http://www.lampungpost.com/cetak/berita.php?id=2009062606552971
Jum'at, 26 Juni 2009
OPINI
Agama, Variabel Kontrol atau Perilaku?
Hardi Hamzah,
Peneliti Madya pada Institute for Studies and Consultation of Social
Sciences (INSCISS)
Agama, kita terkadang hanya memandangnya sebagai variabel kontrol. Kata
memandang di sini patut digaris bawahi, karena kata memandang identik dengan
persepsi.
Apabila agama terkristal menjadi persepsi, agama, sebagaimana yang kerap
diungkap para teolog modern, hanya sekadar menguatkan mobilitas seremoni,
ritual, dan kekosongan diri terhadap nilai-nilai filsafati, doktrin, dan
pijakannya hanya pada das sollen semata .
Sebagai resultan dari persepsi itu, agama kerap dianggap perangkat
persoalan, jauh dari perangkat kerja. Artinya, agama tidak dilihat sebagai
kualitas prilaku, yang pada gilirannya terimplementasi pada kehidupan
sehari-hari. Dalam konteks pergumulan agama pada dimensi persepsi, terbuka
peluang reintepretasi baru tentang agama itu sendiri. Jauh-jauh sebelum Islam
lahir, ada agama berhala, Zoroaster, Nabi Daud dengan Kitab Zabur, Musa dengan
Taurat, Isa dengan Injil, yang semuanya mengajarkan kebenaran bukan hanya untuk
mengontrol kesalahan.
Ketika Alquran diturunkan, Islam sebagai agama yang dibawanya, menjadikan
Rasulullah saw. membawa hukum kausalitas dan menginterpretasikan agama menjadi
dimensi faktual dan empirik. Rasulullah saw. berpuluh kali berperang,
berdagang, menyantuni anak yatim, dan melakukan berbagai aspek sosial dalam
proses zamannya.
Kini, setelah kalender hijriah menunjuk pada angka 1430, yang
mengindikasikan perjuangan nabi bergulat di tataran kausalitas antara presepsi
dan interpretasi, Islam justru tercabik-cabik dan ditekuk-tekuk di tengah
gelombang paradoks antara sekularisme dan Islam atas nama hak asasi manusia.
Pokok-pokok pikiran yang diperkenalkan Al-Farabi, memberi pelajaran yang
amat baik pada kita, bahwa semangat agama (Islam), telah menjadi suatu
mekanisme penjelmaan dari nilai-nilai Islam itu sendiri. Semisal ketika
Al-Farabi mengenalkan tentang sistem politik yang nuansanya tauhid, di mana ia
menjelaskan dimensi tauhid yang dimunculkan dari rukun iman dalam pemilahan
untuk mengaktualisasikan interaksi antara rukun iman itu sendiri. Al-Farabi
sampai pada kesimpulan bahwa politik dalam islam ekuivalen dengan merajut
kebenaran dan menjalankan kebijakan dari seorang pemimpin.
Sementara kristalisasi Islam, dalam pergumulannya yang panjang justru di
masyarakat yang mayoritas penduduknya Islam katakanlah seperti Indonesia, dus
melahirkan problem-problem pseudo (semu) yang pada akhirnya melahirkan
moralitas ganda.
Rambahan Islam sebagai variabel kontrol, hanyalah inherenitas antara
ketidaksenyawaan liberalisasi dan Islam; sekularisme dan modernisme Islam; yang
juga bagian dari persoalan pemimpin di Republik ini. Islam di Indonesia
berjalan secara linear, ia melaju cepat melalui ritual, jauh dari implementasi
kehidupan. Sementara anehnya, tak jarang pula kita "mengintip" kesalahan agama
lain.
Agama, seperti yang diungkap Ibnu Khaldun, adalah manifestasi kejiwaan
yang hakiki. Hakikatnya, agama mengindikasikan kebenaran hidup, kebenaran jiwa
yang ditampakkan melalui prilaku. Kalau agama mengajarkan kebaikan, berarti,
lanjut Khaldun, agama adalah diri kita yang melakukan segala sesuatunya dengan
baik. Dan dalam konvergensi tauhid, agama menjadi proses perbaikan masyarakat,
lanjut Khaldun.
Kalaulah agama disatukan pada selaput kehidupan diri manusia, agama sudah
jauh dari proses prilaku itu sendiri. Di Indonesia, agama disatukan dalam
negara (baca: sekularisme). Ada cerita kiai politik, ada cerita kiai
mengharamkan dirinya, ada cerita sah naik haji bila diinjeksi dengan lemak
babi, bahkan secara sederhana dalam KTP kita yang ber-Islam ini, banyak di
antara kita dan atau para pemimpin kita yang mengucap basmallah, kemudian
menandatangani untuk KKN. Yang lebih akut lagi, apabila Islam disempalkan
dengan paradigma di luar nilai-nilai agama itu sendiri. Gus Dur (1996),
mengutip Al-Maududi, melihat kebanyakan di Negara-negara Islam, agama sering
disandingkan dengan paradigma di luar konteks keagamaan. Dengan kata lain,
agama "dipaksa" menjadi variabel kontrol. Dan, mengontrol ketidakberesan untuk
melanjutkan ketidakberesan itu sendiri. Semangat agama sesungguhnya adalah
semangat etos, semangat empati, semangat elan vital yang tinggi. Etos, karena
setidaknya terdapat lebih dari 20 ayat Alquran yang memaknai etos kerja,
empati, lebih mendekat kepada tauhid dan elan vital, adalah pengejawantahan
dari setiap ibadah maghdoh. Demikian pula agama-agama lainnya. Dalam katub
besar inilah, agama semestinya dilihat sebagai dinamisasi dari kehidupan menuju
lebih baik di dunia dan di akhirat.
Namun, agama justru "dihidupkan" di dunia dan "dimatikan di akhirat".
Dalam arti, ritualitas agama menjadi bagian integral dari gaya hidup
postmodernism dan hubungan das sollen tertinggal berdasarkan kemauan hakikat
agama dalam konteks filosofi.
Agama, apakah itu sebagai variabel kontrol dengan nila-nilai normatifnya,
maupun agama yang merekatkan hukum interpretasi, kausalitas dan prilaku, adalah
bicara tentang "kaya", "bijak", "tahu", dan termanifestasi pada kebenaran
hakiki.
Contoh sederhana mekanisme kehidupan manusia, tidak lagi diatur dalam
koridor agama dalam pemahaman yang padat nilai, katakanlah semacam riba. Riba,
dalam perjanjian lama maupun perjanjian baru, terlebih lagi dalam agama Islam
amatlah dilarang. Pada proses ini justru dihayati sesuai semangat
neoliberalisme.
Agama, dari kurun waktu yang berbeda, maupun struktur sosial yang
berlainan, selalu saja bukan hanya sekadar variabel kontrol yang baik,
melainkan juga variabel perilaku setiap insan pemeluknya. Kita terkadang
melupakan sejarah panjang agama, bagaimana agama menyelamatkan kehidupan di
zaman kekaisaran, bagaimana agama menyelamatkan kehidupan di zaman manusia di
tekuk-tekuk oleh alam, dan bagaimana agama menyelamatkan manusia dari proses
kristalisasi nilai atas dasar protes Tuhan. Maka, dalam konteks agama sebagai
variabel kontrol, hendaknya lebih merupakan agama sebagai refleksi prilaku.
Inilah yang kerap kita sebut dengan keinginan luhur amar makruf nahi munkar
[Non-text portions of this message have been removed]