Jawa Pos
[ Selasa, 30 Juni 2009 ] 

 

Paulus Hariyanto Wibisino setelah Umur Kepala Sembilan 

TUHAN telah memberi manusia tubuh lengkap dan sehat. Untuk menjaga karunia 
tersebut, manusia harus pandai menjaga diri. Itulah prinsip yang dipegang oleh 
Paulus Hariyanto Wibisino dalam menjalani hidup ini. Hasilnya, di usia yang 
menginjak 94 tahun pada 2 Oktober mendatang, ayah lima anak tersebut masih 
sehat dan energik.

Hariyanto masih bisa melakukan aktivitas keseharian secara mandiri. Termasuk 
urusan refreshing, seperti beli baju. Dia lebih senang menjalani sendiri. 
"Biasanya, saya jalan-jalan ke Pasar Atum ditemani cucu," ujarnya saat ditemui 
di rumahnya, kawasan Jalan Kranggan, Minggu (28/6).

Bukan itu saja, untuk membuat teh atau susu pada malam ketika lapar, Hariyanto 
tidak pernah memerintah anak bungsunya, Ina Wibisono, 55, atau cucu yang 
tinggal serumah dengan dirinya. Karena itu, kata dia, anaknya baru tidak berani 
meninggalkan sendirian di rumah seandainya dia sakit. "Kalau sehat, saya masih 
bisa melakukan semua sendiri," ujar pria yang terakhir bekerja sebagai agen 
registrasi merek dagang itu.

Hariyanto mengatakan, keinginan untuk tidak merepotkan orang lain, termasuk 
anak sendiri, itu mulai dijalankan sepeninggal sang istri, Endang Yulia, yang 
menutup mata pada 15 Maret 1997. Setelah tidak ada pendamping hidup, dia 
menyatakan harus bisa melayani diri sendiri. "Saya juga tidak ingin jadi beban 
anak atau orang lain pada usia ini," katanya yang mengaku belum pernah sakit 
parah dalam riwayat hidupnya.

Kakek 11 cucu itu selalu berusaha menjaga kesehatan dengan baik. Caranya 
memahami kondisi diri sendiri. Pada usia 93 tahun, dia tentu tidak bisa 
melakukan aktivitas seperti dulu. "Itu yang harus disadari. Saya sekarang 
seperti mobil dengan persneling satu dan dua. Tidak bisa dipaksakan tiga dan 
empat," paparnya.

Selain itu, dia sangat rajin memantau kesehatan pribadi. Dia selalu menensi 
darah tiap hari dengan alat tensi elektrik. Tidak lupa mencatat tekanan darah 
tinggi. "Pagi dan siang, saya selalu tensi," kata pencinta lagu-lagu gending 
Jawa itu.

Di dekat tensi, dia telah menata dengan baik berbagai jenis obat-obatan untuk 
dirinya. Obat-obat itu tersimpan dalam beberapa kotak plastik. Tujuannya, kata 
dia, memudahkan untuk mencari obat jika sakit. "Jika tekanan darah naik, saya 
langsung istirahat," tuturnya.

Pada usia 93 tahun ini, Hariyanto mengaku tidak pernah melakukan olahraga 
seperti masih muda. Kegiatan untuk menjaga kondisinya adalah jalan-jalan dalam 
rumah. Minimal, ketika pagi, dia selalu membuka kunci pintu dan gorden jendela. 
"Setelah itu, ya senam-senam sendiri. Yang penting gerak," ujar pria yang 
senang mendengarkan musik tersebut.

Namun, dia mengungkapkan bahwa ada salah satu hobi sejak kecil yang terlihat 
manfaatnya pada usia sekarang. Yakni, bermain musik alat tiup. Hariyanto sangat 
piawai dalam memainkan harmonika. Hingga sekarang, dia masih mampu melantunkan 
beberapa lagu dengan alat musik tiup tersebut. "Ternyata, alat ini melatih 
pernapasan," tuturnya.

Padahal, selama ini dia belajar harmonika secara otodidak. Menurut cerita 
mamanya, Hariyanto kali pertama memperoleh harmonika pada usia lima tahun. 
"Kala itu, saya sakit dan mama membelikan harmonika buat mainan. Sehingga, 
beliau berharap saya bisa sembuh," kenangnya.

Sejak itu, dia sering menggunakan harmonika, meski asal dalam membunyikannya. 
Baru menginjak usia remaja, dia mengetahui cara mengeluarkan nada dengan 
harmonika. Itu pun tidak dari guru, tapi mendengarkan orang bermain. Berdasar 
pengalaman, Hariyanto memodifikasi sendiri. "Saya bisa mengeluarkan suara bas," 
katanya, lalu memperlihatkan cara bermain yang mengeluarkan bas di harmonika.

Sekarang Hariyanto sering mendendangkan lagu-lagu rohani. Jika ada lagu baru 
yang dia sukai, Hariyanto langsung mempelajari untuk dimainkan dengan 
harmonika. "Pada era 1980-an, saya masih bisa lagu-lagu pop. Kalau lagu 
sekarang, saya sudah tidak bisa," ujarnya.

Soal musik, dia sangat gandrung dengan lagu-lagu Jawa. Lagu-lagu itu menjadi 
teman menjelang tidur malam. Sejak kecil, dia mengenal gending-gending Jawa. 
"Sebab, di depan rumah saya dulu ada sepasang suami istri yang memiliki 
seperangkat gamelan. Mereka tiap hari memainkannya," katanya. (dio/ayi) 



++++

Jawa Pos
[ Selasa, 30 Juni 2009 ] 


Rajin Mencatat Menjaga Ingatan 

SELAIN kesehatan, Paulus Hariyanto Wibisono memiliki daya ingat yang 
mengagumkan. Dia masih bisa menceritakan dengan runtut tentang masa peperangan 
dulu. "Karena perang itu, saya pernah mengungsi di Malang dan Solo," kenangnya.

Hariyanto juga masih ingat tahun kelahiran lima anaknya. Dia mengaku tidak 
punya resep khusus untuk menghindari kepikunan. "Saya lebih banyak diam dalam 
rumah selama ini," ujarnya. Namun, dia mengatakan punya kebiasaan untuk 
mengasah daya ingat. "Yakni, membaca dan mencatat," cetusnya.

Setiap hari, Hariyanto selalu meluangkan waktu untuk membaca berbagai buku. 
Menurut dia, semua buku bagus. Setiap lembar dalam buku selalu dihayati. 
"Karena itu, pada buku yang saya baca, selalu ada tandanya. Mulai stabilo 
hingga tanda garis bawah," katanya.

Dalam satu lembar buku, terdapat bermacam-macam warna sebagai tanda tersebut. 
Hariyanto menyebut, warna membedakan isi tulisan. Misalnya, kata-kata dalam 
Bibel ditandai dengan warna hijau. Itu berarti anjuran yang harus dijalankan. 
"Jadi, ini bukti saya membaca," tuturnya.

Cara membaca tersebut telah dilakoni sejak kecil. Suatu saat, anak pertama di 
antara tujuh bersaudara itu bakal ditanyai tentang isi buku tersebut oleh sang 
papa. "Papa telah membaca sebelumnya. Beliau mengetes, apakah saya membaca atau 
tidak," tutur Hariyanto.

Kakek sebelas cucu itu juga membuat catatan-catatan. Mulai catatan tentang 
kehidupan pribadi, keluarga, hingga kejadian-kejadian yang terjadi saat ini. 
Karena itu, dia tidak pernah ketinggalan membaca koran atau melihat 
berita-berita di televisi. Hariyanto memiliki tempat kerja khusus untuk membuat 
catatan-catatan. 

"Sekarang, saya punya dua buku catatan yang telah dicetak," katanya. Yakni, 
Daun Lontar Untuk Kita Dari Kita (Januari 2007) dan Pernak Pernik Keluarga 
(2008). 

Dia menyebut, bukunya diberikan kepada keluarga sebagai kenangan. "Cucu saya 
yang mengetik naskah untuk buku pertama dengan komputer. Untuk buku kedua, saya 
mengetik naskahnya sendiri dengan mesin ketik. Namun, sebelumnya saya menulis 
konsep dengan tulisan tangan," ucapnya. (dio/ayi)


[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke