Reflekis :  Dirgahuyu  NKRI! hehehehehe

http://www.lampungpost.com/cetak/berita.php?id=2009062706283070

      Sabtu, 27 Juni 2009 
     

      OPINI 
     
     
     

NUANSA: Biaya Sekolah dan Buku Rapor 


      SABTU (20-6) pagi, hari itu waktunya pembagian rapor bagi anak sekolah. 
Meski masih di kelas playgroup, anakku juga dibagikan buku rapor.

      Berangkat dari rumah ibuku di daerah Pahoman, Bandar Lampung, dengan 
mengendarai skuter matic, aku membawa anakku menuju sekolahnya di daerah 
Kedaton. Sampai di sekolah anakku, seorang gadis tanggung yang dulu pernah 
menjadi anak asuh ibuku telah duduk menunggu.

      Memang, kami sudah membuat janji untuk bertemu. Ibuku menitipkan sedikit 
uang untuk membantu biaya sekolahnya yang sudah di tingkat SMP.

      Ku lihat, matanya sedikit sembab. Entah habis menangis atau baru bangun 
tidur, tidak sempat kutanyakan. Yang terlontar dari mulutku justru pertanyaan 
lain yang menurutku lebih penting. Sebab, ku dengar ibuku mengirim uang untuk 
membantunya agar bisa mengambil rapor.

      Sudah menjadi kebiasaaan pihak sekolah, apalagi sekolah swasta, tidak 
memberikan buku rapor siswa, jika hal-hal yang menyangkut uang belum dilunasi.

      "Memangnya, berapa kekurangan uang yang belum dibayar," tanyaku.

      "Masih banyak," jawabnya lemah tanpa menyebutkan nilai uangnya.

      "Ya, banyaknya berapa," ujarku penasaran.

      "Lebih dari Rp500 ribu," ujarnya.

      Hah...sebanyak itu? Sementara kiriman bantuan yang diperolehnya hanya 
mencapai setengah biaya yang harus dibayar untuk bisa menebus buku rapornya di 
sekolah. Aku pun mengira-ngira, mungkin matanya sembab habis menangis karena 
tidak bisa mengambil rapor.

      Aku bingung, saat itu, aku juga tidak memegang uang lebih. Lagi pula, 
kekurangannya cukup banyak. Aku tidak mampu membantunya.

      Aku berpikir, berapa banyak anak seperti dia yang tidak sanggup membayar 
biaya sekolah. Sehingga di akhir tahun pelajaran, dia tidak bisa mengetahui 
hasil evaluasinya selama menempuh pelajaran.

      Bagaimana dengan teknis pelaksanaan sekolah gratis yang 
digembar-gemborkan pemerintah. Mengapa hanya menjangkau sekolah negeri. 
Sementara, seperti nasib anak itu yang terlahir di keluarga miskin dengan otak 
pas-pasan tidak bisa menembus sekolah negeri. Akibatnya, sekolah swasta yang 
entah bagaimana mutunya menjadi pilihan hanya sekadar bisa melanjutkan sekolah.

      Si ibu yang membanting tulang membiayai tiga anaknya tanpa ayah 
mendampingi, tidak sanggup membayar biaya sekolahnya. Mungkin, mereka berpikir 
yang penting sekolah dulu. Nanti, menjelang kelulusan baru pontang-panting 
mencari pinjaman untuk melunasi semua biaya sehingga bisa melanjutkan ke 
jenjang berikutnya.

      Mereka hidup seperti air sungai yang mengalir. Tapi, sampai kapan 
kejadian seperti ini terus terjadi. Bagaimana nasib anak-anak lain yang bahkan 
tidak bisa mengenyam pendidikan formal. Semoga presiden mendatang punya jawaban 
masalah ini. n NOVA LIDARNI
     


[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke