Devisa itu umumnya US$. Untuk mendapatkan US$ Indonesia harus: 1. Bersusah payah menjual kekayaan alamnya berupa migas, emas, perak, tembaga, dsb.
2. Menjual BUMN-BUMNnya dengan privatisasi 3. Mengundang Investor asing yang sewaktu-waktu bisa menarik modalnya lagi dan saat itu kita sempoyongan 4. Menambah hutang baru. Untuk mendapatkan US$ AS Harus: 1. Pencet tombol printer dollar sebanyak yang mereka mau. Itu saja.....:) Ada baiknya Indonesia memakai sistem credit Money seperti yang digunakan US$ sebelum tahun 1971 di mana uang yang dicetak dijamin dengan emas dan perak sehingga nilainya lebih stabil dan diakui sebagai pembayaran untuk perdagangan luar negeri. === Ayo Belajar Islam sesuai Al Qur'an dan Hadits http://media-islam.or.id --- Pada Ming, 21/6/09, Yanuar Rizky <[email protected]> menulis: > Dari: Yanuar Rizky <[email protected]> > Topik: [Forum-Pembaca-KOMPAS] Pesan Pasar (Portopolio) Untuk Calon Pemimpin > Negeri > Kepada: "forum-pembaca-kompas" <[email protected]>, > [email protected] > Tanggal: Minggu, 21 Juni, 2009, 5:36 PM > Pesan Pasar (Portopolio) Untuk Calon > Pemimpin Negeri > Oleh: Yanuar Rizky > Gatra, 18-24 Juni 2009 > http://www.elrizky.net/artikel.php?opt=1&id=289 > > "Kemiskinan rakyat umum bertambah lama bertambah besar, > sehingga > kesanggupannya buat membeli benda-benda untuk dimakan dan > perhiasan > hidup semakin lama semakin kurang. Itu sebab, maka > Indonesia tertarik > juga dalam gelombang krisis ini, sekalipun tanahnya amat > subur" (Bung > Hatta, Artikel Daulat Rakyat 26 November 1931) > > Seorang Cawapres mengemukakan anomali ekonomi Indonesia > terlihat dari > cadangan Devisa yang tidak sama besarnya dengan surplus > ekspor di > neraca perdagangan. Titik pandang yang menarik untuk > dibahas secara > serius. Agar arah ekonomi Indonesia lebih seimbang antara > sektor riil > dengan sektor keuangannya. > > Kita akan “bias” terhadap pemaknaan sebuah fakta, > tatkala kita > disandera “siapa yang bicara”. Sengaja, saya tidak > menyebut nama > Cawapres tersebut. Agar jernih, tanpa dipengaruhi persepsi > “pro-kontra” figurnya.. > > Jika kita tarik tren garis pertumbuhan, tampak jelas > surplus neraca > perdagangan (ekspor dikurangi impor) berada jauh di atas > pertumbuhan > cadangan devisa. Dari sisi investasi, tren dana asing yang > tertanam > dalam perekonomian (FDI: Foreign Direct Investment) berada > dibawah > tren cadangan devisa. > > Data indikator sistem pembayaran (RTGS: Real Time Gross > Settlement) > Bank Indonesia (BI), menunjukan beban pengelolaan moneter > di bulan Mei > 2009 adalah 19,35% dari total transaksi RTGS. Lalu, jika > dikaitkan > dengan arus portopolio (FPI: Foreign Portpolio Investment) > Bursa Efek > Indonesia (BEI) di bulan yang sama, maka total transaksi > Bursa adalah > 20,45% dari total transaksi nasabah RTGS. > > Struktur lalu lintas dana sistem keuangan Indonesia adalah > arus kas > dari Cadangan Devisa. Artinya, terindikasi cukup kuat, > beban moneter > dalam stabilisasi nilai tukar Rupiah (IDR) atas Dolar > Amerika (USD) > lebih diakibatkan terlalu aktifnya arus FPI, tanpa > signifikansi > diiringi masuknya FDI-nya. > > Di neraca perdagangan, ekspor akan menghasilkan devisa dan > impor akan > mengurasnya. Di neraca pembayaran, jika asing (FPI) > melakukan aksi > jual portopolio akan menguras cadangan USD dan ketika masuk > akan > memperkuatnya. Inilah yang disebut uang panas (hot money), > karena > sifatnya untuk tertanam bisa dalam hitungan detik > keluar-masuk. > Sementara transaksi riil (ekspor-impor) tidak secepat itu. > > Masalah struktural, transaksi portopolio 59% ditangan asing > (Mei > 2009). Konsukuensinya, transmisi ambil-untung (Capital > Gain) jual-beli > saham berada di tangan asing, yang membuat nilai tukar > IDR-USD akan > bergerak mengikutinya. Itulah fakta yang terlihat dari pola > turun-naik > Indeks BEI dari detik ke detik searah dengan pola turun > naik IDR-USD > di pasar uang. > > Lihat saja pola perdagangan sepanjang pekan lalu. Dimana, > posisi jarak > fluktuasi (tertinggi dikurangi terendah) Indeks BEI berada > di posisi > rata-rata fluktuasi harian sebesar 22,68 poin dan Kurs > IDR-USD sebesar > 100 poin. > > Sebagaimana sering saya tulis di kolom Gatra tentang > pemetaan arus > dana portopolio negara berkembang adalah untuk membiayai > krisis arus > kas negara maju. Posisi minggu lalu pun menunjukan hal yang > sama, > yaitu pelemahan terbesar terjadi di hari Kamis saat > rekening devisa > negara maju tutup buku mingguan. > > Perspektifnya, jika kita hanya melihat posisi nilai tukar > Rp-USD di > posisi kurs penutupan harian, maka kita tak akan > mendapatkan makna > “betapa transaksi FPI telah mengerogoti cadangan devisa > negeri”. > Karena didalam perjalanan transaksi kurs BI akan melakukan > stabilisasi > nilai tukar secara aktif di pasar uang, yaitu melalui > instrumen OPT > (Operasi Pasar Terbuka). > > Itulah kenapa Indeks BEI, meski terlihat menaik ke titik > atas baru, > tapi tetap memiliki pola fluktuasi naik-turun untuk ambil > untung. > Disisi lain, transaksi rata-rata harian BEI bulan Mei 2009 > yang > kembali menembus angka rekor baru, yaitu Rp6,5Triliun (naik > 66,7% > dibandingkan April 2009). > > Data rekening efek portopolio tidak menunjukan adanya > “pemain baru”. > Jadi kenaikan transaksi FPI terindikasi pemain lama > “memutar-mutar > barangnya” atau bahasa hukumnya sebagaimana diatur dalam > Undang Undang > Pasar Modal pasal 91 adalah “transaksi tanpa perpindahan > kepemilikan > efek”. > > Kenapa mutar-mutar ke atas? Bukankah hanya akan jadi biaya > bagi > pemegang portopolio? Jika kita berpikir melihat transaksi > BEI secara > parsial, maknanya tak akan tampak. Tapi, jika > mempersandingkan denyut > transaksi BEI dan pasar kurs, maka keuntungan akan > diperoleh dari > selisih nilai tukar (arbitrase). > > Kalau penganut aliran pasar mau konsisten dengan nilai > tukar bebas, > maka harusnya OPT tidak perlu dilakukan dikarenakan semua > diserahkan > ke pasar. Jadi, kalaupun arbitrase saham-kurs terjadi, maka > yang > untung-rugi hanyalah di pelaku pasar (zero sum game). > > Tipisnya investor lokal yang tak lebih dari 1% penduduk > dewasa sangat > tidak seimbang dengan transaksi maupun fluktuasi saham-kurs > di pasar. > Secara struktural, Devisa dari Ekspor (itupun kalau dananya > tidak > diparkir di Bank luar negeri) akan sangat terganggu oleh > beban arus > keluar portopolio. Dari sisi ini, OPT menjadi “denyut > arbitrase” > saham-kurs. Pilihan lain memperkecil OPT, berupa > pendisiplinan pasar > oleh Bapepam-LK “nyaris tak terdengar”. > > OPT menjadi rutinitas. Karena meski posisi ekspor > menunjukan Surplus, > data tren pertumbuhan impor barang konsumsi menunjukan tren > meningkat. > Garis tren impor barang konsumsi berada di atas garis tren > total impor > itu sendiri. Kondisi itu, memaksa BI menjaga Inflasi jangka > pendek > dengan menjaga nilai tukar Rp-USD. > > Isu kesenjangan neraca perdagangan dan devisa seharusnya > dibahas > secara serius oleh tiga pasangan Calon Pemimpin negeri ini. > Komunikasi > politik-ekonomi untuk menanamkan (kembali) akar daulat > rakyat. > Menjamin rakyat bekerja penuh di sistem ekonomi (produksi) > sebagai > sumber daya belinya (konsumsi). Itulah jiwa dari > pengendalian Devisa > sebagai arus sistem Jaminan Sosial Negara. Merdeka! > > [Yanuar Rizky, www.elrizky.net, Analis Independen Aspirasi > Indonesia > Research Institute (AIR Inti), Presiden Organisasi Pekerja > Seluruh > Indonesia (OPSI)] > > > ------------------------------------ > > ===================================================== > Pojok Milis Komunitas Forum Pembaca KOMPAS [FPK] : > > 1.Milis Komunitas FPK dibuat dan diurus oleh pembaca setia > KOMPAS > > 2.Topik bahasan disarankan bersumber dari http://epaper.kompas.com/ , > http://kompas.com/ dan http://kompasiana.com/ > > 3.Moderator berhak memuat,menolak dan mengedit E-mail > sebelum diteruskan ke anggota > > 4.Moderator E-mail: [email protected] > [email protected] > > 5.Untuk bergabung: [email protected] > > KOMPAS LINTAS GENERASI > ===================================================== > Yahoo! Groups Links > > > mailto:[email protected] > > > "Coba Yahoo! Mail baru yang LEBIH CEPAT. Rasakan bedanya sekarang! http://id.mail.yahoo.com"

