DR. Vedi R. Hadiz: Gerakan
Progresif Harus Merampas Kembali Diskursus Anti-neoliberalisme 

   

http://indoprogress.blogspot.com/2009/07/dr-vedi-r-hadiz-gerakan-progresif-harus.html
 

   

KONTROVERSI soal isu
neoliberalisme versus ekonomi kerakyatan, yang muncul dalam masa pemilihan
presiden (Pilpres), membuat Pilpres kali ini terasa beda ketimbang Pilpres
sebelumnya. Pada Pilpres 2004, sama sekali tidak ada isu strategis berbeda yang
diusung masing-masing kandidat. Pada saat itu, "politik pencitraan"
sangat menentukan.



Tentu saja, momentum debat publik ini menarik untuk dipertegas posisinya baik
secara teoritis maupun kebijakan. Untuk itu, Coen Husain Pontoh
dari IndoPROGRESS, mewawancarai DR. Vedi R. Hadiz, associate
professor di National University 
 of Singapore (NUS).
Berikat petikannya:



IndoPROGRESS (IP): secara umum, bagaimana anda
memperhatikan debat publik soal neoliberlisme vs kerakyatan menjelang Pilpres
ini?



Vedi R. Hadiz (VRH): Perdebatannya tak berisi.
Isyunya hanya digulirkan secara oportunis dalam rangka memenangkan pemilu.



IP: Mengapa isu
neoliberal ini baru mendapat perhatian elite setelah 10 tahun reformasi?



VRH: Untuk memanfaatkan semangat
anti-neoliberalisme yang berkembang di segala penjuru dunia, akibat krisis
ekonomi global. Segelintir elite di Indonesia, mendapatkan ide untuk
menggunakan semangat tersebut guna kepentingan memenangkan pemilu, karena
menyadari bahwa sentimen anti-neoliberalisme dapat juga dimobilisasi di
Indonesia, terutama di kalangan orang-orang yang merasa teralienasi dari sistem
ekonomi, yang gusar dengan ketidakadilan sosial, dan yang selama ini frustrasi
karena kondisi ekonominya tidak meningkat.



IP: Bisakah anda menjabarkan, apa sebenarnya esensi
dari neoliberalisme itu?



VRH: Neoliberalisme adalah suatu ideologi, seperti
juga komunisme dan ideologi lain. Tetapi, dalam 30 tahun terakhir
neoliberalisme telah dibungkus sedemikian rupa sehingga tampak sebagai ilmu
pengetahuan yang obyektif dan netral.



Neoliberalisme berkaitan tetapi tidak sama dengan
liberalisme klasik dalam asumsi-asumsi dasarnya. Misalnya, liberalisme klasik
mengaggungkan kebebasan individu, tetapi dalam neoliberalisme kebebasan
individu diterjemahkan dalam kebebasan individu untuk berpartisipasi dalam
transaksi pasar bebas. Sebagai ideologi, neoliberalisme bersifat utopian juga
-- dalam hal ini 'utopia' neoliberal adalah masyarakat dunia yang ditandai oleh
transaksi tak berkesudahan (infinite transactions) yang terjadi tanpa rintangan.
Segala hubungan sosial juga cenderung direduksi sebagai bentuk transaksi yang
diikuti oleh individu menurut logika 'rasionalitas' pasar bebas yang
berkekspansi secara terus menerus. Dalam bentuk kebijaksanaan, neoliberalisme
cenderung mengurangi peranan negara dalam ekonomi dan berbagai urusan
masyarakat, mengurangi jasa pelayanan sosial, mendukung privatisasi, dan
bersifat anti-serikat buruh.



Belakangan neoliberalisme mengedepankan finansialisasi
perekonomian dunia, yang pada dasarnya dimungkinkan karena di negeri-neger
seperti Amerika Serikat, terjadi pemindahan secara riil kekayaan dari
masyarakat bawah ke masyarakat atas (lewat pemotongan pajak bagi orang kaya,
dll). Hal ini terlihat dalam jurang kekayaan yang makin melebar di situ, dengan
kekayaan yang bertumpuk pada masyarakat 1 per sen teratas dan semakin
terputusnya bagian yang besar masyarakat dari pelayanan sosial seperti asuransi
kesehatan. Tadinya disangka bahwa orang kaya akan melakukan investasi secara
produktif, tetapi ternyata mereka berspekulasi dalam pasar modal dan instrtumen
finansial yang kini dicap 'beracun,' padahal dulunya dianggap 'inovatif'. Maka
terjadilah pemisahan antara kekayaan virtual yang terkumpul lewat sektor
finansial yang semakin tak di-regulasi dan produktivitas sektor riil -- hal
yang membawa pada krisis ekonomi global.



IP: Bagaimana dampak kebijakan neoliberal ini pada
rakyat pekerja?



VRH: Umumnya merugikan karena biasanya efisiensi
didorong dengan pengorbanan rakyat pekerja. Misalnya lewat PHK, outsourcing,
pelemahan serikat buruh, dan pengurangan pendapatan riil.



IP: Kemudian, apa sebenarnya yang anda pahami
dengan ekonomi kerakyatan? Apakah ada basis filosofis dari paham ini?



VRH: Ekonomi kerkayatan adalah istilah kabur yang
bisa dipakai oleh kaum fasis sampai kaum komunis. Orang yang menjual utopia
keagamaan Kristen, Islam, Buddha, Hindu dsb, bisa juga memakai istilah ini. 
Untuk
mempunya arti, ekonomi kerakyatan harus diterjemahkan dalam bentuk program
konkrit. Di Indonesia, perdebatan tidak pernah sejauh itu. Bahkan jarang ada
referensi pada model-model nyata. Paling-paling yang dilakukan adalah
memanfaatkan nostalgia dan romantisme mengenai kepahlawanan para 'founding
fathers'.



IP: Pada ranah kebijakan publik, seperti apa wujud
dari ekonomi kerakyatan itu?



VRH: Sekali lagi, ekonomi kerakyatan tidak punya
makna dan wujud instrinsik kecuali diterjemahkan dalam kebijaksaan dan program
konkrit.



IP: Bagaimana gerakan progresif mengambil sikap di
hadapan debat publik dua “pendekatan” tersebut?



VRH: Sedihnya, diskursus anti-neoliberalisme telah
dirampas dari gerakan progresif oleh para predator politik ekonomi, bukan anti
anti-neoliberal juga. Prabowo, misalnya, adalah anak tokoh senior di kalangan
teknokrat Indonesia yang cenderung semakin berorientasi neoliberal, terutama di
tahun 1980-an ketika neoliberalisme semakin menjadi ortodoksi dalam pemikiran
ekonomi di dunia. Sekaligus dia menantu Soeharto yang predator kakap. 



Gerakan progresif mestinya bisa merampas kembali diskursus
anti-neoliberalisme dari orang-orang seperti Prabowo, Kalla dsb, dengan
menunjukkan bagaimana orang-orang sejenis mereka mengeruk keuntungan dari
persetubuhan yang terjadi di Indonesia -- sejak zaman Soeharto hingga sekarang
-- antara neoliberalisme dan predatory capitalism. Persetubuhan tersebut
mendorong korupsi yang mendalam, menyebar dan sistematis, pemupukan hutang luar
negeri, degradasi lingkungan hidup dan perampasan hak ekonomi dan sosial orang
biasa.*** 

Silah kunjung
pula 

Kumpulan Artikel :
Neoliberalisme, Krisis Kapitalisme dan Wacana Tandingnya 

   

http://lenteradiatasbukit.blogspot.com/2009/06/kumpulan-artikel-neoliberalisme-krisis.html
 

   

   

Definisi Singkat
Neoliberalisme - Elizabeth Martinez dan Arnoldo Garcia

Neoliberalisme - Revrisond Baswir

Ekonomi Kerakyatan vs Neoliberalisme (Revrisond Baswir – Tim Ahli Pusat Ekonomi
Kerakyatan)

Jalan Neoliberal Pak Bud - Revrisond Baswir 

Agenda Indonesia : Sebuah Bangsa hanya Dibentuk dengan Sengaja - Herry Priyono

Neoliberalisme – Kolonisasi Homo Ekonomikus dan Homo Finansialis - B
Herry-Priyono  

Sesat
Neoliberalisme – B. Herry Priyono 

Neoliberalisme
dan Sifat Elusif Kebebasan - B Herry-Priyono :

The End of Laissez-Faire - Sri-Edi Swasono

Mewaspadai Neoliberalisme - Sri Edi Swasono 

Apa Neoliberalisme Itu?- Kwik Kian Gie 

Kerakyatan vs Neoliberal - Ichsanudin Noorsy 

Washington Concencus
vs Jakarta Concencus - Prof Nizam Jim Wiryawan PhD Guru Besar dalam bidang Ilmu
Bisnis Internasional,

Reformasi Ekonomi, Konsensus Washington, dan Rintangan Politik - Ahmad Erani
Yustika Staf Pengajar Fakultas Ekonomi Universitas Brawijaya dan Kandidat
Doktor di University of Göttingen, Jerman

Neoliberalisme dan Warganegara - I Wibowo (ditor buku “Neoliberalisme”
(Yogyakarta, Cindelaras: 2003)

Neoliberalisme Kena Batunya - Martin Manurung 

Neoliberalisme
Telah Mati - Akhmad Kusaeni

Lonceng Kematian Era Pasar Bebas - Joni Murti Mulyo Aji

Menelanjangi Liberalisme - Ahmad Erani Yustika 

Kosmologi Krisis Moneter - Yasraf Amir Piliang

Rakus – Caping Gunawan Muhammad

Ekonomi Pancasila, Ekonomi Rakyat, ataukah Ekonomi Kerakyatan?

Yayasan Mubyarto (YasMuby) Jogjakarta dan Mubyarto Institute (Mubins)

Sejarah dan Kebhinekaan: Merumuskan Kembali Keindonesiaan - I Gusti Agung Ayu
Ratih Kita,

FORMASI NEGARA NEOLIBERAL DAN KEBANGKITAN KOMUNALISME - Eric Hiariej 

Good Governance dan Mitos Ketatanegaraan Neoliberal - R. Herlambang Perdana
Wiratraman

KAPITALISME BENCANA DAN BENCANA KAPITALISME – Don Marut

Neoliberal dan Kejahatan Multinasional - Bonnie Setiawan (IGJ) 

Rekayasa Merawat Neoliberalisme: Menggagas Kembali Peran Teknologi untuk
Akumulasi Laba - Yanuar Nugroho 

Krisis Keuangan Global : Karl Marx di Aspal Jalan Dunia Datar 

Tiada Ekonomi Kerakyatan Tanpa Penghapusan Utang - Dani Setiawan – Ketua KAU

Krisis Ekonomi Global dan Sosialisme buat Kaum Kaya - Irwansyah

Memang, tak mungkin sistem kapitalisme tanpa krisis - Ken Budha Kusumandaru

Analisis Pasangan Yudhoyono – Boediono - Fahmy Radhy (Dosen FEB UGM dan
Direktur Eksekutif Mubyarto Institute) 

Track Record : Bisnis Capres Cawapres - Dr George Aditjondro

Pemilu Presiden 2009, Mengukuhkan Jalan Rente Ekonomi dan Kekuasaan Politik
Modal

Lumpur Lapindo dan Praktek Neoliberal - Firdaus Cahyadi

Negosiasi Pertanian WTO Dirancang Untuk Memperparah Kelaparan Di Dunia - Aileen
Kwa

Tidak Ada Ekonomi Kerakyatan Tanpa Reforma Agraria - Henry Saragih 

Rezim SBY-JK Gagal Laksanakan Pembaruan Agraria

Rebutan Pangan : TNC dan Penghancuran Petani - Mansour Fakiq

Seized : Perampasan Tanah untuk Ketahanan Pangan dan Keuangan 2008

Noer Fauzi Gelombang Baru Reforma Agraria Di Awal Abad ke-21 

PLN Korban Neolib - Ir A Daryoko – Ketua Umum Serikat
Pekerja BUMN Strategis

Prosa Tanpa Tanda Seru : Refleksi Persoalan Globalisasi - Puthut EA

Siklus Politik Neoliberal: “Penyesuaian” Amerika Latin Menuju Kemiskinan dan
Kemakmuran di Era Pasar Bebas - James Petras

Sebuah Pengantar Tentang Ambruknya Wall Street - Walden Bello

Krisis Finansial Global: Dampaknya terhadap Asia - Reihana Mohideen

Krisis Wall Street: Rakyat Miskin Lagi-lagi Talangi Orang Kaya - Peter Boyle

Venezuela dan Sekutu Amerika Selatannya Majukan Integrasi - James Suggett 





      

[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke