberal ala Barat, seperti demokrasi 
reliogius, bukanlah demokrasi dan karenanya bersifat palsu dan tipuan belaka. 
Akibatnya, demokrasi itu menjadi nilai yang monolitik, univok, sederajat, 
semakna, kaku, dan menolak tafsir2 lain di luar demokrasi liberal. Mereka 
sepenuhnya percaya pada jargon the liberal inevitability dan The End of 
History-nya Fukuyama. Maksudnya, demokrasi liberal Barat itu adalah puncak dan 
kulminasi dari evolusi berbagai sistem pemerintahan di dunia. Tak ada lagi 
kemungkinan hadirnya sistem lain yang lebih baik dan lebih sehat. Kalau pun 
ada, maka tentu sistem itu tak mungkin bisa diterapkan dalam kehidupan nyata. 

Ini jelas kebebalan dosis tinggi. 

Lantas apa dampak dari kebebalan ini? Mereka menjadi dogmatik dan ekstremis 
dalam mempromosikan demokrasi di dunia. Sekiranya orang2 Barat itu berhenti 
sejenak dan membaca sejarah bangsa2 dunia selama ribuan tahun silam, tentu 
mereka bisa lebih sedikit rendah hati. Dan begitulah yang terjadi pada sebagian 
kecil pengamat Barat saat berbicara tentang dunia Islam, seperti Michel 
Foucault di atas. Sayangnya baru sedikit sekali yang demikian dan yg sedikit 
inipun tak populer dan kalah vokal dibanding mayoritas pengamat dan media yang 
bebal dan sok-tahu itu.

Ketika Imam Khomeini menyuruh referendum untuk memilih sistem negara, pengamat2 
dan media Barat mendadak kaget. Lalu mulailah mereka mengarang berbagai kisah 
tekanan, intimidasi dan teror untuk sekadar membuktikan praduga mereka bahwa 
tak mungkin ruhaniwan seperti Imam Khomeini percaya pada demokrasi apalagi 
menghargai suara rakyat. Tak mungkin ada agama yang mengajarkan orang untuk 
menghargai pendapat lain, apalagi rakyat kebanyakan. Maka, muncullah 
penyangkalan demi penyangkalan atas semua yang terjadi.

Demikian pula ketika 85% penduduk Iran ikut dalam pesta demokrasi tanggal 12 
Juni 09, mereka kaget dan tak bisa percaya. Partisipasi massal ini memang layak 
dirasakan sebagai gempa politik bagi musuh2 Iran dan pesta pora bagi 
pendukung2nya— seperti kata Pemimpin Tertinggi Iran Ali Khamenei dalam 
pidatonya Jumat 19 Juni kemarin. 

Demi meredam gempa politik itu, media Barat cepat2 melupakan partisipasi 85% 
itu dan mencurahkan perhatian dunia pada tuduhan kecurangan yg terjadi. Plus, 
protes2 yang terjadi setelahnya. Sekalipun ada kecurangan dan protes2nya, fakta 
partisipasi 85% penduduk dalam pemilu itu merupakan indikasi hidupnya demokrasi 
dan kepercayaan rakyat pada sistem yang ada. 

Kalau memang Iran selama ini memang benar seperti yang didengung2kan media 
Barat sebagai tak demokratis dan represif, untuk apa partisipasi rakyat 
sebanyak itu? Lebih jauh, kalau rakyat sudah menebak bahwa pemenangnya sudah 
ditentukan, untuk apa pula rakyat berbondong2 memilih? Katakanlah jutaan orang 
di Iran itu dipaksa memilih, lantas untuk apa pula sekitar 3 juta warga Iran di 
luar negeri ikut2an berpartisipasi? 

Partisipasi pemilih yang mencapai 85% atau sekitar 40 juta dari 46 juta DPT 
tentu merupakan prestasi yang tak main2. Setidaknya, di antara puluhan juta 
orang itu, pastilah ada yang percaya bahwa suaranya tak akan dicurangi. Dan apa 
yang terjadi selama 10 kali pilpres di Iran sepertinya bisa mereka jadikan 
referensi.
Pertanyaannya, pernahkah ada partisipasi sebesar ini di negara yang menganut 
demokrasi liberal? Berikan satu contoh saja dalam 35 tahun terakhir ini.

Tuduhan kecurangan dalam pilpres Iran baru2 ini jelas pengalihan isu. "Mereka 
mau menutup2i fakta partisipasi yang besar ini dengan membesar2kan isu 
kecurangan," tandas Ali Khamenei. Padahal, lanjut Khamenei, partisipasi rakyat 
yang demikian besar ini adalah bukti sehatnya sistem politik kita. 

SUMBER: http://musakazhim. wordpress. com/



      

[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke