From: Pandji R Hadinoto, PKPI <[email protected]>
Subject: [PersIndonesia] Waspada Pemilih Gaib Gentayangan
Cc: "Pandji R Hadinoto PKPI" <[email protected]>
Date: Thursday, June 25, 2009, 11:17 AM
Gerakkan Tim Sukses TurBa (Turun Kebawah) ke PKK, DeKel, Ketua RW, Ketua RT,
Karang Taruna, Remaja Mesjid, Pasar Tradisional, Pasar Modern, Pangkalan Ojek,
Pangkalan Bis Antar Kota, dlsb
Karena terindikasi di lapangan sbb :
25/06/09 09:44
Waspada Pemilih ‘Gaib’ Gentayangan
R Ferdian Andi R
Ray Rangkuti
[inilah.com /Raya Abdullah]
INILAH.COM, Jakarta - Kekacauan DPT yang terjadi dalam pemilu legislatif
sepertinya bakal terulang dalam Pemilu Presiden 2009 mendatang. Indikasi
tersebut semakin menyurutkan semangat mewujudkan pemilu yang jujur, adil dan
transparan.
Sinyalmen tersebut muncul dari 35 Kabupaten/Kota di provinsi Jawa Timur yang
ditemukan sekitar 2,2 juta daftar pemilih tetap (DPT) fiktif. Modusnya pun tak
jauh berbeda saat berlangsungnya pemilu kepala daerah Jawa Timur pada Februari
lalu.
Modus operandi DPT fiktif di Jawa Timur tersebut yaitu terdapat pemilih dengan
Nomor Induk Kependudukan (NIK) sama, tetapi namanya berbeda, dan terdaftar di
TPS yang berbeda.
Ada pula yang NIK dan namanya sama, tetapi terdaftar di TPS yang berbeda. Juga
ditemukan NIK, nama, dan TPS-nya sama, tetapi nomor urutnya berbeda. Selain
itu, ditemukan pula NIK-nya sama, tetapi nama, TPS, dan nomor urut berbeda.
Menurut Ketua Pemuda Pancasila Jawa Timur La Nyalla M Mattalitti yang telah
melaporkan DPT fiktif tersebut ke Komisi Pemilihan Umum (KPU) dan Badan
Pengawas Pemilu (Bawaslu), manipulasi DPT tersebut modusnya tak jauh berbeda
dengan kecurangan saat pilkada Jawa Timur lalu.
“Modusnya tak berbeda dengan DPT fiktif saat pilkada Jatim Februari lalu,”
katanya kepada INILAH.COM, Rabu (24/6) di Jakarta. Nyalla mengaku, sumber DPT
fiktif tersebut didapatkan dari oknum KPU provinsi Jawa Timur yang peduli
dengan proses pemilu yang jujur, adil dan transparan.
“Kami mendapatkan soft copy dari oknum KPU Provinsi Jawa Timur yang peduli
dengan pemilu yang jujur, adil dan transparan,” akunya. Ia mencontohkan DPT di
Kabupaten Jember dengan total 1,7 juta pemilih ditemukan sebanyak 424 ribu
terindikasikan fiktif.
Nyalla berkeyakinan DPT fiktif yang ditemukan di 35 kabupaten/kota di Provinsi
Jawa Timur, juga terjadi di provinsi lainnya terutama di pulau Jawa yang
memiliki jumlah pemilih gemuk. “Saya punya keyakinan, DPT fiktif juga ditemui
di Jawa Tengah, Jawa Barat,” tegasnya.
Kendati demikian, Nyalla mengaku kecewa dengan respons KPU dan Bawaslu yang tak
serius. “Sayangnya, sampai sekarang KPU dan Bawaslu santai-santai saja menerima
laporan dari kami,” keluhnya.
Merespon informasi soal DPT fiktif, Direktur Eksekutif Lingkar Madani untuk
Indonesia (Lima) Ray Rangkuti menegaskan, sikap KPU yang tak ambil pusing atas
laporan tersebut menunjukkan lemahnya pemahaman atas makna demokrasi.
“Sikap KPU tidak terkepas dari tidak adanya punishment atas 20 juta pemilih
yang tak terdaftar dalam pemilu legislatif lalu. Jadi laporan semacam itu
dianggap angin lalu, toh tidak memberi dampak apapun,” katanya. Justru jika
merespons laporan soal DPT fiktif, menurut Ray, KPU pusat seperti mengorbankan
jajaran KPU di tingkat daerah.
Terkait ditemukannya DPT fiktif di Provinsi Jawa Timur, cukup bisa dipahami
karena jarak pemilu legislatif dan pemilu presiden tak terlalu jauh. Ray
menduga, bisa saja, munculnya dugaan DPT fiktif karena KPU dalam penyusunan DPT
hanya menghimpun namun tidak menyisir satu persatu.
Laporan dugaan DPT fiktif seharusnya mendapat sorotan serius dari penyelenggara
pemilu. Karena, DPT yang valid menjadi pintu awal menciptakan pemilu yang
jujur, adil dan transparan. [E1]
[Non-text portions of this message have been removed]