http://www.sinarharapan.co.id/cetak/detail-cetak/article/hentikan-politisasi-agama/

Kamis, 02 Juli 2009 15:15 
Hentikan Politisasi Agama
OLEH: HASIBULLAH SATRAWI



Tim Sukses pasangan Jusuf Kalla-Wiranto dan pasangan Susilo Bambang 
Yudhoyono-Boediono kembali bersitegang. Kali ini, ketegangan berawal dari isu 
yang beredar bahwa istri Boediono tidak beragama Islam. Kubu SBY-Boediono 
melaporkan kubu JK-Wiranto ke Bawaslu karena selebaran yang berisi politisasi 
agama di atas dikatakan menyebar di saat kampanye tertutup pasangan JK-Wiranto. 
Sebaliknya, kubu JK-Wiranto menganggap laporan kubu SBY-Boediono salah alamat.


     

Menjadi sangat menarik, karena politisasi agama yang sangat merugikan kubu 
SBY-Boediono itu disinyalir justru dilakukan oleh seseorang yang mengaku 
pendukung (tim sukses?) pasangan ini (Media Indonesia, 29/6). Sudah bisa 
ditebak, kubu SBY-Boediono pasti menolak pengakuan tersebut.
Sangat disayangkan bila tidak ada satu pihak pun yang mau mengakui penyebar isu 
tak sehat itu. Karena hal ini akan semakin memperburuk politisasi agama dan 
iklim perpolitikan nasional. Politisasi agama adalah hal buruk, kondisi 
perpolitikan nasional mutakhir juga kurang lebih sama. Tapi, hal ini bertambah 
buruk lagi karena adanya politik "lempar batu sembunyi tangan" ini. Siapa 
pelaku politisasi agama ini yang sebenar-nya? Hanya kubu SBY-Boediono, kubu 
JK-Wiranto dan Tuhan yang bisa menjawab dengan pasti pertanyaan di atas. Satu 
hal yang pasti, tidak mungkin ada asap bila tidak ada api. Dan juga bisa 
dipastikan, masih ada beberapa politisi busuk yang mencoba bermain dengan isu 
agama di zaman terbuka seperti sekarang. 

Politisasi Agama
Sebelumnya, politisasi jilbab juga menciptakan gesekan panas di pentas 
perpolitikan nasional. Hal ini tak lain karena salah satu dari tiga calon 
presiden yang ada tidak berjilbab, yaitu Megawati Soekarnoputri. Istri pasangan 
SBY-Boediono juga tidak berjilbab. Tak heran bila isu jilbab dianggap 
menguntungkan pasangan JK-Wiranto. Hampir sama dengan persoalan politisasi 
agama di atas, tak ada satu pihak pun yang mau mengakui dan bertanggung jawab.
Wahai para politisi yang terhormat, sudah bukan zamannya lagi memolitisasi 
agama demi kepentingan-kepentingan yang bersifat pragmatis. Selain karena akan 
semakin menjauhkan umat beragama dari nilai-nilai luhur agama, juga karena 
politisasi agama tidak sejalan dengan pendewasaan politik yang sedang berjalan 
kencang dalam kehi-dupan masyarakat saat ini. 


Pendewasaan politik ditandai dengan terbentuknya pola pikir rasional pemilih 
dalam menentukan pilihan politiknya. Hal ini terlihat dengan jelas dalam hasil 
pemilihan kepala daerah yang selama ini berlangsung dan hasil pemilihan 
legislatif kemarin. Pada umumnya dukungan masyarakat diberikan bukan karena ada 
hubungan primordial (seperti agama, ras, ormas, dll) semata, melainkan karena 
hal-hal yang bersifat rasional, seperti program kerja, rekam jejak, dan lain 
sebagainya.


Oleh karena itu, ironis bila politisasi agama seperti di atas masih mewarnai 
iklim politik nasional menjelang pilpres. Hal ini semakin membenarkan tudingan 
banyak pihak yang berkembang selama ini, bahwa para elite politik hanya 
mengedepankan kepentingan mereka sendiri. Sedangkan kepentingan masyarakat 
hanyalah ramai dibicarakan dan diperdebatkan di masa-masa kampanye seperti 
sekarang. Demi kepentingan pragmatis, para elite tak lagi menghargai dan 
menghormati proses pendewasaan politik yang sedang berlangsung. Politisasi 
agama pun kembali dihadirkan dalam jagat perpolitikan. Dengan kata lain, sejauh 
bisa mendongkrak dukungan suara dan menggembosi dukungan lawan, apa pun acap 
dilakukan oleh para politisi kita saat ini. Inilah yang disebut politik 
menghalalkan segala macam cara. 

Indonesia Masa Depan
Harus disadari bersama, politik menghalalkan segala macam cara seperti di atas 
menjadi ancaman serius bagi bangsa ini ke depan. Selain karena dapat mengganjal 
laju pendewasaan masyarakat dalam berpolitik, juga karena politisasi agama akan 
membuat sesuatu yang baik menjadi buruk. Ini karena kebaikan tersebut  
disampaikan dengan cara-cara yang tak terpuji. Itu sebabnya, politik seperti 
ini dikecam keras oleh agama. Meminjam istilah yang populer di dunia fikih, 
al-ghaayah laa tubarriru al-washiilah (suatu tujuan tak boleh ditempuh dengan 
segala macam cara). Sebaliknya, sebuah tujuan baik sejatinya diwujudkan dengan 
cara yang baik pula. 


Dalam konteks ini, pepatah Arab klasik menarik untuk diperhatikan oleh semua 
pihak, terutama para politisi yang menjadi tim sukses pasangan capres-cawapres 
yang ada, yaitu at-thariiqatu awlaa min al-maddah (sebuah cara lebih baik dari 
sebuah materi).


Dalam konteks perpolitikan nasional mutakhir, pepatah di atas berarti bahwa 
tujuan baik dalam mengikuti pilpres (untuk mengabdi kepada masyarakat) harus 
disampaikan dengan cara-cara yang baik pula; bahwa program yang dikatakan pro 
rakyat harus disampaikan dengan cara-cara yang memerhatikan kondisi dan 
kemaslahatan rakyat; dan bahwa strategi pemenangan dalam pilpres mendatang 
harus memerhatikan perkembangan proses pendewasaan politik yang ada di 
masyarakat. Terkecuali para politisi memang tidak pernah berniat mewujudkan apa 
yang mereka katakan sebagai kemaslahatan rakyat ataupun pro rakyat, melainkan 
hanya sebagai magnet politik untuk kepentingan mereka dan kelompoknya sendiri!


Oleh karena itu, sejatinya semua pihak meninggalkan praktik politisasi agama 
dan simbol-simbol primordial lainnya. Ke depan, iklim perpolitikan nasional 
harus disterilkan dari politik-politik rendahan seperti ini. Hanya dengan cara 
ini, pendewasaan politik masyarakat yang sedang berlangsung akan semakin 
matang. Hanya dengan cara ini, demokratisasi yang sedang berjalan akan 
memberikan hasil manis bagi kehidupan bangsa dan negara. Hanya dengan cara ini 
pula, bangasa ini akan semakin mendekati cita-citanya semula, yaitu yang 
disebut Bung Karno sebagai negara (Indonesia) untuk semua.
Indonesia untuk semua berarti, semua yang ada di atas bumi Indonesia mempunyai 
hak yang sama untuk memberikan yang terbaik bagi bangsa ini, termasauk dalam 
hal perpolitikan dan kekuasaan. Apa pun ras, suku, warna kulit, agama dan 
komunitasnya. Sejauh demi kemaslahatan Indonesia untuk semua, kalangan 
minoritas tidak mempunyai halangan untuk memimpin bangsa ini. Selama demi 
memakmurkan bumi Indonesia untuk semua, mereka yang ada di atas Bumi Pertiwi 
(tanpa terkecuali) mempunyai hak yang sama untuk memberikan yang terbaik bagi 
bangsa ini. 

Penulis adalah peneliti pada Moderate Muslim Society (MMS) Jakarta.


[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke